Minggu, 10 November 2013

People Change



In many way, people change. Yes, people change definitely.

Berubah dalam arti, bisa diibaratkan seperti bunglon, mengikuti lingkungan  tempat mereka berada.
Saya pernah iseng menghitung ada berapa orang yang melemparkan senyum saat berpapasan, misal di lift, ketika menginap di sebuah hotel berbintang. Saya sampai pada kesimpulan: semakin banyak bintang yang dimiliki sebuah hotel, maka semakin sulit menemukan pengunjung yang tersenyum saat berpapasan.
           Lain halnya di hostel atau hotel kelas Melati. Lagi-lagi saya mencoba menghitung.  Saya sampai pada angka lebih dari lima jari. Sepertiga dari orang yang tersenyum itu biasanya akan melanjutkan dengan sapaan atau obrolan singkat.
Lalu bandara, sebuah tempat yang menyimpan banyak kisah tentang orang-oranng yang saling menyapa satu sama lain tanpa mengenal sebelumnya. Kalau lagi banyak kerjaan dan ingin menyendiri, pergilah ke eksekutif lounge.  Wangi, tidak berisik, dan terasa ada batas antara satu manusia dengan manusia lainnya. Tapi terus terang, seringnya saya lebih senang menunggu di ruang tunggu umum. Ada banyak hal yang dilihat. Ada banyak hal yang bisa diperhatikan, dan ada saja yang menyapa. Meski seringnya yang menyapa saya itu ibu-ibu, padahal ngarepnya mas ganteng yang duduk tepat di sebelah si ibu :p
Sampel lain, misal saat perjalanan kereta jarak jauh. Saya pernah punya pengalaman menumpang kereta ekonomi jurusan  Jakarta-Jogja seharga 38 ribu.  Butuh lebih dari dua belas jam, bising oleh pedagang asongan, berbau busuk, berhenti lebih darin hitungan jari dan tangan saya.  Dan pada akhir perjalanan, saya malah  saling mengenal penumpang dua baris kursi ke depan dan ke belakang. Itu terjadi sudah beberapa tahun lalu memang. Sekarang, mungkin lebih banyak yang asyik dengan gadget masing-masing. Tapi bagi saya, tetap terasa ada ruang yang membedakan saat menjadi penumpang kereta  kelas eksekutif.  Semacam ruang yang membuat suasana terasa lebih tenang dan aman. Yang seringnya menggiring pada keterasingan.

     Belakangan saya banyak mengeksplore rumah sakit. Dari Surabaya hingga Medan. Lagi-lagi merunut pada satu kesimpulan yang terbilang dangkal: Semakin mewah rumah sakitnya,  semakin songong pasien-pasiennya. Dua tahun sebelumnya, saya bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah.  Sembilan puluh persen komposisi rawat inap adalah kelas tiga. Sembilan puluh persen pula komposisi pasiennya adalah warga dengan ekonomi menengah ke bawah. Setiap hari saya berinteraksi dengan keluarga pasien. Meski kadang suka ribut, gak tau aturan, suka ngeyel padahal salah, dan jorok minta ampun, tapi saya merasakan berinteraksi dalam kebaikan, keramahan, dan ketulusan. Iya tulus, sesuatu yang bisa membedakan seseorang dengan yang lainnya. Kesan yang langsung bisa ditangkap sepersekian detik.  
      Saya tidak tahu. Bunglonkah yang mengajari manusia? Ataukah bunglon hanya mimikri dari tabiat dasar yang memang dimiliki tiap manusia. Jasad sama, nama sama, individu yang sama. Lingkungan membuat manusia berlaku beda. You eat burger or you have fine dining, then you’ll be totally being different person.


People change in many way. Environment does perfectly. 

4 komentar:

Lulu Wulandari mengatakan...

iya bener....
*banyak merenung membaca tulisan ini..

Kevin Santoso mengatakan...

bener, sekarang orang melihat dari tingkat pendapatan (kaya miskin). semakin kaya, semakin sombong.

komen balik ke http://tipstrikharian.blogspot.com/ ya sist :D

Kevin Santoso mengatakan...

dan juga follback blog saya http://tipstrikharian.blogspot.com/ :D

BlogsOf Hariyanto mengatakan...

manusia sekarang sudah terlalu asyik tenggelam dalam kesibukan duniawinya sehingga lupa untuk kembali timbul menghirup nafas segar dari interaksi dengan manusia sekitarnya, lupa bahwa manusia adalah mahluk sosial yang mau tak mau butuh teman untuk saling bertukar sapa dan senyum..... namun entah kapan.... salam :-)