Kamis, 27 Desember 2012

Menyesap Kopi di Berbagai Belahan Bumi



Kopi, harum dan rasanya memang bisa membawa khayal melayang-layang, membawa kenangan silam melesat menembus mesin waktu.

Perjalanan dan cita rasa di lidah, kadang tak bisa disingkirkan satu sama lain. Keduanya bisa saling bertautan. Kopi, dengan segala label tempat yang mengiringinya: kopi toraja, kopi lampung, kopi aceh, kopi vietnam, kopi itali, kopi belitung, dan masih banyak lagi, menjadi minuman yang tak pelak harus dicoba kala berkunjung ke suatu tempat. Kadang, hanya dengan membayangkan rasa kopi tersebut, saya bisa merasakan seperti apa suasana hati kala perjalanan tersebut berlangsung. Semacam penanda rasa untuk mengingat.
Berbagai jenis biji kopi

Sebutlah tempat liburan yang paling lumrah dikunjungi orang Indonesia: Pulau Bali. Jikalau Kawan berkunjung ke Daerah Kintamani, selain menemukan Danau Batur, Gunung Batur, dan hamparan kebun jeruk dimana-mana, Kawan pun akan menemukan beberapa tempat peristirahatan (rest area). Uniknya, tempat ini menawarkan parade pengolahan kopi dan fasilitas ici-icip gratis kopi beserta minuman olahan lainnya. Di rest area ini juga terdapat miniatur kebun kopi dari berbagai jenis kopi serta tak ketinggalan sebuah souvenir shop.
Di tempat inilah untuk pertama kalinya saya melihat Luwak dari dekat. Binatang ini dilepas pada malam hari ini untuk berkeliaran di kebun dan memakan biji kopi. Siang hari mereka akan dikurung, sementara biji kopi yang keluar bersama pup dikumpulkan untuk diolah menjadi kopi termahal di dunia. Harga Kopi Luwak. berkisar 5-6 juta per kilogram. Dan untuk pertama kalinya juga, saya menyesap secangkir Kopi Luwak (khusus untuk kopi luwak pengunjung harus tetap membayar). Teguk pertama, mata saya langsung mengerjap. Bukan pahit. Saya merasa ada semacam proses fermentasi di dalamnya. Kopi Luwak cenderung berasa asem. Sebuah rasa yang mungkin hanya akan kaum manusia temukan pada biji kopi yang masuk ke saluran pencernaan Luwak terlebih dahulu.
Pengolahan kopi di Kintamani

Beranjak ke luar negeri. Apa yang paling saya ingat dari Vietnam?. Kopinya tentu saja. Kawan belum ke Vietnam kalau belum mencicipi kopinya. Walaupun hanya sempat berkunjung ke Ho Chi Minh City dan Hanoi, tetapi  saya mengamati, dan berani menyimpulkan bahwa kopi menjadi semacam minuman wajib dalam keseharian warga Vietnam. Analoginya, sesering orang Indonesia minum teh. Pengalaman 25 tahun tinggal di Indonesia, saya berani bertaruh 9 dari 10 orang Indonesia pasti minum teh minimal 1 kali dalam seminggu.
Saya menyaksikan banyak orang menenteng sebungkus kopi dingin di siang hari yang panas. Cangkir-cangkir kopi yang tergeletak di tiap sudut warung makan. Dan lumrah saya menemukan penjual minuman di kaki lima hampir di tiap 200 meter jalan, tentu dengan menu andalan: kopi.
            Subuh itu, saat udara masih terasa berembun, setelah sholat subuh saya beranjak meninggalkan hotel. Berbekal peta di tangan, pagi itu saya berencana mengitari bangunan-bangunan bersejarah di Ho Chi Minh: Reunification Palace, Ho Chi Minh City Hall, Opera House, dan Notre Damne Catheral. Cahaya matahari belum tampak kala saya berhenti pada seorang ibu yang menjual minuman di pinggir jalan. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan berbahasa tarzan, saya berusaha mengatakan bahwa saya menginginkan secangkir kopi susu panas, dan diterjemahkan si Ibu Penjual sebagai kopi pahit dingin untuk menemani subuh saya. Tak punya pilihan, saya menyedot kopi yang sudah tersedia. Wow!, rasanya tidak sepahit yang saya semula kira. Kombinasi plain kopi beserta es batu ternyata enak banget.  
Penjual kopi di Ho Chi Minh City

