Sabtu, 24 Agustus 2013

Where will you stay? * #2

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Penginapan di Gili Trawangan, Lombok
Dalam liburan berdua kawan ini, saya berkenalan dengan dua orang pria. Duo laki-laki yang sedang dalam rangka tugas kantor dan menginap di Daerah Senggigi.  Mereka  iseng ke Gili Trawangan, berencana pergi pagi dan pulang sore. Siapa sangka, ombak sungguh tak bersahabat.  Tak ada lagi perahu yang akan mengangkut penumpang kembali ke Lombok sore itu.
                Begitu menginjakkan kaki di Gili Trawangan, atmosfir liburan langsung terasa. Seperti terlepas dari rutinitas dunia. Hilir mudik manusia berseliweran. Jogging, jalan kaki, naik Cidomo, maupun bersepeda.  Menengok ke sekeliling pantai, ada yang berjemur, baru pulang snorkeling, berenang, penduduk lokal dengan perahu-perahunya.  Pasir putih dan langit biru melatarbelakangi. Ah surga dunia.
Sore itu, setelah perkara ombak besar yang bikin merinding itu, keberuntungan mengampiri saya kembali.  Sempat bingung dan bengong pada banyaknya tawaran penginapan dari abang-abang, dan mbak-mbak yang menghampiri. Kami berempat sepakat mengikuti seorang mas-mas dengan penawaran termurah, 100 ribu/malam. Perlu jalan kaki sekitar 10 menit dari jalan utama.  Tak menghadapa langsung ke pantai, tapi justru letaknya yang agak pelosok ini memberi ketenangan dari hingar bingar deretan kafe di pantai.
Pemilik penginapan ini menyulap sepetak tanah kosong di halaman rumahnya menjadi beberapa kamar. Lebih mirip bungalow dan lebih pantas disebut petakan. Bersih, kasur spring bed, twin, kipas angin, serta kamar mandi dalam. Di pagi hari, pemilik dengan senang hati menyediakan teh manis hangat, serta air panas. Nilai kurang hanya air di kamar mandi yang terasa asin.
losmen, hotel, guest house, gili trawangan
Penginapan di Gili Trawangan, Lombok

Berpose di depan kamar


Mony hostel, Singapore.
Ada cukup banyak hostel murah di Singapur, sayangnya sepanjang penjelajahan saya di dunia maya, hostel murah dengan fasilitas lumayan itu ada di daerah Geylang, sebuah daerah dengan reputasi kurang baik.
Bolak balik membaca review, akhirnya pilihan saya jatuh pada Mony Hostel dengan pertimbangan harga masih terjangkau, lokasi strategis dan tidak di Geylang, pun punya desain interior yang unik.  Aslinya ketika melihat dengan mata kepala sendiri, ya memang ‘nyeni’.
Entahlah, mungkin warga Singapore memang taat sangat pada aturan. Saya check in jam 1 pagi, dan masih harus menghabiskan waktu hampir satu jam untuk proses administrasi, penjelasan mengenai aturan di hostel tersebut, dan diajak berkeliling hostel demi menunjukkan letak toilet, tempat mandi, bar, tempat makan, ruang rekreasi, sampai pada tata cara meminjam payung, menyalakan dan mematikan lampu, membuat breakfast, sampai  cara membeli air minum.
Begitu masuk kamar, saya disambut dengkuran laki-laki. Sangat sempit, ukuran kamar hanya sekitar 3 X 3 meter, diisi dua tempat tidur tingkat. Kamar ini tanpa kunci, dan barang berharga diletakkan di  loker yang berada di luar kamar. Malam berlalu bersama lantunan dengkur tetangga yang tempat tidur yang sepertinya tidak menyadari kedatangan teman sekamar.
Pengalaman buruk datang keesokan harinya, saat selesai mandi, saya menyadari kamera DSLR saya raib. Entah hilang di hostel ini, entah ketinggalan di taksi saat menuju hostel.  Entahlah….

Sarapan pagi bikin sendiri
mony hostel, singapore, hostel, backpacker
Ruang rekreasi
mony, hostel, singapore, backpacker, lavener street
Tempat bersantai di lantai 2
mony hostel, backpacker, lavender street, singapore
Taman sekaligus ruangan untuk makan pagi


Hotel Pelangi, Semarang. 

Hal utama yang menjadi superioritas Hotel Pelangi ini adalah letaknya yang persis di seberang Stasiun Tawang , Semarang. 
Tiba di Semarang pukul 1 dini hari, jalanan di depan stasiun Kereta Api Semarang sudah sangat sepi.  Kawan saya  lalu mendial nomor  telepon hotel ini.  Di seberang sana, pegawai hotel menyambut telpon  dengan ramah. Kamar kosong masih tersedia. Terlalu ngantuk dan lelah untuk  berpikir, saya dan kawan segera menuju ke sana.
Kamar saya terletak di lantai dua, dilengkapi AC, tidak termasuk breakfast, hanya tersedia teh hangat di pagi hari. Letak kamar mandi yang berada di luar membuat hotel ini lebih terkesan seperti kos-kosan.
pelangi hotel, stasiun kereta api, semarang
Ruang tengah

lobi, pelangi hotel, stasiun kereta api, semarang
Lobby hotel


*review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis. Tidak ada unsur promosi dan atau iklan sama sekali.  


Tidak ada komentar: