Selasa, 10 Desember 2013

....dan Gunung-Gunung pun Bergema


And the Mountain Echoed, karya terbaru Kholed Hossaini, masih memukau, membuat saya memikirkan ceritanya  hingga terbawa ke alam mimpi. Sesuai review dari New York Times, karya terbaru Kholid kali ini memang lebih complicated. Setting rentang waktu yang panjang antara tahun 1930-an hingga tahun 2010, antara satu tokoh dengan tokoh lainnya  membuat saya harus membolak-balik halaman.  Mengingat keras tokoh-tokoh mana saja, dan siapa ‘akuan’ yang sedang bercerita saat itu.
Empat bab pertama, buku ini benar-benar menyihir saya. Namun di pertengahan, saya merasa Hossaini agak keteteran. Terutama saat ia menceritakan kehidupan Pari di Paris, Prancis. Kurang deskriptif dan terkesan tergesa-gesa. Entahlah, apa memang sumber kekuatan karya-karya Hossaini adalah Afganistan dan kehidupannya yang indah meskipun keras. Iya, setting Prancis, Amerika, dan Yunani di novel ini malah mengurangi kesukaan saya pada novel ini. Cerita membosankan di tengah ini membuat saya ketiduran, dan akhirnya melanjutkan membaca keesokan harinya.
Tak banyak memang buku tentang Timur Tengah yang saya baca. Tiga novel Khassaini, trilogi perjalanan Agustinus Wibowo, serta beberapa buku non fiksi tentang sejarah Islam di Timur Tengah. Bagi saya negara-negara seperti Afganistan, Pakistan, Oman, Arab Saudi, Mesir dan sekitarnya masih merupakan tempat eksotis dengan budaya yang meraksasakan rasa ingin tahu.
Kite Runner,  pertama kali saya menikmatinya lewat film. Film yang membuat saya berurai airmata. Hampir kira-kira satu tahun setelahnya, saya menikmati buku pertama Kholid Hossaini ini. Masih sama mengesankannya. Dan masih membuat saya berurai airmata. Salah satu novel yang paling mengesankan bagi saya hingga detik ini. A Thousand Splendid Sun, juga tak luput menguras airmata. Hanya di novel ...and the Mountain Echoed ini airmata saya absen. Terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak cerita.  Agak bingung saya. Entahlah…mungkin kecerdasan saya gak nyampe untuk menikmati cerita secomplicated itu:p.
                Hossaini masih berkisah soal identitas, darah daging, dan watak manusia. Sekaligus di dalam karya-karyanya, Khossaini seolah ingin menonjolkan bahwa setiap manusia pasti menyimpan satu misteri, satu rahasia, di dalam dirinya. Entah itu suatu kepedihan, kesedihan, kehilangan, hasrat, pandangan hidup, keyakinan, hingga keraguan. Sesuatu jauh di dalam lubuk hati, sebuah persembunyian yang paling sunyi (khafi al-akhfa).
 Dan siapalah saya hingga mau mengkritik karya yang dipuji oleh New York Times ini. Overall, menurut saya novel ini tetap masuk list ‘buku wajib baca’.



1 komentar:

Titis Ayuningsih mengatakan...

Siap ! Rekomendasi dulu ah :)