Minggu, 03 Maret 2013

Jakarta-Semarang-Malang Overland #5



Pagi ini gelisah sudah menghampiri, 25 Desember 2012, hari terakhir liburan. Hal pertama yang terpikir oleh saya adalah bagaimana caranya ke Surabaya ?.
            Sebenarnya sewaktu kedatangan awal, saya sudah bertanya mengenai pembelian tiket kereta ke Surabaya. “Tidak ada pembelian tiket reservasi, harus dibeli pada hari yang sama. Loket sudah buka mulai pukul 3 pagi”, jawab Mbak yang bertugas waktu itu. Yah namanya orang Indonesia, telat sudah menjadi kebiasaan. Akibat berleha-leha ketika bangun, saya sampai di stasiun pukul 8 pagi. “Tiket Kereta Penataran ke Surabaya tgl 25 Des 2012 HABIS”, sebuah tulisan pada secarik kertas terpampang di loket penjualan. Pupus sudah harapan saya naik kereta ke Surabaya.
            Alternatif lain adalah menggunakan jasa travel atau bus. Bukan perkara mudah mencari transportasi saat kepepet ditambah peak season pula. Setelah menghubungi travel agen yang ke-7, barulah saya berhasil mendapatkan dua kursi untuk tujuan Bandara Juanda.
            .Hari ini tak ada tujuan apa-apa, selain berkeliling kota Malang. Ada beberapa Tourism Information yang saya lihat. Herannya semenjak kedatangan saya ke Malang, tak ada tanda-tanda tourism information tersebut beroperasi. Dari hasil mengamati ini pula, saya membaca salah satu spanduk berjudul Museum Malang Tempo Doeloe. Sepertinya menarik untuk di explore.
Lewat pertolongan google maps, saya akhirnya sampai ke sebuah jalan yang merujuk pada alamat museum tersebut. Kantor Wali Kota Malang paling mencolok diantara bangunan-bangunan yang ada di jalan itu. Saya lalu menghampiri petugas sekuriti yang kelihatan sedang bertugas. “ Wah kurang tau e Mbak”, jawab si bapak. Ya sudah, saya susuri saja jalan tersebut. Ternyata museumnya hanya terpisah dua bangunan dari Kantor Wali Kota Malang, sodara-sodara. 

            Museum Malang Tempo Doeloe terhitung baru berdiri, usianya masih dalam hitungan bulan. Dimiliki oleh seorang seniman terkemuka asal Malang, museum ini menyajikan sejarah kota Malang dari masa ke masa. Mulai dari jaman pra-sejarah, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit,kisah Ken Dedes dan Ken Arok, masuk ke jaman kolonial Belanda, penjajahan Jepang, masa perjuangan kemerdekaan, hingga Malang saat ini. Sangat sangat lengkap untuk ukuran museum milik pribadi.
            Tanpa ada CCTV, tanpa guide, tak ada penjaga di satu titik pun dalam area koleksi museum, tak ada peringatan untuk tidak menyentuh, semuanya menimbulkan rasa curiga dalam diri. Beragam benda bersejarah, yang menurut keterangan telah berumur puluhan hingga ratusan tahun silam, tergeletak begitu saja. Alangkah mudahnya menjadi pencuri di museum ini. 
Tergeletak begitu saja


Sebulan sebelumnya saya  sempat berkunjung ke Singapore Art Museum (SAM). Sangat kontras. CCTV dimana-mana dan ada beberapa penjaga di tiap ruang pamer. Kawan saya waktu itu refleks menyentuh sebuah lukisan , langsung kena semprot penjaganya. Kami lalu diikuti sampai keluar ruang pamer tersebut. Padahal koleksi SAM adalah karya seni yang kebanyakan kontemporer, dan bukan benda bersejarah.
Saya mendiskusikan cukup lama dengan kawan seperjalanan saya, dan akhirnya kami mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar koleksi di Museum Malang Tempoe Doeloe ini mungkin tiruan. Bagaimana mungkin berbagai gerabah, berdasarkan keterangan yang tertulis berasal dari era Sebelum Masehi (SM), dibiarkan tergeletak begitu saja di suhu ruang normal dan berdebu. Ada juga sih yang diletakkan dibalik kaca,  sayangnya kaca tersebut tidak tertutup rapat. Dalam Postulate Spontaneous, dikemukakan bahwa udara dapat membawa berbagai mikroorganisme. Pun dalam kasus ini, jamur bisa saja tumbuh pada koleksi berharga tersebut. Ya saya agak sebel karena tidak adanya keterangan asli atau tiruankah koleksi-koleksi di museum ini.
            But overall, saya suka dengan konsep museum ini. Pengunjung seolah diajak masuk ke lorong waktu. Sistematis dan ada banyak informasi yang tertera. Susunan koleksi, tata letak, dan pencahayaannya pun oke. Saya kasih nilai 7 dalam skala 1-10. 
Berusaha memahami sejarah
Miniatur pasar
Menyusuri lorong waktu
(Masih) menyusuri lorong waktu

Koleksi media massa saat penjajahan Jepang
Salah satu ruang pamer

2 komentar:

Agus Susanto mengatakan...

wew, saia sring ngalor ngidul dimalang, tpi bru tau klo di malang ada museum..

nopanngluyur mengatakan...

baru ngerti juga kalau ada museum ini