Selasa, 29 April 2014

Pantai Sawarna

Sebuah (lagi-lagi)  keputusan jalan-jalan yang impulsif.  Turing pertama saya di tahun 2014.  Sebuah tawaran menggiurkan jumat sore itu, berawal dari telpon seorang kawan.

“Ka, mau ikutan ke Pantai Sawarna? Berangkat malam ini, pakai mobil ”, seseorang berbicara di seberang sana.

*

Sekitar pukul 9 malam, saya dijemput di halte busway Ragunan.

Maka malam itu, diantara jelang long weekend yang panjang, saya dan kawan-kawan membelah jalanan Jakarta.  Rutenya melewati pelabuhan ratu, menuju arah ke Sukabumi.  Pantai Sawarna terletak di Desa Bayak, Provinsi Banten.
Gelap mendera. Lelah bekerja seharian, dalam sekejap saya pun terlelap.  Dini hari, mobil berhenti. Saya lantas terbangun. 

“Kita sudah sampai di daerah Pelabuhan Ratu”, seru seorang kawan.  Teman yang menyetir rupanya sudah mengantuk sangat. Mata saya masih terasa berat. Saya terlelap kembali, pun semua orang yang ada di mobil.
Subuh datang. Samar-samar terdengar adzan.  “Perjalanan masih panjang, sekitar 3 sampai 4 jam lagi mungkin”, kawan saya menimpali sambil membuka Google Maps. Tak ada seorang pun yang pernah ke Pantai Sawarna. Kami memang menjelajah.

Aroma asin laut sudah tercium.  Mari menghirup udara pagi terlebih dahulu.  Sholat, cuci muka, dan kemudian menikmati semangkuk bubur ayam yang gerobaknya mangkal tepat di depan Mesjid Raya Pelabuhan Ratu.

Mesjid di Pelabuhan Ratu, Banten


Ini pengalaman pertama saya ke Pelabuhan Ratu. Warna langit yang masih keemasan, lalu ombak menggulung-gulung yang begitu menggoda. Puluhan perahu dan kapal yang terombang-ambing.  Pemandangan yang begitu menggelitik.  Sayang kalau tak stop di pantai untuk menikmati pagi kali ini.  Toh kami memang tak terburu-buru.

“Bagus juga”, seru saya dalam hati.
Ah laut dan pantai memang selalu membuat saya terkesima.

Pagi hari di Pelabuhan Ratu

                                                                                                *
Perjalanan dillanjutkan. Matahari mulai naik, pemandangan laut dan pantai di sisi kiri sudah tak lagi mempesona. Jalan berliku dan tak rata  membuat kepala pening dan semua isi perut  serasa ingin keluar.

Lagi, pemberhentian kedua..  Mampir sebentar di Pantai Cimaja. Bibir pantai tak begitu luas. Tapi ombaknya patut diacungi jempol. Banyak bule dengan menenteng papan surfing berkeliaran. Sebuah pantai yang popular untuk olahraga surfing.

Pantai Cimaja, Banten


Hampir pukul sepuluh pagi, ketika akhirnya saya tiba di Kawasan Wisata Pantai Sawarna.
Dari tempat parkir mobil menuju bibir pantai, bisa menggunakan ojek atau jalan kaki. Tentu saya memilih opsi kedua. Biasanya wisatawan ditemani guide, karena di kawasan Pantai Sawarna ini ada banyak spot yang bisa didatangi, dengan letak berjauhan dan medan yang cukup menantang. Jika tak bersama guide, maka probabilitas untuk tersesat bisa jadi lebih besar.  Selain pantai, di Desa Bayah ini juga terdapat beberapa gua dan air terjun, laguna serta sunrise point.

Sayang saya serombongan hanya bernawaitu untuk ke pantai dan tak menginap.
Pantai Sawarna, nama ini barangkali berasal dalam pelafalan bahasa sunda. Ketika dibahasa Indonesiakan, bisa jadi menjadi Pantai Sewarna. Pantai yang memiliki warna yang sama.
Biru menghampar, lanskap  luas, pasir putih. Tipikal pantai kesukaan saya. Pantai ini menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ombaknya yang besar bagai surga bagi para peselancar.

Ah tak perlu jauh-jauh ke Bali. Pantai di sini jauh lebih bagus dari Kuta”, gumam saya.

Pantai dengan lanskap luas dan pasir putih. 


Pantai sawarna ini ibarat wisata pantai yang sepaket. Tinggal menyusurii, maka akan tersaji beberapa tipikal pantai. Saya mulai  dengan menyusuri pantai dengan lanskap landai dan luas, saya lupa nama pantainya. Lalu beralih ke pantai dengan bibir pantai berupa trumbu karang., dan lagi-lagi saya lupa nama pantainya. Spot terakhir dari sesi susur pantai ini adalah Pantai Tanjung Layar.  Ini pantai paling nge-hits dan menjadi ke khasan Kawasan pantai Sawarna. Bentuk karang- karang nya yang unik, tak asing,  beberapa kali pernah saya lihat pantai ini di dunia maya.
Bentuknya yang seperti palung, membuat bibir Pantai Tanjung Layar tak memiliki ombak besar. Sangat asik untuk berenang.

full team susur pantai
Ada juga pantai dengan banyak karang

Pantai Tanjung Layar, asiik untuk berenang

Matahari terik di atas. Sebungkus mie instant beserta telor, tiga buah gorengan, dan segelas es teh manis meluncur manis ditenggorokan. Hari masih pukul dua siang. Si abang guide menyarankan ke sebuah pantai, yang  terkutuklah karena sekali lagi saya lupa namanya.
Kali ini spotnya agak jauh, saya dan kawan-kawan harus membawa serta mobil.

Tak kalah menawan.  Pantai ini  pasir putihnya lebih mawur dan halus.  Ada gua dan tebing tak jauh dari bibir pantai. Tebing yang kalau melhat compang camping di dindingnya, pasti sering digunakan untuk panjat tebing.

Pantai Bertebing
Pantai bertebing

Gua
Pantai ini menjadi spot penutup.  Hampir pukul 4 sore, saya meluncur melewati jalan serupa yang tadi pagi baru saja saya lewati. Kali ini hujan deras mewarnai.

Hampir magrib, saat saya kembali melewati  daerah Pelabuhan Ratu.  Mampir sebentar untuk mengisi perut. Menikmati seafood yang rasanya bisa dikatakan kurang enak.  

Tengah malam,  saya tiba kembali, Jakarta menyambut dengan rintik hujan dan jalanan yang lebih lengang.


Hujan deras menemani perjalanan pulang
Pantai Sawarna, Banten
Pantai selalu membuat bahagia :p

1 komentar:

Armae mengatakan...

aku juga sukaaaaaaakkk pantai yang pasirnya luas dan landai gitu. huuhuuu