Rabu, 17 Desember 2014

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 53: Let's Jump


Untuk kedua kalinya ikut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan. Dua tahun yang lalu sempat mengikutsertakan foto sewaktu jalan-jalan ke Semarang dengan tema Kota (Turnamen Foto Perjalanan Ronde 6)

Tak terasa, sekarang sudah memasuki Ronde ke 53. Kali ini temanya Let's Jump.

Terpilihlah foto narsis saya saat berkunjung ke Pulau Samalona, Makassar, pada Februari 2013 silam. Tak mudah mem-freeze lompatan yang hanya sepersekian detik. Apalagi saya bukan seorang pelompat yang baik, bisa jadi  ini adalah foto jumping  terbaik saya.
Ekspresi dan lompatannya berpadu optimal :)

" My best jumping pose" Pulau Samalona, Sulawesi Selatan, pada Februari 2013

Selasa, 09 Desember 2014

Where will you stay?* #19

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Zurich di Balikpapan, Kalimantan Timur

Standard harga hotel di Balikpapan menurut saya cukup tinggi. Ya kalau dibandingkan dengan kota destinasi wisata semacam Jogja, Bali, atau Bandung. Di Ketiga kota ini penginapan-penginapan bersaing bak baju foto model, sangat ketat.

Memang karena jumlah dan variasi hotel di Balikpapan tak seberapa banyak. Budget hotel yang tersedia pun baru  Fave Hotel dan Swiss Belinn. Harganya cenderung lebih tinggi, kalau kawan membandingkan hotel yang sama di kota Jogja.

Hotel Zurich sendiri bukan tergolong hotel baru. Lantas kenapa memilih Hotel Zurich? Hanya ada dua alasan yakni letaknya di jalan Jendral Sudirman, yang merupakan jalan protokol di Balikpapan serta alasan promo dari kartu kredit tertentu.



menginap di Zurich hotel balikpapan
Lobi- Zurich Hotel, Balikpapan

Bangunan hotel ini dari luar cukup keren. Kelihatan kokoh dan berumur. Lobinya tak kalah keren. Zurich Hotel merupakan hotel bintang tiga dengan rate snya hampir setara dengan budget hotel. Biasanya yang non-budget hotel memang memiliki space baik lobby dan kamar tidur lebih luas. Termasuk dalam hal kamar mandi. Hotel bintang tiga ke atas memiliki standar bath tub untuk tiap kamar mandinya.

Kamis, 04 Desember 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 4)


Pak Sopir mengendarai bus dengan tenang, seolah-olah ini hari pagi minggu yang cerah. Tak perlu terburu-buru. Bus ini sebentar-sebentar berhenti pada halte yang telah ditetapkan. Jalanan bersih, dan lengang.  Tak kelihatan satu biji pun kendaraan roda dua. Sebaliknya, mobil mewah berserakan.

Jalanaan yang lengang di pagi hari - Abu Dhabi

Hampir  satu jam berkeliling naik bus dalam suasana pagi yang menyenangkan.  Cukup berguna untuk turis kere yang tak punya tujuan pasti. Hanya  ending acara naik bus pagi ini kurang menyenangkan. Katakanlah saya salah naik bus. Pemberhentian terakhir bukan di Marina Mall, namun di Abu Dhabi Mall. Tapi tak apa, toh juga sama-sama mall.

Masih pagi. Banyak outlet yang belum buka. Di pintu depan mall, ada sebuah loket bus hop-on hop-off yang menawarkan one day tour. Cocok untuk turis-turis transit yang melakukan perjalanan lintas benua.

Saya melipir mundur ketika tahu untuk acara satu hari tour harus merogoh kocek sekitar 950 ribu rupiah. Lebih baik saya kembali nai bus umum dan berkeliling sampai bego. Tahu berapa ongkos naik bus dari bandara ke Abu Dhabi Mall? Saya hanya perlu merogoh 4 dirham, atau sekitar 12 ribu rupiah.

Mall Abu Dhabi berisi deretan toko barang-barang mahal. Merek-merek sama yang masih bisa saya temukan di Mall Grand Indonesia, Jakarta. Tak ada yang sanggup saya beli di sini.  Jadi ketimbang sakit hati, sebaiknya saya segera melipir pergi.

Mall Abu Dhabi

Ada baiknya mengisi perut saja. Terakhir saya makan di dalam pesawat.  Otak  butuh nutrisi agar dapat bekerja cemerlang. Ingat, dalam perjalanan, kawan harus penuh  improvisasi dan panjang akal. 

