Sabtu, 28 Juli 2012

Tentang Sakit


Saya bekerja di rumah sakit, setiap hari saya melihat orang sakit. Gak memandang usia, gak memandang cantik/ganteng, gak memandang uang, gak memandang pendidikan. Mau dokter, professor hebat, bahkan jutawan sekalipun. Nobody can deny illness.
Dulu saya mikir, kenapa sih Allah menciptakan penyakit. Apalagi untuk penyakit tertentu yang belum diketemukan obatnya. Misalnya kanker, memang sih sudah ada beberapa alternative terapi, tapi untuk menyembuhkan 100%. I’m not sure..
Kadang kalau pasiennya ICU atau pasien prioritas pertama di IGD, yg sebenarnya sudah dapat prediksi kemungkinan terburuknya. Bertahan beberapa hari, tersiksa dulu, kemudian akhirnya meninggal. Lalu pasien usia lanjut, seberapa hebatpun ia saat muda, ketika usia menginjak di atas 50 tahun tak pelak berbagai penyakit degeneratif akan menghampiri. Ketergantungan obat selama bertahun-tahun, dan hampir gak mungkin sembuh 100%.
Kalau sedang berada di tengah ruang IGD, kepala saya seketika bisa berputar-putar, diantara bau darah, bau muntah, bau gangren, bau alcohol, bau obat. Too much pain, too much sorrow.
Tapi makin ke sini, saya makin sadar. Ya mungkin juga karena pengalamn saya dua tahun terakhir. Almarhumah ibu yang dulu terserang kanker, seberapapun saya belajar tentang obat, I can’t deny the fate.
Akhirnya saya belajar menerima. Yap..karena Allah itu Maha Penyayang. Bahkan ketika diberi sakit pun, sebenarnya itu adalah penggugur dosa. Kekhilafan semasa muda, dosa-dosa sepanjang hidup. Bahkan sebelum kembali ke Sang Pemilik, manusia masih diberi kesempatan untuk menggugurkan dosa akibat kesalahan di masa lalu. 
Sebab itu tubuh manusia ada batasnya, karena itu setelah berusia 40 tahun maka setiap tahunnya kinerja organ-orang tubuh akan mengalami penurunan 1%, karena itu ada berbagai penyakit seberapa hebatpun manusia punya cara preventif. Bayangkan kalau manusai punya tubuh super hebat, gak bisa sakit, rizki berlimpah, keluarga bahagia. Lalu mau digugurkan pakai apa dosa-dosa selama hidup?.

                                                *

Beberapa minggu lalu saya sempat ikut kelas Akademi Berbagi Jakarta yang membahas soal Management Mind. Pemateri kelas ini adalah Asep Herna, seorang pakar hipnoterapi. Kelas ini bukan mengajarkan bagaimana menghipnotis orang, namun lebih ke dasar-dasar bagaiman kita bisa mengelola pikiran. Terutama alam bawah sadar yang menjadi pengendali sebagian pesar perilaku manusia.
Proses pengendalian pikiran tersebut termasuk rasa sakit. Rasa sakit yang dikendalikan hipotalamus di otak, bisa kita manage dengan pengendalian alam bawah sadar (subconscious mind). Simpelnya kita harus memusatkan pikiran ke hal-hal lain di luar rasa sakit itu.
Lagi-lagi saya teringat almarhumah ibu, yang selama sakitnya, gak pernah sekalipun minum obat-obat penahan rasa sakit kelas berat. Bahkan saat dokter memvonis stadium IV, artinya sudah sampai pada end stage, fase terakhir dari kehidupan sel kanker itu sendiri. Setelahnya sel kanker akan mati bersama inangnya. Saya menyararankan ibu untuk minum morfin sulfate (biasanya memang disediakan untuk pasien kanker stadium akhir). Alih-alih ibu hanya meminum asam mefenamat 500 mg, kadang ia membelah menjadi setengah biji, artinya dosisnya cuma 250 mg.
Sekalipun selama 2 tahun, ibu gak pernah ngomong sakit. Bahkan sampai hari terakhir sebelum ibu pergi untuk selamanya, saya masih tanya: ‘Sakit gak, Ma?’, dan masih dengan jawaban yang sama: ‘Gak kok, gak sakit”. Padahal kanker itu sakitnya luar biasa. How can she handle the pain?
Karena sudah gak bekerja dan hanya berobat saja, keseharian ibu dihabiskan dengan berdzikir. Ibu punya dzikir counter manual, yang kalau saya lihat dari hitungan per harinya bisa sampai ribuan. Sekarang saya tahu, yang ibu lakukan adalah pengalihan fokus, pemusatan konsentrasi. And it works.
Mungkin karena itulah dalam islam, kita juga diajurkan selalu berdzikir (ingat) Allah. Saat senang, saat kesusahan, saat dilimpahi nikmat, saat tertimpa musibah, dan termasuk saat sakit.



Tidak ada komentar: