Kamis, 31 Oktober 2013

Where will you stay?* #8



“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Hotel Sahid Gunawangsa,  Surabaya

Lobby- Sahid Gunawangsa, Surabaya
                Hotel ini sebenarnya bagian dari Apartement Sahid Gunawangsa Surabaya. Jadi ada beberapa lantai dari gedung yang dijadikan apartement dan ada beberapa lantai yang dijadikan hotel.  Dibuka sekitar Juni 2013 lalu, usianya masih seumur jagung. Meski sudah beroperasi, di sana-sini masih terdapat perbaikan. Cuma saya menangkap kesan ‘mau bikin budget hotel, tapi modalnya nanggung’. Bekas apartement yang dipoles, tambal sana tambal sini. Hasilnya? Ya serba nanggung.  
                Kamar mandinya adalah bagian yang paling mengecewakan.  Lebih mirip kamar mandi kos-kosan ketimbang kamar mandi hotel. Sangat sempit dan plain, gak ada hiasan atau ‘pemanis’ sedikitpun.  Saking sempitnya, wastafel pun berada di luar kamar mandi.
Selain kamar mandi, lorong antar kamar juga sangat plain. Bercat putih, kosong melompong dengan penerangan standard. Seperti berada di flat. Saya hanya membandingkan dengan budget hotel lainnya, yang meskipun ruangannya sempit, tapi rata-rata bermain di design interior.  Sempit pun terasa luas. Murah pun terasa agak berkelas. Sahid Grup sepertinya masih harus belajar banyak untuk pengelolaan hotel sejenis ini.
                Sedangkan bagian terbaik dari hotel ini adalah sarapan pagi, wifi dengan akses cepat, dan staf yang ramah. Sewaktu di kamar, saya sempat ditelpon staf hotel menanyakan kesan saya menginap di hotel ini.
Sarapan pagi malah di atas rata-rata budget hotel. Menu bervariasi dan enak. Surabaya, atau Jawa Timur lebih tepatnya, punya cita rasa kuliner yang berkualitas. Setidaknya di lidah saya. Even makanan yang dibeli secara acak di warung atau gerobak di pinggir jalan, rasanya kerap menggoyang lidah.


Kamar- Sahid Gunawangsa, Surabaya

Kamar- Sahid Gunawangsa, Surabaya

Lobby, Sahid Gunawangsa, Surabaya

Hotel Martani di  Tanjung Pandan, Belitung

Hotel Martani, Belitung

Senin, 28 Oktober 2013

Tertutup Kalbu

Cinta, tertutup apakah kau di dalam hatiku?
rasanya sulit sekali menemukanmu

Cinta, bersembunyi dimanakah kau di dalam kalbuku?
aku hampir putus asa menemukanmu.

Apakah sekarang kau mengerdil? Kau mengecil? kau tak lagi peduli pada hati ini?
Kau tak lagi hiraukan dunia? kau tak ingin lagi menunjukkan gejolak rasamu?
Cinta, kemanakah kau kini?
Sungguh, aku malu. aku tak bisa hidup normal tanpamu.

Kembalilah, tunjukkan kekuasaanmu pada hatiku.
Datang kembali cinta.
Buka dirimu seluas-luasnya.
Jangan kau bersembunyi seperti itu.


Minggu, 27 Oktober 2013

Where will you stay?* #7

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Hotel Swiss-Bell Inn, di Medan

Hampir pukul 4 pagi, saya terbangun.  Kaget.  Terkantuk-kantuk saya  memakai jaket, menggunakan bergo, menyeret kaki menuju lift.  Saatnya sahur.  Restoran terletak di lantai satu. Pintu lift terbuka. Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar dari kejauhan.
Mata saya masih merem melek menikmati suguhan nasi goreng yang sudah dingin. Bagian dari sahur ini menjadi nilai minus ini hotel. Entahlah. Mungkin karena sahur.Tak banyak menu yang tersedia. Saya menyangka si koki memasaknya sudah dari tadi malam. Nasi gorengnya dingin. Sisanya hanya ada roti-rotian, buah, dan jus.
Jika mengesampingkan menu sahur yang tidak membangkitkan gairah makan itu, bolehlah hotel ini saya acungi jempol. Kamar standardnya cukup luas dan nyaman. Meski letaknya agak tersembunyi, tapi hotel ini masih berada di pusat kota Medan.  Terbilang murah dengan rate di bawah 400 ribu per malam. Pengunjungnya ramai. Harus sabar untuk check-in dan check out.  Sebagian besar sepertinya business travelers. Sisanya bule-bule yang sedang backpackeran.
kamar swiss bell inn medan
Swiss Bell-Inn Medan