Karena tak akan saya temukan gerobak yang menjual bubur ayam, maka saya menuju depot makan Subway tepat di seberang mall. Melahap cepat sebuah burger berisi meat ball yang rasanya enak banget. Untunglah enak, jadi saya tak sia-sia membayar mahal.  Harga burger di sini tak jauh beda dengan di Chicago. Sekali lagi, Abu Dhabi  tak cocok untuk turis kere.

Kenyang perut, hati tenang, dan saya naik bis lagi menuju Marina Mall. Tak begitu jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menit.  

Semula saya membayangkan Abu Dhabi sedikit mirip Arab Saudi. Mengingat waktu umroh, bahkan di Jeddah tak ada perempuan yang berkeliaran jalan sendirian. Jadi dengan alasan keselamatan, saya mengambil inisiatif untuk  mengenakan gamis.

Duh…duh, kali ini saya salah langkah. Ketika sampai di pusat kota,  suddently saya merasa Saltum alias salah kostum. Di Abu Dhabi, meski masih Timur Tengah, totally different dari Arab Saudi. Barangkali karena banyak pendatang dan ekspatriat, sehingga gaya berpakaiannya sudah modern. Bahkan keturunan arab sekalipun berpakaian sangat modern.

Saltum- Abu Dhabi

Beberapa kali saya dikira orang Filipina. Namun tak peduli Filipina atau Indonesia, kedua negara ini memilikin imej sebagai negera pengimport tenaga kerja informal terbanyak di Uni Emirates Arab. Saya membayangkan saya terlihat seperti TKW tersesat yang melarikan diri dari majikan.

Marina Mall lebih besar dan lebih baru dari Abu Dhabi Mall. Dan tetap saja tak ada yang sanggup saya beli di sini. Tepat di seberang mall ini, terdapat breakwater, semacam pantai buatan, yang menyusur di sepanjang  Corniche Road. Puluhan perahu layar, boat, dan yacht kecil bersandar.  Ada terlalu banyak milyuner di kota ini.

Boat, yacht, kapal layar kecil, dan sejenisnya- Abu Dhabi

Hari yang cerah. Banyak pula pengunjung yang berjemur, memancing, naik sepeda, jogging, atau sekedar duduk-duduk.  Dalam ingatan saya, inilah tempat paling menarik setelah Syeikh Jayed Mosque.

Emirates Palace, terletak hampir di ujung jalan Corniche. Sebuah hotel maha mewah, saking mewahnya sampai menjadi attractive place di Abu Dhabi. Setelah memotret (hanya) gerbangnya saja, saya kembali menelusuri peta. Ada satu tempat lagi: Heritage village yang konon katanya masih berada di kawasan Corniche Road juga.

 Matahari terik menyengat, sementara sehari sebelumnya saya hampir mati kedinginan di Chicago. Semangat jalan-jalan memang membuat fisik menjadi begitu kuat.

Bersimbah keringat, dan sepanjang penelusuran di jalan Corniche, tak saya temukan tanda-tanda plang nama Herritage Village.

Hilang minat saya. Sepertinya juga bukan tempat wajib untuk dikunjungi.  Lebih baik duduk-duduk di Corniche Beach sembari menguapkan keringat.

Gerbang- Emirates Palace- Abu Dhabi

Emitates Palace dari kejauhan- Abu Dhabi

Selama perjalanan saya tak membeli layanan data roaming.  Berselancar selama ini semata-mata hanya mengandalkan jaringan wifi.  Ada baiknya mencari teman mengobrol. Sudah sedari tadi malam saya hanya mengobrol dengan diri sendiri.

Rabu, 03 Desember 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 3)

