Senin, 25 Agustus 2014

Mengintip Jendela Dunia dengan AirASia *

Konon, dari jendela ini, para syahbandar mengawasi segala bentuk kegiatan di Pelabuhan Sunda Kelapa. Utamanya, melihat kapal-kapal yang bersandar dan yang berlayar. Ratusan tahun lalu,  pelabuhan ini adalah yang  tersibuk di Batavia. Jendela di Mercusuar  Syah Bandar inilah saksi bisunya.**
Mercu Suar Syah Bandar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Jendela berarti 1 lubang yg dapat diberi tutup dan berfungsi sebagai tempat keluar masuk udara; 2 tingkap.

Jendela, bisa pula bermakna konotasi. Dalam satu pribahasa yang lazim kita kenal, “Buku adalah Jendela Dunia”, secara tersirat mengisyaratkan jika ingin mengintip secuil dunia beserta isinya yang maha banyak dan maha luas ini, maka membaca adalah salah satu caranya.

Perjalanan, bagi saya pribadi bisa diibaratkan pula sebagai sebuah jendela.  Sebuah usaha untuk sedikit  mengintip dunia, beserta peradaban dan  keberagamannya. Berbagai hal-hal ajaib yang tak mungkin ditemui dalam rutinitas sehari-hari. Kalaupun mampu kita temui, kadangkala, atas nama kebiasaan, kita keburu tak menyadari seberapa berharga hal tersebut.

Keberangkatan

Perkenalan saya terhadap petualangan-petualangan mengintip dunia ini sebenarnya masih terbilang awam. Tahun 2011, saya memulai pekerjaan pertama saya, sebuah full time job. Tentu saja setelah memiliki penghasilan sendiri, saya berusaha memenuhi keinginan-keinginan terpendam. Termasuk mengunjungi destinasi liburan paling umum bagi orang Indonesia. Iya, saya penasaran sekali dengan Bali.

Begitulah perjalanan pertama saya mengunjungi tempat dimana saya tak mengenal siapa-siapa di sana.  Pertama kalinya pula saya menggunakan AirAsia. Tak banyak rute domestik  Air Asia Indonesia kala itu. Hanya ke dua kota wisata di Indonesia:  Yogyakarta dan Bali. Bahkan, saya ingat betul, ketika itu saya belum memiliki kartu kredit, sehingga bertransaksi di AirAsia pun masih meminjam kartu kredit seorang kawan.

Dan karena tak ada kawan yang bisa  menemani, akhirnya saya nekat pergi sendirian. Iya, kadangkala kita hanya butuh sedikit keras kepala, untuk mewujudkan hal-hal semacam ambisi atau wish-list pribadi. Keberangkatansaya ke Bali bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke -24. Semacam cara untuk menghadiahi diri sendiri.

Jumat malam, rasa bedebar-debar sudah menghantui. Sebuah sensasi bias antara rasa takut dan senang. Keberangkatan saya pagi sabtu itu disambut cuaca cerah. Melintasi Pulau Jawa menuju Timur. Tatkala melewati Gunung Merapi, Merbabu, maupun Semeru, pilot, mengabarkan dimana sebenarnya pesawat tengah terbang. Mengingatkan penumpang untuk tak melewatkan pemandangan gunung-gunung cantik di bawahnya. Hingga kini itulah satu-satunya penerbangan yang pernah saya alami  dimana pilot berlaku ibarat pemandu wisata.

Pengalaman pertama ke Bali
Dari perjalanan pertama yang mengesankan itu, menjadi semacam heroin yang membuat candu. Saya tertantang melihat lebih banyak, mengintip jendela dunia lewat seri-seri perjalanan lainnya.

Episode perjalanan saya lainnya adalah menjelajahi Penang. Sebuah pulau yang banyak dikunjungi orang Indonesia untuk berobat. Namun, saya tergelitik mengunjungi pulau ini karena membaca review dari seorang blogger yang menikmati kota tua di Penang, sembari menyeruput  kopi penang yang terkenal nikmat. 

