Sabtu, 28 September 2013

Cerita Soal Mengurus Visa Amerika Serikat

        Agak terlambat. Senin pagi semua dilakukan dalam keadaan serba malas. Pukul setengah 6, terlambat setengah jam dari rencana semula, saya baru berangkat dari kos. “Mbak tau tempatnya?”, tanya abang sopir, “Enggak, cuma bawa alamatnya. Kayaknya sih di dekat monas. Nanti cari-cari dulu deh”, jawab saya sembari nyengir. Malu bertanya sesat di jalan. Untungnya kala itu saya cukup sekali bertanya.
           Kedubes Amerika Serikat (AS), gak kayak kedubes lainnya yang berupa gedung besar dan mewah. Lebih mirip camp militer, kata seorang kawan. Cuma dikelilingi pagar tinggi. Gak keliatan bangunan-bangunan di dalamnya. Yang membuat saya menyadari tempat itu merupakan kedubes AS adalah antrian mengular di pintu masuk. Terdiri dari orang-orang yang berpakaian necis dan masing-masing menenteng map. Saya di-drop sopir kantor, melapor pada security, menunjukkan passport, kemudian ikut masuk barisan antrian . Jam 6 pagi, tak banyak kendaraan lalu lalang di Jl. Medan Merdeka Barat. Puluhan orang di depan saya masih berdiri stagnan. Dan hanya butuh beberapa menit untuk menambah antrian di belakang saya menjadi beberapa belas orang. Bapak-bapak di depan saya yang akan mengurus visa untuk kedua kalinya, visanya yang pertama sudah expired, berkomentar: “Ya beginilah, bahkan kanopi saja tidak ada. Makanya saya memilih wawancara jam 7, kalau jam 9, antrian lebih panjang dan tentu saja lebih panas”. Saya mengangguk tanda setuju. Tiap harinya ada ratusan orang mengantri, berdiri, dan berpanas-panasan. Kalau musim hujan, ya mungkin berhujan-hujanan juga.  Demi permohonan ijin tinggal di AS.  Rasa-rasanya memang  seperti bangsa kelas dua.
Saya agak heran melihat banyaknya pemohon visa yang membawa handphone, memakai ransel dan tas jinjing besar. Saya sendiri hanya membawa tas kanvas seukuran map berisi dokumen-dokumen plus dompet dan sebuah buku. Dari beberapa review blog yang saya baca, pemohon visa tidak diperkenankan membawa tas berukuran lebih besar dari dokumen serta tidak ada penitipan untuk handphone dan barang elektronik lainnya. Ternyata kedua hal tersebut tidak terbukti saat saya mengurus visa kemarin (catatan saya mengurus visa akhir Agustus 2013 lalu). Memang handphone, laptop, tablet, kunci mobil yang ada remotenya, token, serta makanan dan minuman tidak boleh dibawa masuk. Akan tetapi bisa dititipkan di security saat awal pengecekan. Sedangkan tas, untuk tas ransel akan ditandai petugas, but  overall semua tas bisa masuk.
Setelah melewati security check, saya digiring menuju deretan kursi tepat  di samping lapangan basket . Agak rancu, jangan-jangan kami semua akan disuruh nonton basket terlebih dahulu :p. Rupanya ini adalah antrian pertama untuk penyerahan bukti konfirmasi wawancara, passport, dan pas foto. Nanti sebagai imbalan, si  tante bule di loket akan memberikan kartu berupa nomor grup tertentu. Peserta wawancara akan dibagi ke dalam beberapa grup. Setelahnya saya digiring masuk ke dalam beberapa lapis pintu menuju ruang wawancara. Kali ini saya bernafas lega, ruangannya lebih layak. Ber-AC dengan tempat duduk selayaknya kursi tunggu
.Hingga pukul 8.05, belum ada tanda-tanda wawancara akan dimulai. Malahan terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa sistem komputernya sedang ada masalah. Yang berarti saya harus menunggu lebih lama.
*