Impulsif, nekad, tapi adakalanya logika tetap saya gunakan. “Stay safe Rika”, pesan saya pada diri sendiri. Berdasarkan pengalaman-pengalaman selama melakukan perjalanan, membuat saya menarik kesimpulan dan menerapkan pada diri sendiri untuk “go with the flow”. Jangan tamak dan maruk. Jangan pelit dan perhitungan. Jangan terlalu terbawa euphoria dan lupa Tuhan.
Ketika pulang, satu godaan muncul. Istanbul, salah satu destinasi impian saya. Hanya 4 jam naik pesawat dari Abu Dhabi. Sebenarnya saya bisa menukar poin Etihad guest saya dengan penerbangan sekali jalan Abu Dhabi- Istanbul. Tapi rasa-rasanya terlalu memaksakan diri. Ada beberapa pertimbangan: pertama alasan kesehatan karena saya sudah terlalu capek, kedua saya belum ijin kantor kalau mau extend, dan ketiga keuangan semakin menipis. Ketiga hal yang sebenarnya masih bisa saya atasi. Namun akhirnya kembali kepada prinsip awal “go with the flow”, saya tidak boleh terlalu memaksakan diri.
Flying path Abu Dhabi-Chicago
Setelah penerbangan hampir 14 jam, lanskap salju di Chicago telah berubah.  Cerah ceria suasana malam menyambut saya di Abu Dhabi. Uni Emirates Arab memang tersohor sebagai negara kaya. Tak ada hostel di Abu Dhabi, dan saya terlalu pelit mengeluarkan uang untuk menginap di hotel. Sehingga mau tidak mau, terjadi degradasi kenyamanan tempat menginap. Dari Hotel Hilton saat di Minnesota, turun menjadi hostel saat di Chicago, dan kini saya memilih tidur di bandara.
Penerbangan saya terhitung kategori stopover dan bukan transit, menyebabkan saya harus mengambil bagasi dan check in lagi menjelang penerbangan selanjutnya. Saya tidak bisa kembali ke ruang tunggu untuk menumpang tidur.
Jika ke Dubai menggunakan Maskapai Emirates, penumpang stopover boleh masuk Dubai tanpai visa barang sehari dua hari. Di Abu Dhabi, pemegang passport Republik Indonesia harus mengajukan visa meskipun stopover hanya sehari atau dua hari.  Visa Abu Dhabi waktu itu saya apply secara online. Visa online ini memungkinkan jika kawan menggunakan maskapai Etihad dan menginginkan melihat Abu Dhabi barang sehari dua hari. Setelah pengajuan, maka kurang dari satu minggu, visa akan dikirimkan lewat email. Cukup di print, dan nanti ketika tiba di Abu Dhabi ditukar dengan visa asli di loker Etihad, sebelum menuju antrian imigrasi.
Setelah melewati petugas imigrasi yang terkantur-kantuk dan men-cap visa sekenanya, mata saya mulai memindai apa yang ada di sekeliling. Saya punya print-out Bandara O’Hare Chicago, tapi bodohnya tidak untuk Bandara Abu Dhabi. Bandara mulai sepi. Hampir pukul 9 malam waktu setempat, dan masih delapan jam lagi menuju pagi.
Perlu memindai beberapa tempat dan sudut, sebelum akhirnya saya menemukan musholla hangat yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Tak saya temukan tulisan ‘dilarang tidur di mushola’, sehingga saya dapat mengacuhkan rasa bersalah di kepala dan tertidur lelap.
Mushola Bandara Abu Dhabi 
Sehabis sholat subuh, saya bersih-bersih, mencuci muka, ganti baju, dan bersiap untuk acara jalan-jalan kali ini. Masih di musholla, beberapa pegawai Etihad baru saja selesai melaksanakan ibadah.  Saya menanyakan dimana tempat penitipan barang (loker), karena saya tidak mungkin keliling Abu Dhabi sambil menyeret koper.  Eh si staff yang ramah itu malah menawari untuk early check in. “ Just  find me there”, ujarnya si staf cantik kepada saya.
Berbunga-bunga lah hati saya.

       Sayangnya, keberuntungan tidak semudah itu menemui saya.  Saya sudah memindai deretan counter, bersiap menuju counter yang dijagasi si mbak cantik, dan mulai masuk antrian
Namun seorang lelaki menghadang saya. Ia menanyakan nomor penerbangan saya. Sesuai regulasi,  saya baru bisa check in paling cepat 4 jam sebelum keberangkatan, unless saya mau mengubah jadwal penerbangan menuju Jakarta dengan pesawat  jam 10 pagi ini. Masuk akal juga sih alasannya,  mereka hanya takut mess-up bagasi saya dengan jadwal penerbangan pagi.

Dengan lunglai, saya keluar antrian counter check-in.  Di luar masih gelap. Pagi belum benar-benar tiba. Baiklah, saya akan kembali ke rencana pertama: kembali mencari jasa penitipan bagasi.

Kamis, 27 November 2014

2014


Hujan membingkai setiap hari. Desember menanti diambang pintu. One month left.
Orang-orang terburu-buru. Matahari terus bersembunyi. Banjir mengancam jalanan dan rumah-rumah di bantaran kali.
Empat tahun yang lalu, saya mengutuk kota ini hampir setiap hari.
Belakangan, saya juga masih mengutuk, terutama kala terjebak macet, hujan mendera, dan mahalnya barang-barang.
Namun menengok ke belakang. Ada lembar empat tahun kekinian, yang ingatannya masih segar.
Malu rasanya mengingat  enam tahun kuliah saya di Yogyakarta. Rasanya saat itu hanya menjadi lembar hura-hura. Banyak tawa namun dangkal makna. Iya kuliah itu ibarat teori dalam kehangatan tempurung
Saya baru menengok dunia sebenarnya. Belajar tentang ketangguhan hidup setelahnya. 
                                                                                       *
Ada banyak hal yang saya persiapkan untuk masa depan di tahun 2014.
Tapi tiga hal yang saya tulis pasti apa yang menjadi fokus: Menabung, Menulis, dan Menikah.
Mencoba fokus dari serangkaian kisah cinta, yang lebih mirip cerpen tanpa anti klimaks.
Memuncak, lalu tiba-tiba hilang. Dan segera terganti dengan kisah cinta yang lain.  Rumusnya hampir selalu begitu.
Fokus, itulah pesan terpenting dari keluarga, dan kawan-kawan dekat saya.

