Kamis, 11 September 2014

Where will you stay?* #16


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more


Masjid Sultan di Kampung Arab

Malam itu sambil memanggul tas ransel yang tak seberapa besar, saya berjalan lebih kurang 15 menit setelah  sebelumnya turun di stasiun MRT Bugis.  Masuk ke Kawasan Kampung Arab, saya disambut riuh rendah suara manusia dan komentator siaran sepakbola. Saya cukup surprise. Rupanya inilah tempat hippies ala arab.  Sungguh meleset dari bayangan awal, mengingat template di kepala saya bahwa sesuatu yang berbau arab akan lebih islami dan religius. Ah ternyata Orang Arab pun boleh bersenang-senang.

Saat menemukan hostel ini, saya merasa agak rancu. Di dalam situs booking online tertera Sleepy Kiwi Backpacker Hostel. Dengan mencocokkan alamat, ternyata hostel ini memiliki plang nama agak berbeda, yakni Green Kiwi Hostel.

Sleepy Kiwi Backpacker Hostel


Lokasi Sleepy Kiwi Hostel tergolong strategis. Tertelak dekat sekali dengan Mesjid Sultan di kawasan Kampung Arab.  Dari teras hostel, pelataran Mesjid terlihat jelas. Selain lokasi, hal-hal lain di hostel ini bisa dibilang standard saja.  Kamar tak begitu bersih, kunci kamar manual namun tak pernah di kunci, penerangan kamar sangat redup,  makan pagi yang dijatah (ada beberapa hostel yang makan pagi bikin sendiri, namun bisa sepuasnya), dapur luas, staff ramah, dan fasilitas locker gratis. Yang di  bawah rata-rata adalah kamar mandi merangkap toilet yang  cuma ada dua. Padahal satu kamar dorm female yang diisi 14 orang, belum ditambah kamar laki-lakinya. Syukur antrian pagi hari paling hanya satu atau dua orang. Entahlah, barangkali backpacker memang jarang mandi atau bangun siang hari.

Kamar- Sleepy Kiwi Backpacker Hostel




Secara keseluruhan penilaian terhadap hostel ini berbanding terbalik dengan pengunjung hostel. Female dorm yang saya tempati, terisi lengkap sebanyak 14 orang. Pagi hari, saat pintu depan hostel baru dibuka, saat saya akan memulai sarapan pagi yang disediakan tepat pukul 8 pagi, datang seorang laki-laki muda membawa tas ransel besar,  dan sayangnya ditolak karena hostel sudah penuh. Saya menduga pengunjung yang ramai dikarenakan peak season, di negara empat musim masih berlangsung liburan musim panas. 

Sleepy Kiwi Backpacker Hostel, Singapore



. *review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis. 

2 komentar:

Armae mengatakan...

belum pernah nginap di hostel. ga kebayang betapa berasa anehnya saat bangun tidur di kamar yang banyak orangnya dan ga ada yang kenal. hahaha..

Kak Rika bisa ya gitu? keren ih

R. Melati mengatakan...

Mae...you must try this!

Coba deh, pasti ketagihan. Nanti bisa tau kebiasaan dan kenal orang-orang dari berbagai latar belakang.

Apalagi kalau travellingnya lama dan sendirian pula. Hostel is better than hotel, for sure :)