Lagi-lagi AirAsia membantu mewujudkan rasa penasaran saya tersebut. Direct flight Jakarta-Penang dengan durasi tak sampai dua jam perjalanan udara. Tentu saja dengan mengandalkan tiket promo. Kendati, pengalaman ke Penang ini menjadi seri terburuk selama saya melakukan perjalanan mengintip secuil dunia. Bukan, bukan karena penerbangannya.


Perjalanan ini semula saya rencakanan bersama 3 orang kawan. Pada hari H, akhirnya saya hanya berangkat bersama seorang kawan. Untungnya, meski kelasnya promo namun tiket yang batal masih bisa di refund.
Memang adakalanya, sekali lagi, mengintip jendela dunia tak berarti harus melihat hal yang baik-baik saja. Saat ingin pulang ke hostel, saya tersesat dan hampir satu jam berputar-putar menggunakan motor sewaan. Entah apa yang ada di kepala saya saat itu. Pelajaran moral pertama, jangan pernah menggampangkan medan atau daerah yang dikunjungi.

Lalu keesokannya, kamera DSLR saya hilang. Ibarat teguran, saya mencoba mengambil hikmahnya saja. Pelajaran moral kedua, se-kere apapun kita saat jalan-jalan, pelit adalah sesuatu yang harus dihindari. Backpacker itu perhitungan, sedangkan pelit dan perhitungan adalah dua hal yang berbeda.

Memang, dengan penghasilan yang pas-pasan, saya harus menjadi pejalan dengan perhitungan matang. Dan dengan begitu, saya mengalami cukup banyak episode mengintip jendela dunia dalam kurun waktu empat tahun terakhir.  
Biasanya, hal yang paling saya perhitungkan karena menjadi bagian terbesar dalam total pengeluaran adalah ongkos transportas menuju tempat tujuan. Pandai-pandai menyesuaikan antara waktu libur dan harga tiket pesawat. Budget Airway atau maskapai berbiaya rendah menjadi prioritas utama memilih angkutan moda. Siapa peduli dengan gengsi, kalau bisa dicapai dengan aman dan murah.

AirAsia, menurut pengamatan saya merupakan maskapai dengan efisiensi tinggi. Menawarkan tiket murah, makan rute-rute nya harus cepat direview. Rutin mengecek laman online Airasia, saya perhatikan dalam kurun waktu dua sampai tiga bulan biasanya akan ada rute baru, tambahan frekuensi penerbangan, atau malah pengurangan. AirAsiaIndonesia sendiri kini menjangkau hingga ke 16 kota, ditambah AirAsia yang berterbangan di negara-negara ASEAN, Asia, Arab, dan benua Australia.


Syukur, dengan pergerakan bisnis maskapai penerbangan yang menggurita, maka mengintip jendela dunia bisa dialami sekelit mata. 

Now Everyone Can Fly

*diikutsertakan dalam lomba menulis catatan perjalanan Airasia ID pada Agustus 2014

**Ide mengenai 'jendela' terinspirasi dari teman turnamen foto perjalanan (TFP) ke-47


3 komentar:

Armae mengatakan...

Baru naik AirAsia sekali. Itupun dengan harga menjulang. Sempat bertanya-tanya, mana nih yang katanya maskapai LCC?? Huahaha *malak

Kayaknya ada juga deh mbak maskapai yang pilotnya kayak tour guide itu. Tapi lupa maskapai apaan. Dan sepertinya yaa memang dipengaruhi sama jurusan penerbangan juga. Gak mungkin kan Surabaya-Banjarmasin yang kita cuma lihat laut doank trus dipamerin sama pilotnya? Hihihi

R. Melati mengatakan...

Iya kah? soalnya emang baru sekali nemu pilot lucu begitu selama ini :D

Iya, AirAsia nyari tiketnya yang murah biasanya jauh-jauh hari

dindadesi mengatakan...

berminat ikut lomba blog ?

Refiza Souvenir menyelenggarakan blog competition bagi para bloggers. Tuliskan semua hal tentang souvenir Islami dan dapatkan hadiah menarik dari Refiza, pendaftaran telah di perpanjang hingga 18 Agustus 2015. syarat dan ketentuan klik www.refiza.com/blogcompetition2015/