One Month Left
Menabung on progress, walaupun masih sedikit demi sedikit
Menulis (stil) on progress, membereskan sebuah proyek lama, merilis beberapa proyek baru yang semoga dapat selesai sebelum pertengahan tahun depan.
And finally, married. 

Life is just begin.
Ini adalah awal.
Sekarang saya tak lagi bertarung sendiri.
Sekarang saya punya teman, yang akan menemani saya bertarung, sekaligus teman yang bisa jadi yang melemahkan saya dalam pertarungan menghadapi dunia.
Tapi tak apa. Pertarungan tetap harus dilanjutkan. Dan saya sudah memilih untuk tak sendiri lagi.
Apapun yang terjadi, mari saling menguatkan. Sampai nanti. Sampai mati.



 


Satu bulan lebih tiga hari menjelang berakhirnya tahun 2014



Jumat, 21 November 2014

(Sebuah) Dongeng Setelah Tidur


Sinar matahari menembus tirai jendela, subuh berlalu sudah cukup lama. 

Dari dalam sebuah kamar yang sempit, seorang lelaki mengeluhkan hidupnya yang kerap  bertemu kegagalan. 

“Baiklah, akan kuceritakan padamu tentang sebuah kisah”, ujar seorang perempuan yang juga berada dalam kamar yang sama.

Maka si perempuan pun mulai bercerita

“Pada suatu masa, ada seorang saudagar yang sedang menempuh perjalanan di padang pasir. Ketika hari mulai malam, maka si Saudagar  pun mendirikan tenda di padang pasir itu. Mengikat unta, dan mulai tertidur. Tak  berapa lama, lewat serombongan perompak. Mereka mengambil semua barang milik si saudagar: penerangan, uang, unta, dan perbekalannya. Si Saudagar tetap tertidur dalam lelap hingga pagi.  Ketika bangn, terkejutlah ia. Si Saudagar bersedih hati, begitu bersedih, dan menyesali nasibnya yang malang.”



Si Lelaki mendekap si perempuan, dan terus mendengarkan. 

Sambil menarik napas, si perempuan lalu melanjutkan kisahnya.
“Namun, ada satu hal yang tak diketahui si saudagar. Setelah rombongan perampok itu lewat, maka lewatlah serombongan tentara perang, yang akan membunuh suku-suku tertentu, termasuk kaum dari si saudagar. Seandainya rombongan perampok ini tak mengambil penerangan, unta, dan barang-barang lainnya, tentu rombongan perang itu akan menemukan si saudagar. Pagi itu, si saudagar mengutuki dirinya, betapa malang nasibnya. Padahal tanpa saudagar itu  ketahui, ia telah diselamatkan oleh rombongan perampok. Ia bukan lelaki malang”.

“Tetapi ia adalah lelaki beruntung”, timpal si lelaki. Kali ini senyum tersungging di ujung bibirnya. Pelukan tetap tak dilepaskan pada si perempuan. 

Matahari telah lebih tinggi. Pelukan mengerat. Hiruk pikuk di jalanan terdengar samar.  Mereka masih saja berpelukan. Seolah mereka lah orang paling kaya di dunia ini. Sehingga tak ada khawatir.  Sehingga tak perlu bekerja dan mencari uang. 

Dan begitulah si perempuan dan si lelaki menemukan keberuntungan masing-masing.


Minggu, 16 November 2014

Review Tentang Sebuah Kekecewaan

Area X: Hymne Angkasa Raya, satu novel yang memberikan kesan pada masa remaja saya di awal tahun 2000an. Bahkan hingga kini, saya masih menyimpan apik novel Area- X tersebut. Satu buku yang tidak pernah ingin saya singkirkan diantara periode-periode suksesi buku-buku saya.

 Elita V. Handayani, si penulis novel, kala itu masih berstatus sebagai siswi SMA Taruna Nusantara, Magelang.  Sebuah karya brilian untuk ukuran penulis pemula yang masih berusia belasan tahun.  Apalagi waktu itu, ragam dan variasi buku non-terjemahan tak sesemarak saat ini.