kamar, swiss bel-inn, review, medan
Swiss Bell-Inn Medan

lobi swiss bell-inn medan
Lobi- Swiss Bell-Inn Medan

desain hotel swiss bell inn medan
Swiss Bell-Inn Medan


Edu Hostel, di  Yogyakarta
Hostel ini memproklamirkan diri sebagai  hostel modern pertama di Indonesia.  Letaknya masih di kawasan Ngampilan, sebuah kawasan yang terkenal sebagai daerah oleh-oleh, terutama bakpia.  Gak begitu jauh sih dari Malioboro. Dengan rate 7 USD per malam, hostel ini oke lah. Sistem keamanannya bagus. Baik di lift maupun kamar menggunakan kunci sensor.  Waktu itu saya tidur di female dorm, ada 3 ranjang bertingkat. Satu kamar mandi dalam yang terpisah antara toilet dan shower room-nya. Bersih. Untuk menyimpan barang-barang tersedia loker tanpa gembok. Kalau mau pakai gembok, harus beli gembok lagi. Parkiran luas. Staf ramah.  Dan sudah termasuk sarapan pagi.
review kamar edu hostel yogyakarta
Kamar- Edu Hostel, Yogyakarta
menginap di edu hostel yogyakarta
Tempat tidur dan loker- Edu Hostel, Yogyakarta

Selasa, 22 Oktober 2013

Kalau Ada yang Punya Jawabannya, Bolehlah Saya Mencontek

Jam sudah beranjak melewati pukul delapan malam.  Damri melaju kencang meninggalkan bandara.
Di samping kanan saya, duduk seorang kawan lama. Kawan satu SMA, kawan satu universitas saat dulu kuliah di Yogyakarta, dan kini satu perantauan mengais rezeki di ibukota. Bukan kawan akrab memang, tapi mengingat sejarah kami yang telah kenal cukup lama, membuat obrolan menjadi sekedar bukan basa basi.
Topiknya tentu tak jauh dari masalah pekerjaan dan masa depan.
“Ka, kau tak ingin pulang ke Jambi saja?”,
Tak butuh lebih dari dua detik, saya jawab “Belum”,
“Kalau kau?”, saya balik bertanya.
Ia menggeleng cepat, lebih cepat dari jawaban saya tadi.
“Ada rencana pindah kerjaan?’, saya meneruskan pertanyaan.
“Ya kalau ada tawaran yang lebih bagus. Kau gimana? Sudah betah dengan kerjaan sekarang?”
“So far sih enjoy, tapi planning untuk tahun depan tetap ada. Hidup harus berubah cuii…”
Pertemuan saya dan kawan ini hanya kebetulan. Saya dan dia menumpang satu penerbangan yang sama. Sejak di Bandara Jambi, kami sudah saling bertukar cerita. 
Damri melaju semakin kencang, menembus tol yang melengang. Liburan idul adha sudah berakhir. Lima hari saya meninggalkan ibukota. Sekembalinya, tentu saja tak banyak yang berubah. Lampu gedung-gedung bertingkat masih menyala terang, berbinar gemerlap. Jalanan non-toll masih diramaikan ratusan mobil yang berjalan merayap.
“Jadi sampai kapan kau hidup begini terus, Ka?”, kawan saya bertanya lagi.
Saya langsung membalikkan kepala, melihat wajahnya.
“Sepertinya itu pertanyaan retoris. Pertanyaan itu kau ajukan untuk dirimu sendiri, bukan?”, saya tak mau kalah.
Kawan saya menjawab cecengesan, “Hahaha… tau saja kau. Yah…mungkin kau punya jawabannya. Sapa tau aku bisa mencontek.”
“Hahahaha…”, lalu kami berdua tertawa serentak. Getir sedikit.
Damri berjalan terlalu cepat, saya masih memikirkan pertanyaan kawan saya itu. Kenek di sebelah sopir sudah berseru “Palmerah…yang turun Palmerah…”
Saya segera mengangkat ransel, berpisah dengan kawan ini.  Saya belum memberikan jawaban. Dan sampai detik saya menulis tulisan ini, saya belum menemukan jawabannya.