Beranjak ke Hanoi, saya masih penasaran dengan kopi susu Vietnam. Untunglah saat itu di warung makan ada seorang pengunjung yang bisa berbahasa inggris. Dengan bantuannya, saya memesan Mie Vietnam dan secangkir kopi susu hangat. Sebuah pengalaman kuliner tak terlupakan, dimana saat itu cuaca Hanoi masih menebarkan hawa musim dingin. Menurut saya rasa pahit kopi dan manis susu dalam secangkir kopi susu hangat tersebut berada dalam kadar Light. Pun berlaku untuk kopi Vietnam, tingkat  kepahitannya berada jauh dibawah level kopi standar yang kerap saya nikmati di Indonesia. Tapi Kawan jangan percaya dulu, saya tak punya hak mengeneralisasi atas sampling yang bahkan tidak memenuhi kuota dalam kaedah statistik tersebut. Satu-satunya cara untuk membuktikan, pergi dan resapilah sendiri.
Ketika melakukan perjalanan, satu cara orisinal menikmati kopi adalah: mampir ke warung kopi setempat. Pernah suatu masa di kunjungan pertama saya ke Belitung Timur, waktu itu di penghujung Bulan Desember. Di tengah hujan deras, bersama motor sewaan yang tanpa mantel hujan, saya berkeliling tanpa peta riil dan peta digital. Lelah, dan nyaris menyerah, saya singgah di warung kopi yang terletak di Pasar Gantong.
Capek yang mendera dan dingin yang menerpa membuat rasa gorengan yang saya cicipi terasa nikmat sangat. Boleh jadi gorengan adalah makanan kosmolitan yang tersebar di seluruh Indonesia. Tetapi yakinlah Kawan, cara pengolahan, ragam jenis yang tersedia, rasa tepung  penutup pisang, jenis pisang, besar bakwan, tekstur tahu, dan ukuran tahu: semua detail tersebut menjadi pembeda yang sungguh terasa. Rasa gorengan di Belitung sangat mirip dengan gorengan di kampung halaman saya, sebuah kota kecil yang juga terletak di pesisir Pulau Sumatra.
Tentu saja, kurang afdol rasanya kalau saya tak mencicipi kopi di warung kopi kota yang mendapat julukan Negeri Seribu Warung Kopi ini. Karena belum sempat makan siang, saya tak berani cari perkara dengan lambung. Kafein yang asam akan membuat lambung semakin perih. Secangkir kopi susu hangat cukup untuk stimulator serotonin di otak. Enak, enak, enak, di tiap kali tegukan. Hanya itu yang bisa lidah saya kirimkan ke otak sebagai respon akan rasa si kopi susu.
Bahasa tubuh dan bahasa lisan seseorang menjadi petunjuk paling kasat mata untuk melakukan penilaian awal. Petunjuk ini terbaca oleh seorang bapak yang juga sedang menikmati kopi sambil bersantai di warung tersebut. Seakan tertarik, ia mendekati saya dan mengajak mengobrol. Si Bapak lalu bercerita bahwa Cut Mini pernah menginap di rumahnya sewaktu syuting film Laskar Pelangi. Tak mau kalah, saya pun mengungkapkan bahwa tujuan saya sebenarnya adalah berkunjung ke SD Laskar Pelangi. “Jadi kalian belum sampai ke SD Laskar Pelangi?”, tanya Si Bapak, setengah berteriak diantara angin dan hujan yang semakin deras. “Sudah satu jam kita berkeliling, dan belum ketemu juga. Ini kami mau pulang saja, sudah terlalu sore”, saya menyahut. Penginapan saya di Tanjung Pandan, butuh dua setengah jam perjalanan darat dari Manggar.
“Wah, tempatnya sudah sangat dekat, sayang kalau sudah sampai Gantong, tapi kalian tidak ke sana”.
Diantara belasan orang yang sudah saya tanyai, dan tetap pada ketidak berhasilan, saya mencoba opsi terakhir: percaya pada Si Bapak. Kopi kembali menghangatkan tubuh saya. Semangat membuncah lagi. Arah motor yang sudah akan menuju Manggar saya putar kembali. Si Bapak memberi wejangan berisi petunjuk jalan yang harus saya tempuh. Dan dua puluh menit setelahnya, saya berhasil menemukan tempat yang saya tuju.
See?. Coffe sometimes made you find the way. The way to come back home, The way to find the destination.
Akhirnya menemukan SD Laskar Pelangi

Tulisan ini juga dimuat di jalanteruus.com

3 komentar:

Si Ruslan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Si Ruslan mengatakan...

saya suka kopi, apalagi kopi luwak dan toraja.. mantapp

usemayjourney mengatakan...

Kopi Ho Chi Minh setengah gelas sudah bikin kepala saya muter2..:)