Area X merupakan novel science-fiction futuristik, bertema alien.  Membaca novelPartikel nya Dewi Lestari mengingatkan saya pada nostalgia novel Area X. Setelah Area X, bertahun-tahun tak pernah saya temukan lagi buku dengan label Eliza V. Handayani sebagai penulisnya.

 Beberapa kali pernah saya coba mencari jejak Eliza V. Handayani. Tersebutlah dalam sebuah keterangan bahwa si Penulis melanjutkan studi mengenai perfilman di Negeri Paman Sam.

Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saat mengunjungi sebuah toko buku, saya menemukan kembali nama tersebut di deretan rak buku .  Dengan cover dan judul tak menarik, saya membulatkan tekad membeli buku dengan jumlah halaman 130 lembar tersebut. Sangat tipis untuk ukuran sebuah novel.

Baru setengah jalan membaca buku tersebut, rasanya saya mau muntah. Saya memang tak mengerti banyak tentang kaidah-kaidah penulisan novel. Tapi sebagai penikmat, saya merasa ada yang salah dalam buku ini. Ibarat bayi, maka buku ini cacat. Tak pantas disebut novel. Ada bagian-bagian yang tak lengkap. Alurnya tak sempurna, setting-nya abstrak, tokoh-tokohnya tak berkarakter.



Saya bahkan kebingungan, apakah ini cerpen atau novel. Ide ceritanya bagus, tapi dan seharusnya untuk sebuah  novel bisa dikembangkan hingga 400 halaman untuk cerita serumit ini. Terbaca jelas bahwa novel ini adalah kumpulan catatan harian si penulis yang terbitkan dengan editing ala kadarnya.  Ada warna seorang feminis yang desperate. Sebuah keputusasaan yang merujuk pada tindakan menyakiti diri sendiri, kegagalan studi, dan beberapa kali percobaan bunuh diri.

Rabu, 12 November 2014

Perpustakaan Freedom Institute

Saya tahu mengenai perpustakaan Freedom Institute ini sudah lama. Lewat twitter kalau tak salah. Agak penasaran namun kemudian lupa.  Belakangan saya punya waktu luang cukup banyak. Maka ada baiknya mengunjungi tempat-tempat yang dulu sempat ingin saya kunjungi.

Setelah saya skrining, lokasi Freedom Institute lah yang paling gampang saya jangkau.  Letaknya di Jalan Proklamasi No.41. Tepat di seberang Tugu Proklamasi terdapat Wisma Proklamasi.  Perpustakaan Freedom Institute ini berada di dalamnya.

Bersih, rapi, dengan desain modern. Jangan kawan bayangkan seperti perpustakaan tua di setting film Ada Apa Dengan Cinta ?. Penerangan yang memadai, AC dengan dingin yang pas, serta sofa dan kursi malas. Membuat saya beberapa kali terlena dan hampir ketiduran. Jangan khawatir, Untuk masuk dan menjadi anggota perpustakaan, semuanya gratis.
Freedom institute jakarta
Perpustakaan Freedom Institute


Pada hari-hari tertentu, kerap diadakan diskusi di perpustakaan ini. Umumnya mengenai demokrasi dan ekonomi, yang memang menjadi fokus lembaga Freedom Institute.

Freedom Institute Library

Jumat, 31 Oktober 2014

Where will you stay?* #18


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Angel’s Cottage di Gili Trawangan, Lombok

Kembali mengunjungi ke Gili Trawangan, kali ini dalam rangka bulan madu.  Tahun 2011 lalu, saya mencari penginapan setelah sampai di Gili Trawangan. Akan banyak pemuda yang mendekati turis-turis yang baru tiba dari kapal, lalu menawarkan penginapan.  Harga penginapan pun bisa ditawar.

Gerbang- Angel's Cottage
Namun, kali ini saya memesan penginapan sebelum tiba di Gili lewat situs pemesanan online. Mengingat beberapa kali pengalaman saya bahwa memesan online hampir selalu lebih murah ketimbang memesan langsung di penginapan. Ternyata pengalaman tak selamanya sama. Gili Trawangan bisa jadi sebuah pengecualian.

Dari foto-foto Angel’s Cottage di internet, saya tergoda dengan kasur yang dilengkapi kelambu. Menginap di kawasan pantai, nyamuk bisa jadi pengganggu yang sangat mengganggu tidur.