Sebelum sampai pada tahap wawancara, ada beberapa langkah yang harus dilalui. Konon, mengurus visa Amerika ini paling ribet diantara visa-visa  lain yang harus diurus seorang pemegang passport Indonesia. Satu-satunya yang gak bisa diurusin lewat travel agen.  Tapi kalau mau disederhanakan, ada 6 hal utama yang harus kawan lakukan: 1) Membuat pas poto 2) mengisi form DS160 (dilakukan online) 3)Melakukan pembayaran di bank  4) Menyiapkan dokumen fisik 5)Menentukan jadwal wawancara  6)Melakukan wawancara.
Kelima langkah sebelum wawancara tidak harus dilakukan berurutan, tapi penting untuk diperkirakan waktunya secara matang. Misalnya kawan menentukan jadwal wawancara senin depan, sedangkan surat sponsorship baru dikirim minggu ini dari Amerika. Just in case suratnya belum nyampe saat jadwal wawancara tiba kan bisa kacau. Saya waktu itu menggunakan JNE dan suratnya sampai di Jakarta dalam waktu 4 hari.
Untuk pas foto, sesuai rekomendasi orang-orang, saya membuat pas foto di Jalan Sabang.  Memang spesifikasi foto dan ukuran cetak foto untuk visa AS ini tidak lazim. Selanjutnya saya melakukan pembayaran 180 USD, bisa di Bank Permata atau Standard Charter. Curangnya, diterima atau ditolak visa AS-nya, uang tidak bisa kembali.  Saya baru melakukan pengisian DS-160 saat dokumen fisik sudah lengkap semua. Sebenarnya pengisian DS-160 ini masih bisa diedit selama pemohon belum mengkonfirmasi jadwal wawancara. Dokumen yang perlu kawan siapkan saat mengisi DS-160 antara lain: passport, kartu keluarga, KTP, booking tiket dan alamat tinggal di Amerika. Sedangkan saat wawancara dokumen fisik penunjang yang lazim disiapkan (meski sebenarnya tidak ada ketentuan khusus dari  Kedubes) yakni: surat sponsorship, booking tiket, booking hotel, rekening koran, akte kelahiran, kartu keluarga, asuransi perjalanan, surat nikah, ijasah, dan surat penugasan (jika dalam rangka tugas).
*
                 Hampir pukul setengah sebelas siang.  Suasana mulai kisruh. Saya yang berada dalam grup gelombang pertama berucap syukur. Katanya antrian di luar sudah sangat panjang. Yang mendaftar wawancara tahap satu saja belum mulai. Ditambah antrian wawancara dengan jadwal jam 9 pagi. Engkong-engkong, nyonyah-nyonyah, bapak-bapak, mulai banyak yang  protes. Menunggu 3 jam tanpa barang elektronik dan koneksi ke dunia luar bukan perkara mudah bagi orang-orang yang terbiasa sibuk. Kalau saya sih senang-senang saja, karena berarti bisa bolos kerja setengah hari.

Rabu, 18 September 2013

Where will you stay? * #6


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Makassar Golden Hotel, di  Makassar

                Debur ombak berkejaran subuh itu.  Hujan gerimis dan mendung. Tak ada mentari. Deretan huruf membentuk kata ‘Pantai Losari’ dapat saya lihat di kejauhan melalui jendela kamar. Begitu pintu yang menghubungkan kamar dan balkon saya buka, angin menghantam.  Besar, kencang, dan berbau laut. Antara terkejut dan suka. 
               Pagi yang membuat saya mengucapkan syukur berkali-kali. Rasanya mewah sekali.  Ke Makassar dalam rangka berlibur, sendirian,  dan tentu dengan budget yang harus  diminimalisir. Kemarin siang saya mendapat kabar seorang kawan lama sedang bertugas di Makassar.  Ia mengajak saya menginap bersama. Setelah malam sebelumnya saya menginap di hotel kelas Melati. Penginapan tua, kamar sempit dan lembab, kamar mandinya membuat dahi mengernyit dan hidung mengerucut, serta kebisingan suara karaoke yang terdengar jelas hingga dini hari. Jadi mana tega saya menolak ajakan kawan saya itu.
View dari dalam kamar- Makassar Golden Hotel
                Konon, Hotel Golden Makassar ini satu-satunya hotel yang bersisian dengan Pantai Losari. Ia dibangun sebelum sebuah peraturan muncul. Hotel-hotel lain yang dibangun setelahnya, hanya boleh didirikan di jalan yang bersebrangan dengan Pantai Losari.
                Kawan sekamar saya sudah balik ke Jakarta tadi subuh. Jadilah saya menyamar menggunakan namanya. Menikmati sarapan pagi penuh gizi. Untuk standard hotel bintang 3, sarapan paginya cukup memuaskan. Western, tradisional, and Chinese food. Skala 1-10, saya kasih nilai 7,5  deh.
Lobbi- Makassar Golden Hotel
Menikmati sarapan pagi, Makassar Golden Hotel


Grand Aston di Medan

                Menyeruput kopi pagi hari, menikmati pemandangan dari jendela kamar yang berada pada lantai entah keberapa belas. Pertama kalinya menginjakkan kaki di Medan.
                Pengunjung hotel cukup ramai. Saat itu musim libur, meski saya ke Medan bukan dalam rangka berlibur. Menurut rekan kerja yang asli Medan, bangunan hotel ini dulunya adalah bagian dari Bank Indonesia.  Berada tepat di pusat Kota Medan, tepat di seberang Merdeka Walk.
Kamar, Grand Aston Medan

Kamis, 05 September 2013

Where will you stay? * #5

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”

But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.


