Kamis, 04 Desember 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 4)


Pak Sopir mengendarai bus dengan tenang, seolah-olah ini hari pagi minggu yang cerah. Tak perlu terburu-buru. Bus ini sebentar-sebentar berhenti pada halte yang telah ditetapkan. Jalanan bersih, dan lengang.  Tak kelihatan satu biji pun kendaraan roda dua. Sebaliknya, mobil mewah berserakan.

Jalanaan yang lengang di pagi hari - Abu Dhabi

Hampir  satu jam berkeliling naik bus dalam suasana pagi yang menyenangkan.  Cukup berguna untuk turis kere yang tak punya tujuan pasti. Hanya  ending acara naik bus pagi ini kurang menyenangkan. Katakanlah saya salah naik bus. Pemberhentian terakhir bukan di Marina Mall, namun di Abu Dhabi Mall. Tapi tak apa, toh juga sama-sama mall.

Masih pagi. Banyak outlet yang belum buka. Di pintu depan mall, ada sebuah loket bus hop-on hop-off yang menawarkan one day tour. Cocok untuk turis-turis transit yang melakukan perjalanan lintas benua.

Saya melipir mundur ketika tahu untuk acara satu hari tour harus merogoh kocek sekitar 950 ribu rupiah. Lebih baik saya kembali nai bus umum dan berkeliling sampai bego. Tahu berapa ongkos naik bus dari bandara ke Abu Dhabi Mall? Saya hanya perlu merogoh 4 dirham, atau sekitar 12 ribu rupiah.

Mall Abu Dhabi berisi deretan toko barang-barang mahal. Merek-merek sama yang masih bisa saya temukan di Mall Grand Indonesia, Jakarta. Tak ada yang sanggup saya beli di sini.  Jadi ketimbang sakit hati, sebaiknya saya segera melipir pergi.

Mall Abu Dhabi

Ada baiknya mengisi perut saja. Terakhir saya makan di dalam pesawat.  Otak  butuh nutrisi agar dapat bekerja cemerlang. Ingat, dalam perjalanan, kawan harus penuh  improvisasi dan panjang akal. 

Karena tak akan saya temukan gerobak yang menjual bubur ayam, maka saya menuju depot makan Subway tepat di seberang mall. Melahap cepat sebuah burger berisi meat ball yang rasanya enak banget. Untunglah enak, jadi saya tak sia-sia membayar mahal.  Harga burger di sini tak jauh beda dengan di Chicago. Sekali lagi, Abu Dhabi  tak cocok untuk turis kere.

Kenyang perut, hati tenang, dan saya naik bis lagi menuju Marina Mall. Tak begitu jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menit.  

Semula saya membayangkan Abu Dhabi sedikit mirip Arab Saudi. Mengingat waktu umroh, bahkan di Jeddah tak ada perempuan yang berkeliaran jalan sendirian. Jadi dengan alasan keselamatan, saya mengambil inisiatif untuk  mengenakan gamis.

Duh…duh, kali ini saya salah langkah. Ketika sampai di pusat kota,  suddently saya merasa Saltum alias salah kostum. Di Abu Dhabi, meski masih Timur Tengah, totally different dari Arab Saudi. Barangkali karena banyak pendatang dan ekspatriat, sehingga gaya berpakaiannya sudah modern. Bahkan keturunan arab sekalipun berpakaian sangat modern.

Saltum- Abu Dhabi

Beberapa kali saya dikira orang Filipina. Namun tak peduli Filipina atau Indonesia, kedua negara ini memilikin imej sebagai negera pengimport tenaga kerja informal terbanyak di Uni Emirates Arab. Saya membayangkan saya terlihat seperti TKW tersesat yang melarikan diri dari majikan.

Marina Mall lebih besar dan lebih baru dari Abu Dhabi Mall. Dan tetap saja tak ada yang sanggup saya beli di sini. Tepat di seberang mall ini, terdapat breakwater, semacam pantai buatan, yang menyusur di sepanjang  Corniche Road. Puluhan perahu layar, boat, dan yacht kecil bersandar.  Ada terlalu banyak milyuner di kota ini.

Boat, yacht, kapal layar kecil, dan sejenisnya- Abu Dhabi

Hari yang cerah. Banyak pula pengunjung yang berjemur, memancing, naik sepeda, jogging, atau sekedar duduk-duduk.  Dalam ingatan saya, inilah tempat paling menarik setelah Syeikh Jayed Mosque.

Emirates Palace, terletak hampir di ujung jalan Corniche. Sebuah hotel maha mewah, saking mewahnya sampai menjadi attractive place di Abu Dhabi. Setelah memotret (hanya) gerbangnya saja, saya kembali menelusuri peta. Ada satu tempat lagi: Heritage village yang konon katanya masih berada di kawasan Corniche Road juga.

 Matahari terik menyengat, sementara sehari sebelumnya saya hampir mati kedinginan di Chicago. Semangat jalan-jalan memang membuat fisik menjadi begitu kuat.

Bersimbah keringat, dan sepanjang penelusuran di jalan Corniche, tak saya temukan tanda-tanda plang nama Herritage Village.

Hilang minat saya. Sepertinya juga bukan tempat wajib untuk dikunjungi.  Lebih baik duduk-duduk di Corniche Beach sembari menguapkan keringat.

Gerbang- Emirates Palace- Abu Dhabi

Emitates Palace dari kejauhan- Abu Dhabi

Selama perjalanan saya tak membeli layanan data roaming.  Berselancar selama ini semata-mata hanya mengandalkan jaringan wifi.  Ada baiknya mencari teman mengobrol. Sudah sedari tadi malam saya hanya mengobrol dengan diri sendiri.


Seorang bapak-bapak setengah baya tampak asik memancing. Yang membuat menarik, alat pancingnya yang super duper panjang. Baru kali itu saya melihat alat pancing begitu panjang. Bahkan di televisi pun saya tak pernah melihat. Lebih dari 30 meter  ia rentangkan kailnya itu di pantai buatan yang dangkal.

Awalnya saya berbasa-basi tentang betapa hebatnya alat pancing tersebut. Lumayan, 20 menit perbincangan basa basi. Si bapak lucu, dan tentu saja sedikit ganjen.  Setengah berlari ketika saya meninggalkan si bapak yang terdengar berseru, “Hey, I want to kiss you!”.

Corniche Road yang menyenangkan- Abu Dhabi

Selepas menuntaskan makan siang di Marina Mall, saya berdiri manis di halte bus. Hampir semua bus yang stop saya tanyai, “Are you going to Grand Mosque?”

Sampai pada bus ke-6, pertanyaan saya dijawab dengan anggukan si abang sopir.

Saya duduk di deretan paling depan, bersebelahan dengan wanita india yang bau rempah ditubuhnya tercium kuat.
Saya punya janji sore ini di Syeikh Jayed Grand Mosque

Iya, janji pada diri sendiri.

----
Bagaimana cerita saya di Mesjid Termegah se-Uni Emirates Arab itu? Kawan bisa membuka Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 1)

2 komentar:

Tiananda mengatakan...

Seru banget keliling2 di Abu Dhabi yaaa... Dulu aku cuma liat masjid Syekh Zayed, trus diturunin di Marina Mall *ga penting banget ya ke mall, gitu2 doang, tau gitu mending lama2in di mesjid*

BTW Rikaa... Ikutan kopdar IHB ajaaa... maksudnya hijab blogger bukan cuma fashion blogger tapi semua blogger yg berjilbab :D heheheheee

aku juga kan blog ga jelas :p

Fikri Maulana mengatakan...

Perjalanan yang menyenangkan :)