Tempat tidur berkelambu- Angel's Cottage

Kamar mandi- Angel's Cottage
Angel's cottage- Gili Trawangan, Lombok

Saya memesan sehari sebelum tiba di Lombok, dengan rate 400 K/ malam, Angels cottage termasuk mahal untuk kawasan Gili Trawangan. Kesalahan pertama saya termakan review dan penilaian bagus Angel’s Cottage di situs tersebut. Kesalahan kedua, saya tak memeriksa detail lokasi Angel’s Cottage. Memang tidak ada keterangan alamat lengkap cottage ini.  Masih terbilang baru di dirikan, tak semua penduduk lokal tahu letak Angel’s Cottage. Saya harus menanyai beberapa orang, hingga sampai pada pemuda yang mengenal cottage ini. Saya diarahkan pada sebuah gang. Di pintu gang, baru tertera plang nama Angels cottage sekaligus penunjuk arah. Rupanya lokasi cottage ini cukup menjorok ke dalam. Saya masih harus berjalan beberapa ratus meter dari Mesjid Besar Gili Trawangan. Tahun 2011, saya juga menginap di penginapan dekat mesjid. Dulu hanya 100 K/malam. Kini ketika saya check secara online, penginapan tersebut rate nya sekitar 450 K/malam.

Kembali ke lokasi Angel’s cottage yang cukup menjorok ke dalam, sangat tidak disarankan kalau kawan membawa barang cukup banyak. Saat ingin pulang, saya memilih naik Cidomo menuju tempat penyeberangan dengan ongkos yang lebih mahal dari taksi, 50 K untuk sekali jalan.

Kamis, 30 Oktober 2014

Where will you stay?* #17



“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”

But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Aerotel Tastura Hotel di Kuta, Lombok

Sebuah hotel tua dengan halaman maha luas. Agak ‘wagu’,  hotel ini bukan resort, tapi juga kurang pantas disebut hotel.  Bangunannya mirip cottage. Saya menduga, barangkali dulu hotel ini pernah menjadi primadona. Akibat letaknya yang persis di Jalan Raya Pantai Kuta. Hanya tinggal menyeberang jalan untuk sampai ke Pantai Kuta. 

Halaman yang maha luas- Aerotel Tastura Hotel

Namun kini cat di kamar dan kamar mandi banyak yang mengelupas,  wastafel berkarat, serta bau apek yang tercium di sekeliling ruangan. Menandakan betapa kuno hotel ini.  Kondisi kamar berkebalikan dengan halaman luas yang indah serta penampakan hotel ini dari luar. Sehingga saya kehilangan minat untuk memotret kamar dan kamar mandi. Mungkin sekarang hotel ini kalah saing dengan homestay, resort, dan hotel-hotel yang baru  bermunculan di kawasann ini.

Bangunan kamar yang saling terpisah- Aerotel Tastura Hotel

Saya datang tanpa mem-book terlebih dahulu. Publish rate untuk kamar standard 550 K/malam. Dan lalu  staf hotel menawarkan bahwa hari itu ada diskon, rate nya 450 K/malam. Saya terbiasa memesan hotel via situs online, seringnya saya memperoleh harga lebih murah. Benar saja, dalam sebuah situs online pemesanan hotel, rate Aerotel Tastura Hotel 330 K/malam. Ketika saya konfirmasi, staf hotel malah berkilah bahwa untuk hari itu pemesan via online sudah tidak bisa dilakukan. Tentu saja saya tak percaya. Saya ngotot memesan secara online.  Agak lama, karena kecepatan internetnya gak stabil. Sampai seorang staf hotel menawarkan harga 370 K/malam, itulah publish rate mereka jika memesan lewat situs pemesanan online.

Suasana hotel cukup tenang. Terus terang saya lebih menyukai daerah Pantai Kuta Lombok, setelah sebelumnya saya menginap di Gili Trawangan yang sangat hippies dan meriah.  

Terdapat kolam renang kecil di halaman yang maha luas.  Tak ada sambungan tv kabel, sehingga saya hanya menonton siaran langsung pernikaha Raffi Achmad di saluran tv lokal. Kamar mandi yang terbuka atapnya. Jika mandi di malam hari, hati-hati bisa diintip bintang-gemintang.  Staf hotel yang ramah serta wifi yang hanya ada di lobi nun jauh dari kamar.

Kolam renang- Aerotel Tastura Hotel


Hotel Boutique Zia di Batam

Tiba di Bandara Hang Nadim, Batam, saya masih bingung mau menginap dimana. Masih dengan mengandalkan situs pemesanan hotel online, saya mem-book hotel ini. Agak tergesa-gesa dan hanya mengandalkan review dan jumlah bintang dari pengunjung. Hotel ini masuk kategori yang banyak direkomendasikan dengan nilai baik.

Lobi- Zia Boutique Hotel
Untuk membandingkan, pertama-tama saya langsung menelpon ke hotel. Staf hotel menjawab rate-nya sekitar 450an. Tentu saja kemudian saya memilih memesan online. Di Agoda, rate hotel ini 290 K/malam yang ternyata setelah ditambah tax dsb, menjadi 350 k/malam. Itulah gak enaknya memesan hotel di www.agoda.co.id, publish rate awal dan harga akhir yang dibayar berbeda. Tetapi ada juga situs pemesanan online dimana harga harga awal sudah termasuk pajak, sehingga jumlah yang dibayar akan tetap sama.

