Rabu, 18 September 2013

Where will you stay? * #6


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Makassar Golden Hotel, di  Makassar

                Debur ombak berkejaran subuh itu.  Hujan gerimis dan mendung. Tak ada mentari. Deretan huruf membentuk kata ‘Pantai Losari’ dapat saya lihat di kejauhan melalui jendela kamar. Begitu pintu yang menghubungkan kamar dan balkon saya buka, angin menghantam.  Besar, kencang, dan berbau laut. Antara terkejut dan suka. 
               Pagi yang membuat saya mengucapkan syukur berkali-kali. Rasanya mewah sekali.  Ke Makassar dalam rangka berlibur, sendirian,  dan tentu dengan budget yang harus  diminimalisir. Kemarin siang saya mendapat kabar seorang kawan lama sedang bertugas di Makassar.  Ia mengajak saya menginap bersama. Setelah malam sebelumnya saya menginap di hotel kelas Melati. Penginapan tua, kamar sempit dan lembab, kamar mandinya membuat dahi mengernyit dan hidung mengerucut, serta kebisingan suara karaoke yang terdengar jelas hingga dini hari. Jadi mana tega saya menolak ajakan kawan saya itu.
View dari dalam kamar- Makassar Golden Hotel
                Konon, Hotel Golden Makassar ini satu-satunya hotel yang bersisian dengan Pantai Losari. Ia dibangun sebelum sebuah peraturan muncul. Hotel-hotel lain yang dibangun setelahnya, hanya boleh didirikan di jalan yang bersebrangan dengan Pantai Losari.
                Kawan sekamar saya sudah balik ke Jakarta tadi subuh. Jadilah saya menyamar menggunakan namanya. Menikmati sarapan pagi penuh gizi. Untuk standard hotel bintang 3, sarapan paginya cukup memuaskan. Western, tradisional, and Chinese food. Skala 1-10, saya kasih nilai 7,5  deh.
Lobbi- Makassar Golden Hotel
Menikmati sarapan pagi, Makassar Golden Hotel


Grand Aston di Medan

                Menyeruput kopi pagi hari, menikmati pemandangan dari jendela kamar yang berada pada lantai entah keberapa belas. Pertama kalinya menginjakkan kaki di Medan.
                Pengunjung hotel cukup ramai. Saat itu musim libur, meski saya ke Medan bukan dalam rangka berlibur. Menurut rekan kerja yang asli Medan, bangunan hotel ini dulunya adalah bagian dari Bank Indonesia.  Berada tepat di pusat Kota Medan, tepat di seberang Merdeka Walk.
Kamar, Grand Aston Medan



                Tiga hari saya menginap. Dengan rate 600-700an, hotel ini menawarkan fasilitas dan pelayanan hotel bintang 4 yang memuaskan. Sarapannya oke. Banyak varian menu. Rasanya pun menggoyang lidah. Good  food, good taste. Kamar luas, lokasi strategis, harga bersaing. Yang agak mengecewakan hanya kolam renangnya.  Kecil, bentuknya gak menarik, dan outdoor.
Grand Aston Medan

Kamar, Grand Aston Medan


*review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis. 

5 komentar:

vina devina mengatakan...

wah mewah banget, keren deh

armae mengatakan...

Wahaaa..menggantikan teman. Eh emang bisa mbak? Gak di cek yah katepenya? Aku kok tiap nginap di hotel berbintang mesti di cek yahh :3

R. Melati mengatakan...

Temenku kan udah check in duluan. Klo pas check out kan gak di cek lagi identitasnya :p

Sri Efriyanti Azzahra Harahap mengatakan...

Wuiih, mbak Rika udah nginep di Aston. Zahra belum pernah kak :((
Asik dah mbak yang jalan2 terus :D Ntar Za pengen gitu juga ah ^^

R. Melati mengatakan...

Zahra. Hehe semua ada waktunya. terus usaha dan doa. That's all :)