Minggu, 25 Agustus 2013

Where will you stay? * #3

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Saigon Mini Hotel  di Ho Chi minh City, Vietnam.

                Hotel ini masuk jajaran 5 besar hotel terbaik di HCMC menurut review di sebuah situs pemesanan hotel. Tak sia-sia saya mempercayai situs tersebut. Dengan hanya merogoh tak sampai 15 USD permalam, pengalaman saya menginap di hotel ini sangat memuaskan.   
Tampilan luar terlihat seperti ruko, letaknya agak tersembunyi  melewati gang sempit namun masih cukup luas untuk mobil masuk, hotel ini terletak di Pham Ngu Lao, sebuah kawasan yang sangat nge-hits untuk kaum backpacker di HCMC.
                Kedatangan saya disambut dua orang abang ganteng yang dengan sigap membawakan barang-barang saya.  Resepsionis yang ramah dan very helpful memberikan informasi, kamar lumayan luas untuk ukuran budget hotel, tersedia minibar, kamar mandi luas plus bersih, bath dan shower kit nya lengkap, free wifi, pun tersedia beberapa komputer berakses internet di lobby yang juga free.
                Saat check out, saya cukup bilang minta dipesankan taksi.  Tak lama, taksi datang. Dua abang ganteng  kembali membawakan barang-barang saya, memasukkan ke bagasi, membukakan pintu,  menyapa sopir taksi dan mengatakan kemana seharusnya sopik taksi membawa saya.

Saigon Mini Hotel- the room

Saigon Mini Hotel- bathroom

Saigon Mini Hotel- The room

Red Inn Hostel, Penang, Malaysia.

                Hostel ini dipesan melalui situs pemesanan online oleh seorang kawan  Letaknya di jalan Love Lane, jalan yang terkenal sebagai kawasan backpacker di Penang, plus interior dan bentuk hostel yang kata kawan saya itu cukup klasik, menjadi alasan pemilihan hostel ini. Sayangnya, pada hari H kawan saya itu malah batal berangkat.
                Well,  datang ke Penang dengan penerbangan paling akhir dari Jakarta, sampai di kawasan Love Lane sudah sangat malam dan ternyata saya salah alamat pula.  Ternyata  ada dua hostel denga nama Red Inn hotel di jalan Love Lane ini. Sembari menyeret kaki dan rasa kantuk saya menuju ke alamat yang benar.
                Seorang gadis India dengan aksen English yang ke india-indiaan dan hampir tidak bisa berbahasa melayu menyambut saya.  Menyelesaikan administrasi, menunjukkan passport, membayar sisa biaya penginapan, saya lalu memutuskan jalan-jalan menikmati suasana malam dan mengisi perut.  Meskipun termasuk daerah wisata unggulan di Malaysia, Penang ternyata tak seperti Bali.  Belum jam 12, di malam minggu, di kawasan backpacker, jalanan sudah sepi. Saya pun memutuskan kembali ke hostel.
                Lobby hostel sudah terkunci, gadis india sudah tak terlihat. Saya lalu memencet bel. Keluarlah laki-laki cina paruh baya. Sepertinya pemilik hostel tersebut.
Four female dorm, kamar pilihan saya terletak di lantai 2. Ada dua penghuni yang sudah tertidur pulas, masing-masing menempatkan diri di ranjang bawah. Mau tak mau saya dan kawan harus tidur di atas. Saya kebagian sial. Langit-langit kamar saya rendah. Air conditioner diletakkan tak sampai 3 meter dari kasur. Saat saya berbaring, AC berada  yang tepat dibawah muka saya.  Malam itu saya bermimpi tidur di kutub utara.
 
kopi penang yang terkenal nikmat- breakfast- Red Inn Hostel


Tangga- Red Inn Hostel

Ruang rekreasi- Red Inn Hostel
Free akses internet- Red Inn Hostel

Posisi AC yang tidak manusiawi

Hostel di daerah Puduraya, Kuala Lumpur.

Hostel ini saya dapati secara insidental.  Tepat saat adzan subuh berkumandang, bus yang membawa saya dari Hyat Yai tiba di Terminal Puduraya, Kuala Lumpur.
Dalam keadaan setengah sadar dan ngantuk berat, saya dan kawan-kawan sepakat mencari penginapan, sekedar untuk meluruskan kaki dan mandi.  Dalam jangkauan mata, saya menangkap plang hostel ini.  Seorang laki-laki india terkantuk-kantuk menyambut kedatangan kami. Berjanji untuk segera check out saat matari menyingsing, saya dan kawan-kawan mendapat potongan setengah harga.
Enam kasur di dalam kamar masih rapi. Tak ada  penghuni. Kasur busa tipis berbau apek menyamput saya. Toh dua tiga jam selanjutnya saya terlelap juga. Sinar matahari menyongsong jendela kamar.  Tidak ada breakfast, hanya air panas gratis yang saya seduh bersama sebungkus energen, yang saya bawa dari Jakarta. Hangat. Saya siap memulai petualangan lagi.
Backpackers inn Hostel, Puduraya

Jangan lupa untuk selalu berfoto

*review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis.


2 komentar:

Gulunganpita mengatakan...

saya suka ruangan bernuansa merah ituu :D

R. Melati mengatakan...

Halloo Pita... itu ruangan yang mana yak? yg terakhir di hostel di Kuala Lumpur?
Iya, nyobain berbagai macam penginapan itu nyenengin loh :D