Lobi- Zia Boutique Hotel

Minggu, 14 September 2014

Setelah Dua Musim Menunggu

Dua Musim Menunggu


Setelah Dua Musim Menunggu, 

Bangku kosong itu akhirnya terisi juga

Bangku yang menjadi simbol hati,




Kini hati ini juga telah terisi

Semoga kita akan terus duduk bersama. Tak ada yang pergi. Tak ada yang meninggalkan

Dan hati yang saling mengisi satu sama lain.

Hati yang berbahagia

Seterusnya. 

Kamis, 11 September 2014

Where will you stay?* #16


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more


Masjid Sultan di Kampung Arab

Malam itu sambil memanggul tas ransel yang tak seberapa besar, saya berjalan lebih kurang 15 menit setelah  sebelumnya turun di stasiun MRT Bugis.  Masuk ke Kawasan Kampung Arab, saya disambut riuh rendah suara manusia dan komentator siaran sepakbola. Saya cukup surprise. Rupanya inilah tempat hippies ala arab.  Sungguh meleset dari bayangan awal, mengingat template di kepala saya bahwa sesuatu yang berbau arab akan lebih islami dan religius. Ah ternyata Orang Arab pun boleh bersenang-senang.

Saat menemukan hostel ini, saya merasa agak rancu. Di dalam situs booking online tertera Sleepy Kiwi Backpacker Hostel. Dengan mencocokkan alamat, ternyata hostel ini memiliki plang nama agak berbeda, yakni Green Kiwi Hostel.

Sleepy Kiwi Backpacker Hostel


Lokasi Sleepy Kiwi Hostel tergolong strategis. Tertelak dekat sekali dengan Mesjid Sultan di kawasan Kampung Arab.  Dari teras hostel, pelataran Mesjid terlihat jelas. Selain lokasi, hal-hal lain di hostel ini bisa dibilang standard saja.  Kamar tak begitu bersih, kunci kamar manual namun tak pernah di kunci, penerangan kamar sangat redup,  makan pagi yang dijatah (ada beberapa hostel yang makan pagi bikin sendiri, namun bisa sepuasnya), dapur luas, staff ramah, dan fasilitas locker gratis. Yang di  bawah rata-rata adalah kamar mandi merangkap toilet yang  cuma ada dua. Padahal satu kamar dorm female yang diisi 14 orang, belum ditambah kamar laki-lakinya. Syukur antrian pagi hari paling hanya satu atau dua orang. Entahlah, barangkali backpacker memang jarang mandi atau bangun siang hari.

Kamar- Sleepy Kiwi Backpacker Hostel


Minggu, 07 September 2014

Where will you stay?* #15


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

The Villas di Puncak, Jawa Barat.

Kalau mau nyari persewaan kamar, tapi bukan villa, tapi kayak Villa, mungkin boleh coba di The Villas. Lokasinya di daerah Puncak, Jawa Barat. Cuma memang kalau dari Puncak Pass agak jauh. The Villas menyediakan persewaan cottage, maupun Villa yang terdiri dari beberapa kamar, yang tetap bisa disewa per kamar. Di dalam Villa terdapat ruang nonton tipi, dapur lengkap, teras, dan ruang meeting. Cocok juga untuk acara kantor.
Saya sendiri menginap di the Villas karena waktu itu terjebak macet kala long weekend.  Waktu itu saya hendak kembali ke Jakarta dari Cianjur. Jadi mampir di puncak, beristirahat, sekalian liburan dadakan.
Bangunan The Villas kelihatan masih baru, bersih dan terawat. Rate nya lumayan terjangkau, 700 ribuan untuk satu kamar yang  bisa ditempati sekeluarga.

The Villas, Puncak
The Villas, Puncak


The Villas, Puncak


Gawharat Al Fayruz Hotel di Madinah.

Saya menginap di hotel ini saat menjalankan ibadah umroh.  Letaknya berseberangan dengan Hotel Hilton Madinah.  Cuma nyempil sedikit dari Masjid Nabawi. Kalau tidak terhalang Hotel Hilton, maka pelataran Masjid Nabawi akan keliatan dari lantai atas hotel ini.

 Pengunjungnya hampir keseluruhannya adalah jamaah umroh, kebanyakan  dari Indonesia dan Malaysia.
Tipikal hotel bintang tiga yang lumayan. Kasur empuk, alhamdulillah kala itu saya selalu tidur nyenyak. Kamar luas, kamar mandinya pun tak kalah luas. Cocok buat aktivitas lain, semacam mencuci baju.
Sedangkan untuk menu sarapan, saya tak bisa berkomentar. Semua menu makan sudah diatur dari catering travel umroh masing-masing.

