Selasa, 18 September 2012

Menelusuri Benang Merah


Well, the clock is ticking. Dan semua orang, pasti pernah mengejar cinta. Teman saya bilang, target dia tahun ini adalah bertemu calon suami. Target saya tahun 2011 kemarin adalah menemukan soulmate.
Dan 2011 sudah berlalu, saya percaya harapan saya itu mungkin sudah terkabul.
Mungkin orang yang saya cari itu, sudah pernah berpapasan dengan saya di bandara, mungkin dia pernah tinggal satu kota, mungkin dia pernah makan di tempat yang sama dengan saya, atau mungkin dia pernah menuntut ilmu di tempat yang sama dengan saya. Ya ada beratus-ratus kemungkinan. Yang jelas, ini hanya soal membukakan jalan, menyadari, menemukan titik sambung, bahwa dia adalah orang yang saya cari.
            Menilik hubungan saya yang dulu-dulu, memakan waktu tahunan namun akhirnya kandas juga. Mungkin ini yang orang-orang bilang ‘belum jodoh’. Tapi kalau mau di logika, ketika teman saya bertanya, apakah jika cinta lama saya kembali, saya akan menerima lagi?. Nope, thanks. Saling sayang dan nyaman gak cukup untuk sebuah pernikahan. Dua hal terakhir sudah saya peroleh dari hubungan yang terdahulu, tapi nikah butuh lebih dari itu. To handle up the commitment together. Its not easy way. Terutama bagi orang sekeras kepala saya. Bukan soal saling menyetir satu sama lain, tapi untuk berjalan beriringan. Kesamaan visi dan misi dari komitmen itu sendiri.
Saya pernah membaca tulisan, dari sisi pandang agama, mungkin keterhambatan soal jodoh, atau saya lebih senang menyebutnya sebagai soulmate adalah karena kurang sedekah, mungkin terlalu pelit, karena ibadah yang belum sempurna, atau karena kita pernah berbuat salah pada seseorang, dan ia belum memaafkan kita. Ada kekurangan atau kesalahan yang mengaburkan pencarian benang merah ini.
Mungkin memang harus ada yang diperbaiki, dan kami saling bertanya masing-masing. Bukankah untuk memperbaiki, maka kita harus tahu duduk persoalannya seperti apa.
            Menilik dari sesi religi, teman saya ini cukup taat beribadah, yah kalau dibandingkan dengan saya. Tapi habluminannas-nya, saya bilang mungkin ia pernah tak sengaja menyakiti seseorang, atau bsia saja ada maaf yang mungkin belum diperoleh.
            Saya sendiri merasa, sebagai orang cenderung antisocial, habluminannas saya memang tidak begitu memuaskan. Dan semenjak bekerja, larut dalam rutinitas tiada akhir, tenggelam dalam situasi nyaman, God spot saya mengabur, habluminallah saya semakin jauh.
            Menelusuri benang merah itu, sangat berkaitan dengan fate, takdir, jalan hidup, apapunlah namanya.  Mungkin Allah belum membukakan jalan untuk saya menelusuri benang merah yang ada. Atau mungkin jalannya selalu terbuka, hanya saja tidak terlihat. Bisa jadi proses ini merupakan bagian dari tahap menelusuri benang merah tersebut guna menyingkap sedikit demi sedikit jalan yang masih kabur ini. Gud luck kawan… (dan juga untuk diri saya :))

Sabtu, 15 September 2012

City Tour Ho Chi Minh City




backpacking ke ho chi minh city vietnam
Salah satu sudut kota

Ho Chi Minh City (HCMC), formerly known as Saigon, dulu saya bayangkan seperti kota dalam kebanyakaan setting film Jacki Chan: sempit, ramai oleh sepeda dan motor yang saling menyalip,  bangunan berdempet-dempet, dan sesak pedagang kaki lima di bahu jalan.
            Sesampainya di sana, well.. bayangan itu mungkin dapat saya temui jika saya berkunjung 10 tahun yang lalu. HCMC ternyata tidak sesemrayut yang saya pikirkan. Meski kalah dengan Jakarta dari segi infrastruktur dan gedung pencakar langit, but IMO, HCMC lebih bersih. Hanya di tempat tertentu, seperti terminal atau pasar, idem semrawut dan kotornya. Soal traffic, ternyata macetnya juga gak separah Jakarta loh.
            Sebagai mantan koloni Prancis, di HCMC masih banyak tersisa bangunan tua , bersejarah,  dengan arsitektur menawan, dan terawat baik. Satu aspek yang bikin saya (dan mungkin banyak wisatawan lainnya) penasaran untuk berkunjung ke HCMC. 