Mungkin kawan ada yang punya jawabannya?, bolehlah saya mencontek… J

Kamis, 03 Oktober 2013

Sebuah Laporan

Hari ini kerja agak senggang, iseng membuka email-email dari folder lama, ketemu sebuah LPJ ketika masih menyandang status mahasiswa. Waktu itu saya masih aktif sebagai staf redaksi di Pers Mahasiswa Universitas. Saya baca lagi, dan rasa-rasanya, tulisan saya yang dulu jauh lebih enak dibaca ketimbang saat ini :(

Sebuah Laporan

          Saya tidak pernah terpikir untuk menulis di Balsus Maba, karena saya sudah mendaftar untuk KKN. Namun karena ada halangan, saya lalu membatalkan KKN, dan akhirnya ikut menulis di Balsus Maba 2007. Itupun saya tahu dari SMS Iyan,  patner saya menulis, karena saya tidak pernah ikut rapat tema Balsus. Sekarang giliran tugas saya bikin LPJ, tak apa, sembari mengisi waktu luang berlibur di rumah.
Menulis Balsus memang sedikit lebih menantang dibanding Balkon, mengingat artikel yang panjang, dan reportase yang lebih ribet. Namanya juga Balkon khusus, tentu harus menawarkan yang spesial. Terpilihlah tema aktivitas mahasiswa malam hari untuk Balsus Maba 2007.
Saya dan Iyan mendapat jatah menulis tentang aktivitas di sekitar kampus UGM pada malam hari. Daftar tempat-tempat yang harus direportase saya peroleh dari tim kreatif yakni gedung pusat, boulevard, gelanggang, lembah, maskamp, beberapa fakultas, tempat hotspot, dan sekitar GSP.  Dalam hal reportase, tidak begitu banyak kendala karena medan tersebut sudah akrab dengan kami. Yang menjadi agak membingungkan karena saya dan Iyan tidak pernah mempunyai jadwal yang sesuai untuk reportase bareng. Jadilah kami berbagi tugas tempat mana yang harus saya reportase, dan tempat mana yang menjadi tugas Iyan. Tidak di semua tempat kami mewawancarai responden, pada beberapa tempat, misalnya maskamp kami hanya mengamati kegiatan yang ada. Pada akhirnya ketika proses menulis, tidak semua daftar semula tempat-tempat tersebut kami bahas, namun kami kelompokkan pada bahasan kegiatan yang dilakukan, yakni yang berhubungan dengan akademik, organisasi, atau sekedar nongkrong.
Pengalaman hampir setahun di Balkon membuat proses menulis berlangsung lancar-lancar saja, dan tepat selesai sesuai dateline. Fokus tulisan membahas beberapa tempat yang paling ramai ketika malam, dan kegiatan menarik yang dilakukan mahasiswa di situ. Dalam proses editing, saya tak begitu banyak ambil bagian. Karena masalah teknis, ngedit banyak dilakukan di kos Umar (editor), kalau tidak salah hampir 3 malam Iyan menginap di sana. Sedangkan saya tidak mungkin ikut-ikutan, soalnya tidak enak mengganggu mereka berdua (^_^). Karena ketidakikutsertaan saya pula, beberapa keterangan narasumber yang saya wawancarai menjadi cukup membingungkan untuk diedit (Ehem...jadi gak enak). Tulisan selesai diedit, dan masuk dapur produksi sesuai jadwal.(Fuihh...lega..).
Meskipun pada akhirnya balsus (tetap) telat terbit, menurut pandangan saya hasilnya cukup membuat kita (semua) patut merasa puas atas jerih payah dalam proses pengerjaanya, dengan tak lupa mengkoreksi kekurangan-kekurangan yang ada. Semoga kerja selanjutnya dapat lebih baik. Aamin.

                                                                        Kuala Tungkal, 24Des07.

                                                                        Sebuah sore yang tergesa-gesa

*
To be noted: saya harus berlatih menulis lebih banyak, membaca lebih banyak. Saya akui penurunan drastis terhadap kuantitas membaca semenjak saya bekerja. Sewaktu kuliah, saya bisa menyelesaikan 3 buku dalam seminggu. Sekarang? satu bulan satu buku saja rasanya sudah cukup menyenangkan.