Al- Fayruz Hotel, Madinah

Senin, 25 Agustus 2014

Mengintip Jendela Dunia dengan AirASia *

Konon, dari jendela ini, para syahbandar mengawasi segala bentuk kegiatan di Pelabuhan Sunda Kelapa. Utamanya, melihat kapal-kapal yang bersandar dan yang berlayar. Ratusan tahun lalu,  pelabuhan ini adalah yang  tersibuk di Batavia. Jendela di Mercusuar  Syah Bandar inilah saksi bisunya.**
Mercu Suar Syah Bandar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Jendela berarti 1 lubang yg dapat diberi tutup dan berfungsi sebagai tempat keluar masuk udara; 2 tingkap.

Jendela, bisa pula bermakna konotasi. Dalam satu pribahasa yang lazim kita kenal, “Buku adalah Jendela Dunia”, secara tersirat mengisyaratkan jika ingin mengintip secuil dunia beserta isinya yang maha banyak dan maha luas ini, maka membaca adalah salah satu caranya.

Perjalanan, bagi saya pribadi bisa diibaratkan pula sebagai sebuah jendela.  Sebuah usaha untuk sedikit  mengintip dunia, beserta peradaban dan  keberagamannya. Berbagai hal-hal ajaib yang tak mungkin ditemui dalam rutinitas sehari-hari. Kalaupun mampu kita temui, kadangkala, atas nama kebiasaan, kita keburu tak menyadari seberapa berharga hal tersebut.

Keberangkatan

Perkenalan saya terhadap petualangan-petualangan mengintip dunia ini sebenarnya masih terbilang awam. Tahun 2011, saya memulai pekerjaan pertama saya, sebuah full time job. Tentu saja setelah memiliki penghasilan sendiri, saya berusaha memenuhi keinginan-keinginan terpendam. Termasuk mengunjungi destinasi liburan paling umum bagi orang Indonesia. Iya, saya penasaran sekali dengan Bali.

Begitulah perjalanan pertama saya mengunjungi tempat dimana saya tak mengenal siapa-siapa di sana.  Pertama kalinya pula saya menggunakan AirAsia. Tak banyak rute domestik  Air Asia Indonesia kala itu. Hanya ke dua kota wisata di Indonesia:  Yogyakarta dan Bali. Bahkan, saya ingat betul, ketika itu saya belum memiliki kartu kredit, sehingga bertransaksi di AirAsia pun masih meminjam kartu kredit seorang kawan.

Dan karena tak ada kawan yang bisa  menemani, akhirnya saya nekat pergi sendirian. Iya, kadangkala kita hanya butuh sedikit keras kepala, untuk mewujudkan hal-hal semacam ambisi atau wish-list pribadi. Keberangkatansaya ke Bali bertepatan dengan ulang tahun saya yang ke -24. Semacam cara untuk menghadiahi diri sendiri.

Jumat malam, rasa bedebar-debar sudah menghantui. Sebuah sensasi bias antara rasa takut dan senang. Keberangkatan saya pagi sabtu itu disambut cuaca cerah. Melintasi Pulau Jawa menuju Timur. Tatkala melewati Gunung Merapi, Merbabu, maupun Semeru, pilot, mengabarkan dimana sebenarnya pesawat tengah terbang. Mengingatkan penumpang untuk tak melewatkan pemandangan gunung-gunung cantik di bawahnya. Hingga kini itulah satu-satunya penerbangan yang pernah saya alami  dimana pilot berlaku ibarat pemandu wisata.

Pengalaman pertama ke Bali
Dari perjalanan pertama yang mengesankan itu, menjadi semacam heroin yang membuat candu. Saya tertantang melihat lebih banyak, mengintip jendela dunia lewat seri-seri perjalanan lainnya.

Episode perjalanan saya lainnya adalah menjelajahi Penang. Sebuah pulau yang banyak dikunjungi orang Indonesia untuk berobat. Namun, saya tergelitik mengunjungi pulau ini karena membaca review dari seorang blogger yang menikmati kota tua di Penang, sembari menyeruput  kopi penang yang terkenal nikmat. 

Lagi-lagi AirAsia membantu mewujudkan rasa penasaran saya tersebut. Direct flight Jakarta-Penang dengan durasi tak sampai dua jam perjalanan udara. Tentu saja dengan mengandalkan tiket promo. Kendati, pengalaman ke Penang ini menjadi seri terburuk selama saya melakukan perjalanan mengintip secuil dunia. Bukan, bukan karena penerbangannya.