Hotel Richie di Malang
                . Pertama kalinya ke Malang, saya memesan hotel ini atas rekomendasi seorang kawan yang berdomisili di Malang. Tepat di sebelah Gramedia, hotel ini merupakan hotel tua yang masih berada dalam area alun-alun Kota Malang. Budget saya 100 ribu per malam.  Ya sekalinya melakukan personal trip, tetap saja saya menjadi traveller kere. Bussiness trip berarti memanfaatkan sebaik-baiknya fasilitas yang ada. Personal trip berarti tekanlah biaya seminimal mungkin, semampunya. Ingat, prinsip-prinsip ekonomi tersebut harus selalu ditegakkan, Kawan.
                Hotel ini lebih mirip rumah tua besar jaman baheula. Kamar saya, sebagai kamar termurah di hotel ini, berada di lantai 3 dengan tangga berkelok-kelok. Kamar tua, ranjang tua, dan kamar mandi yang sepertinya baru ditambahkan. Untuk urusan aerasi, saya hanya bisa membuka jendela lebar-lebar. Jangankan air conditioner, kipas angin pun tak ada. Untungnya Malang dianugrahi cuaca yang adem. Malam hari, saya masih bisa tidur nyenyak sembari menarik selimut.
Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Minggu, 01 September 2013

Where will you stay? * #4

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Hotel Renaissance,  JW Marriot, di Bangkok

         Pertama kalinya ke Bangkok, sendirian pula. Saya hanya membawa nama dan alamat hotel dengan huruf latin. Pas di counter taksi, si mbak-mbak nya ngangguk saja pas saya tunjukkan alamat hotel.  Saya lalu disuruh masuk ke dalam sebuah taksi. Taksi pun melaju kencang. Saya lalu memberikan kembali alamat hotel. Oh ternyata si bapak sopir tak bisa membaca huruf latin. Ia lalu member kode, menunjukkan handphone. Sayang seribu sayang, saya gak kepikiran untuk mencatat nomor telepon hotel.  Udah keringat dingin juga.  Taksi masih melaju kencang. Kemana lagi saya harus mengadu?
Lalu saya ingat  rekan kerja yang base di Kuala Lumpur, sore itu juga akan ke Bangkok dan menginap di hotel yang sama. Tak lama, SMS saya ia balas beserta nomor telepon hotel. Segera si bapak taksi menelpon hotel. Lima menit kemudian taksi melaju lebih kencang.
 To be noted, kalau ke Thailand dengan tujuan alamat tertentu, lebih baik bawa juga alamat dengan tulisan Thailand yang keriting-keriting itu. Seorang kawan, ternyata juga punya pengalaman yang sama. Sendirian ke Bangkok, sudah booking hotel via internet, cuma bawa alamat yang tertera di internet. Kawan saya ini lebih parah, ia gak bisa menemukan alamat hotel, dan akhirnya memutuskan menginap di hotel lain.
Hotel Renaissance ini berlokasi di Ploenchit road, sebuah kawasan pusat bisnis di Bangkok. Well, hampir gak ada cacat selama 3 hari saya nginap di hotel ini. Very welcome staf, sangat ramah, serta menu breakfast dan lunch buffet yang dapat nilai 9 deh.  Mulai dari indian cuisine, western, chinese cuisine, sushi, seafood, dan tak ketinggalan thai food yang yummy dummy. Tom yam yang asem-asem bikin merem melek keenakan, air tahu hangat, lobster dan udang bakar, plus desert ala Thailand seperti ketan yang disajikan bersama potongan mangga dan durian, serta kue sejenis pancake yang ditaburi potongan nanas. Sluurrp.
Kamarnya gak luas. Mungkin karena saya menginapnya di standard room kali ya. Mini bar sangat lengkap. Interior kamar terkesan chic.  Kamar mandi dengan dinding kaca yang memberi efek agak luas plus bath tub yang sangat menggoda untuk digunakan mandi.
menginap di JW marriot bangkok
Room - JW Marriot, Bangkok
Satu lagi yang juga oke adalah first quality linen untuk alas bantal, selimut, dan kasurnya. Meski sama-sama berwarna putih, tetap saja  kelembutan sentuhan kasur hotel kelas melati, bintang tiga, empat, dan lima memang berbeda :p.
                Etapi di hotel mewah begini, ada juga hal yang tidak masuk akal. Air mineral ukuran 200 ml di mini bar dihargai 200 bath, padahal saya membeli sepatu di flea marketnya hanya seharga 150 bath.  Masa harga sepatu lebih murah dari sebotol air mineral ?. Esoknya saya ke Seven Eleven, tau berapa harga air mineral dengan ukuran dan merek yang sama?  cuma 7 bath, sodara-sodara.
kamar di JW marriot bangkok
Kamar mandi tembus pandang - JW Marriot, Bangkok

lobi hotel JW Marriot Bangkok
Lobbi - JW Marriot, Bangkok

mini bar hotel JW Marriot Bangkok
Mini Bar- JW Marriot, Bangkok

kolam renang JW Marriot Bangkok
Swimming Pool- JW Marriot, Bangkok

swimming pool JW Marriot Bangkok
View- swimming pool- JW Marriot, Bangkok