Rabu, 28 Maret 2012

Catatan Perjalanan: Hanoi dua hari dua malam (Part 1)

At night market
Sore itu saya terbang dari Ho Chi Minh City ke Hanoi menggunakan penerbangan lokal Vietjet Air. Pukul 7 malam, saya sampai di bandara No Bai, Hanoi. Bandaranya cukup besar, ada deretan resto, counter maskapai penerbangan, money exchange (kalau di Indonesia disebut money changer), dan beberapa tourism information. Namun saya tidak menemukan counter pemesanan taksi. Setelah bertanya, ternyata untuk mengggunakan jasa taksi, penumpang tinggal menunggu di sisi luar gedung. Mirip di Bandara Soetta, begitu keluar pintu, akan banyak orang yang menghampiri dan menawarkan jasa taksi.
            

      Waktu itu saya memilih jasa yang ditawarkan seorang gadis yang mengenakan pakaian tradisional, kelihatan cukup meyakinkan. Saya akan menuju daerah Old Quarter, yang merupakan pusat kota Hanoi, ongkosnya sekitar 16 USD dengan waktu tempuh lebih kurang 1 jam. Yang bikin ngeri-ngeri sedap adalah ketika sampai di area luar bandara, saya dioper ke taksi lain tanpa ba-bi-bu. Saya mencoba bicara dengan si supir, menanyakan nama taksi tsb dan bla bla bla. Sayang, kemampuan berbahasa inggrisnya jelek sekali. Semua pertanyaan saya hanya dijawab “Sorry”. Cuaca di luar berkabut, dingin, dan sepi. Dan tambah bikin saya keringat dingin adalah sepanjang jalan si supir sibuk bertelpon ria. Saya sempat bershuudzhon, salah satu penggalan percakapannya bisa saja: “Ini nih aku sudah dapat dua korban, mereka sudah di dalam taksi, kamu tunggu di ujung jalan itu ya”.
Alhamdulillah prasangka saya tersebut tidak benar. Saya mulai bisa menepis keringat ketika suda masuk daerah pemukiman yang ramai. Begitu sampai, saya disambut sepasang suami-istri muda yang sangat ramah. Mereka adalah pemilik penginapan yang sebenarnya merupakan ruko yang disulap menjadi kamar-kamar hotel. Saya kena charge 14 USD/night. Dari segi fasilitas, sebenarnya penginapan ini tergolong mahal. Tapi memang sejak awal saya prefer tinggal di private room ketimbang dormitory yang ditawarkan hostel-hostel. Repot banget kalau saya tidur pun harus mengenakan jilbab.
Sambil menikmati secangkir hangat teh Vietnam, saya ngobrol dengan pemilik hotel. Rupanya sedang ada Night Market  di sepanjang jalan Dong Xuan, Hang Ngang dan Hang Dao. Pasar malam ini hanya buka dari hari Jumat sampai Minggu. Cukup berjalan kaki lebih kurang 10 menit, saya tiba di keramaian. Pemilik hotel membekali kami dengan sebuah peta yang menunjukkan alamat hotel.
Saya hanya keliling, membeli beberapa penganan kecil, seperti  jagung rebus yang digoreng lagi bersama ebi. Saya gak tahu namanya apa, yang jelas rasanya enak banget. Plus membeli buah yang rasanya mirip bengkuang, lagi-lagi saya tak tau namanya apa. Buah ini dijajakan paling banyak di pasar malam tersebut. Tapi rasanya kurang cocok dengan lidah saya. 
Menurut saya kualitas barang yang ditawarkan seperti pasar kaki lima kebanyakan. Tak banyak yang saya beli, hanya sebuah lampu tidur yang desainnya saya suka banget, seharga 60.000 VND. Dan karena saya hanya membawa sebuah jaket tipis dari Jakarta sedangkan cuaca Hanoi masih berkisar dibawah 10°C, tak lupa saya membeli sebuah mantel seharga 350.000 VND.
Tepi Danau Hoak Kiem di malam hari
Sampai di ujung jalan Hang Dao, maka Kawan akan menemukan Danau Hoak Kiem. Di malam hari danau ini kelihatan cantik dengan rentetan lampu neon warna warni di sekelilingnya. Di sisi danau banyak terdapat pedagang makanan, kebanyakan adalah penjual kopi. Saya mengabadikan beberapa potret, lalu beristirahat sembari ngobrol dengan teman seperjalanan. Beranjak pukul 11 malam (tidak ada perbedaan waktu antara Hanoi dan Jakarta), pemiliki toko mulai membereskan barang dagangannya dan pasar malam mulai sepi. Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Istirahat di kamar yang hangat rasanya lebih nyaman. 
            Saya pun harus menyimpan energi untuk perjalanan besok. Tujuan saya adalah Halong Bay, salah satu tempat yang membuat saya bela-belain ke Hanoi.
Bagaimana kisahnya, nantikan postingan saya selanjutnya :D
Jagungnya enyak enyak...
Berpose di depan penginapan
          
Enjoy the ambience of night



7 komentar:

Tama mengatakan...

iramanya detik travel nih.. :)

Eric Strins mengatakan...

Aih...masa sih? Aku kebanyakan baca detik travel kali yak :P
Eh baru sadar, itu nama kakak kok berubah dari Yow jadi Tama. Ada apa gerangan?

Tama mengatakan...

sekarang udah jarang yang manggil Yows, jari berasa aneh, ya sut diganti aja.. :))

Comelo's Talk mengatakan...

salam kenal..
kebetulan saya lg browsing pengalaman ttg vietjet air terlinking ke blog mba. boleh tahu apakah pesawatnya bagus dan nyaman?

trims

Eric Strins mengatakan...

Ada yang kelas eksekutif juga, dg formasi bangku 2-2. Jadi lebih luas, seperti di kereta.
Kalo waktu itu saya pake kelas ekonomi, dan itu sdh cukup nyaman.
Salam kenal juga :)

H 4 8 Y mengatakan...

Salam, saya haby dari aceh rencana akan ke hanoi 23 nov menghadirI undangan seminar, mgk bisa berbagi informasi baik mulai dari pesawat vietnam air, jarak tempuh, taxi di noi bay dan persiapan penting lainnya

Terima kasih atas bantuannya

R. Melati mengatakan...

Halo Haby, bisa aja sih. Boleh kontak langsung via email? atau klik tautan twitter saya :)