*foto-foto merupakan koleksi pribadi

backpacking ke ho chi minh city hall
Ho Chi Minh City Hall

backpacking ke ho chi minh city notre dame
Notre Dame Catedral dari sisi samping

backpacking ke ho chi minh city notre dame
Notre Dame Catedral dari sisi belakang

Rabu, 12 September 2012

Belari Menuju Kebahagiaan


Berlari menembus awan
menempuh ribuan tantangan
menata harapan
menjelajah ketamakan
dan berkubang pada kekotoran

Berlari menembus hujan
berserabut lumpur
menjejak pada keserakahan
tersungkur pada rotasi bumi

..............aku ingin menjadi orang berguna
dan tentu saja tetap bahagia

melompat-lompat pada kibaran awan
berjerumut luka
memuntab tawa
bersumpah serapah makian

...............aku tetap akan berlari
dimana kebahagiaan itu ada
akan tetap aku cari
sampai waktuku tlah tiada

tertawa,
merasakan seluruh aliran darah mengalir deras
oksigen menjadi berkabut dan berbau harum.
bukan harum surga. bukan kabut buta.
Tapi kabut selapis tipis.
Menutup sebagian derita.
Mengganti sedikit kenyamanan.
Membawa bulir-bulir uap cinta. Hal terindah yang pernah turun ke bumi

cinta pada hal-hal yang membuat aku selalu jatuh cinta pada kehidupan.

Aku akan berlari menuju kebahagiaan.

Pastikan aku, Tuhan...


Sabtu, 08 September 2012

Belajar Beryukur

Tak hanya mengeluh
marah-marah
misuh-misuh pada Tuhan,
Lalu terjebak.

Tak hanya bermenung
menyesali
Lalu membenci kekinian yang dimiliki

Tak hanya memikirkan yang tak berhasil
sedih
lalu menyumpahi apa yang telah diberi

Apa yang datang
Apa yang pergi
Apa yang lepas
Apa yang lalu dimiliki
Apa yang menjadi ingin
Apa yang berbentuk kenyataan
Tak lepas dari ketidakseimbangan

Itulah wujud kehidupan
...Karena ini bukan tentang negeri dongeng...

Senin, 03 September 2012

Sulitkah Menurunkan Berat Badan ?


Pertanyaan yang juga kerap diajukan kawan dan kerabat adalah bagaimana menguruskan badan, dengan cara cepat dan alami. Karena saya tidak pernah gemuk, saya tak tahu bagaimana sulitnya menguruskan badan. Kalau saya sendiri, cukup sakit 2 hari, bisa turun 3-4 kg.
Pertanyaan tambah pelik karena kawan saya bilang ia ingin kurus secara instant, alami, aman, dan tanpa olahraga atau exercise apapun. Di jaman kapitalisme ini, tak langka menemukan berbagai produk pelangsing berbahan baku alami. Saya sarankan teh hijau dan daun jati belanda. Pada teh hijau ada senyawa bernama tannin, yang memberikan rasa pahit. Saat dikonsumsi tannin dapat melapisi lambung, sehingga penyerapan makanan akan terhambat. Di sisi lain, daun jati belanda memiliki efek diuretik (melancarkan buang air kecil). Dengan cara ini, maka daun jati belanda akan mempercepat metabolisme dan memperbanyak eksresi. Tetapi hati-hati Kawan, terlalu banyak diuretik dapat membahayakan ginjal.
Kawan saya bilang lagi kalau produk-produk pelangsing tersebut tak banyak membantu. Saran saya sih asupan gizinya yang diatur. Berkaca pada pengalaman sendiri, saya kurus dan tidak semua anggota silsilah keluarga kurus, artinya saya tetap bisa gemuk. Tak perlu diet habis-habisan. Porsi makan saya banyak, tapi saya tidak suka ngemil. Bagi saya ngemil itu capek, tidak mengenyangkan, dan buang-buang tenaga.  Saya cukup makan pagi, siang dan malam. Kebanyaka teman saya dengan kelebihan berat badan, porsi makannya justru lebih sedikit, akan tetapi mereka mengunyah terus sepanjang hari. Jadi opsi  pertama untuk kurus adalah tidak ngemil!.
Tips kedua adalah teratur berolahraga. Saya tergolong orang yang rajin berolahraga, dan ini yang membuat saya sebal, sebab olahraga kerap membuat program penggemukan badan saya gagal total. Dan joging adalah olahraga yang biasa saya lakukan selain aerobik. Lupakan soal seberapa banyak kalori yang terbakar dan percepatan metabolisme yang terjadi. Alasan saya berolahraga simpel, saya ingin santai, refreshing, murah, dan tidur nyenyak di malam hari.
Yang terakhir, Kawan bisa kembali ke topik awal tadi, meminum suplemen pelangsing. Baca aturan pakai, jangan sampai overdosis, perhatikan efek samping dan interaksinya pada penyakit tertentu.
Jadi…sulitkah menguruskan badan, Kawan? [RIKA]