Jumat, 21 November 2014

(Sebuah) Dongeng Setelah Tidur


Sinar matahari menembus tirai jendela, subuh berlalu sudah cukup lama. 

Dari dalam sebuah kamar yang sempit, seorang lelaki mengeluhkan hidupnya yang kerap  bertemu kegagalan. 

“Baiklah, akan kuceritakan padamu tentang sebuah kisah”, ujar seorang perempuan yang juga berada dalam kamar yang sama.

Maka si perempuan pun mulai bercerita

“Pada suatu masa, ada seorang saudagar yang sedang menempuh perjalanan di padang pasir. Ketika hari mulai malam, maka si Saudagar  pun mendirikan tenda di padang pasir itu. Mengikat unta, dan mulai tertidur. Tak  berapa lama, lewat serombongan perompak. Mereka mengambil semua barang milik si saudagar: penerangan, uang, unta, dan perbekalannya. Si Saudagar tetap tertidur dalam lelap hingga pagi.  Ketika bangn, terkejutlah ia. Si Saudagar bersedih hati, begitu bersedih, dan menyesali nasibnya yang malang.”



Si Lelaki mendekap si perempuan, dan terus mendengarkan. 

Sambil menarik napas, si perempuan lalu melanjutkan kisahnya.
“Namun, ada satu hal yang tak diketahui si saudagar. Setelah rombongan perampok itu lewat, maka lewatlah serombongan tentara perang, yang akan membunuh suku-suku tertentu, termasuk kaum dari si saudagar. Seandainya rombongan perampok ini tak mengambil penerangan, unta, dan barang-barang lainnya, tentu rombongan perang itu akan menemukan si saudagar. Pagi itu, si saudagar mengutuki dirinya, betapa malang nasibnya. Padahal tanpa saudagar itu  ketahui, ia telah diselamatkan oleh rombongan perampok. Ia bukan lelaki malang”.

“Tetapi ia adalah lelaki beruntung”, timpal si lelaki. Kali ini senyum tersungging di ujung bibirnya. Pelukan tetap tak dilepaskan pada si perempuan. 

Matahari telah lebih tinggi. Pelukan mengerat. Hiruk pikuk di jalanan terdengar samar.  Mereka masih saja berpelukan. Seolah mereka lah orang paling kaya di dunia ini. Sehingga tak ada khawatir.  Sehingga tak perlu bekerja dan mencari uang. 

Dan begitulah si perempuan dan si lelaki menemukan keberuntungan masing-masing.


2 komentar:

Aan Sopiyan mengatakan...

Meski sudah ditentukan bagiannya, sudah ditetapkan kadarnya, dan sudah harus meyakini adanya... Tetap saja, rezeki itu kadang lucu juga becandanya. Diarep-arepin, gak dapet-dapet. Giliran santai slowly adem ayem toto tentrem loh jinawi, eeeeh... Dateng juga tak terduga... Maka, jangan pernah mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka pd Sang Pemberi... Alhamdulillaah 'alaa kulli haal

#kata temenku di FB.

R. Melati mengatakan...

Huah kalau kata Kang Aan sendiri gimana? :P

anyway, terima kasih telah berkunjung dan berkomentat