Minggu, 01 Januari 2012

Menjejakkan Kaki di Negeri Laskar Pelangi*


Pelabuhan Tj. Pandan
Well, akhir tahun, semua orang memikirkan liburan. Tentu saya pun tak ketinggalan, kali ini tujuannya adalah: Belitung.
Belum lagi berangkat, sudah ada pelajaran moral yang dapat saya petik. Jika kawan akan berangkat pada flight pertama di pagi hari jangan pernah nonton mid night malamnya. Biasa untuk menghemat budjet, saya naik taksi ke pool damri di Blok M lalu ke bandara. Entah bego atau lagi kumat, malamnya saya malah nonton Sherlock Holmes dan baru pulang jam setengah 3 pagi. Alhasil bangun telat, dan keluarlah biaya tak terduga, naik taksi sampai ke bandara.
Rencana awal sampai di belitung, kami akan check in dulu di hotel lalu menuju Manggar. Dari seorang penumpang di pesawat, saya mengorek informasi bahwa ada travel yang dari bandara langsung menuju Manggar. Perjalanan dari Tanjung Pandan-Manggar butuh waktu lebih kurang 1,5 jam, dengan kondisi jalan mulus dan sepi. Biaya 30 rb/orang.
Sesampai di Manggar, saya menyewa motor untuk menuju Gantong, sebuah kecamatan di Belitung Timur. Pelajaran moral ke 2: ketika menyewa kendaraan tanyakan detail kendaraan yang penting. Saya hampir setengah jam mencari-cari bagaimana caranya membukan jok motor untuk mencari mantel hujan. Teman saya sampai menelpon beberapa kawan untuk menanyakan perihal ini. Ketika berhasil dibuka, ternyata mantel yang dicari itu tak ada. Hujan deras, angina kencang, di sekitar hanya ada padang rumput dan ilalang, dan sebuah rumah. Akhirnya saya menumpang berteduh di rumah itu dan disambut seorang ibu yang ramah.
Agak reda, saya melanjutkan perjalanan dan terpaksa membeli mantel di sebuah warung dengan harga 2 kali lipat harga normal. Pelajaran moral ke 3: sedia mantel dan payung ketika berlibur di bulan berakhiran “–ber”.
Ini dia bangunan yang saya cari-cari
Pelajaran moral ke 4: adalah ketika menentukan destinasi, kawan sebaiknya mencari tahu sebutan tempat tersebut oleh penduduk lokal.. Sebenarnya tujuan saya di Manggar hanya ke replika SD muhammadiyah Gantong yang jadi tempat syuting Laskar Pelangi. Ada kira-kira sepuluh orang yang saya tanyai, dan semua memberikan clue yang berbeda-beda. Rupanya orang menyebut bangunan tersebut sebagai SD Laskar Pelangi. Sedangkan ketika bertanya saya menyebut “SD Gantong”.  Sehingga petunjuknya mengacu pada SD Gantong 1,2, dan 3, yang mana benar-benar bangunan SD di sana. Salah nama, berarti salah tempat, dan salah arah. Padahal kami tak membawa peta, dan jangankan untuk menggunakan GPS di Handphone. Teman saya yang menggunakan telkomsel, sinyalnya mati segan hidup tak mau. Sedangkan saya menggunakan 3, dan yakinlah saya adalah saksi hidup bahwa TIDAK ADA SINYAL 3 (Three) di P. Belitung.


Sesampai di Pasar Gantong, saya mampir di warung kopi, mencicipi gorengan dan kopi susu yang rasanya enak banget, serta ngobrol dengan pengunjung dan penjual warung. Dari obrolan inilah akhir saya berhasil menemukan arah yang tepat menuju replika bangunan SD tersebut.
Kalau mau naek kendaraan umum dari Manggar, travel paling sore itu hanya pukul 14.00. Lebih sore lagi, kawan tinggal datang ke Terminal Bus Manggar, di sana ada damri yang berangkat ke Tj. Pandan sekitar pukul 4 sore, dengan rute lebih jauh. Hari itu saya cukup beruntung, ketika sampai di terminal, ada mobil travel ‘tembak’ yang siap meluncur ke Tj. Pandan. Cukup membayar 20 ribu ditemani sound system yahud dengan lagu Yuni Shara versi ajeb-ajeb dan angin sepoi-sepoi yang membuat perut kembung.
Menghadapi peak season, saya sudah booking penginapan sejak dari Jakarta. Tinggal sebut nama hotel, lalu sopirnya mengantarkan kami. Rate 135rb/malam, double bed, televisi, kamar mandi dalam, AC, dan breakfast. Di hotel juga tersedia persewaan motor. 85 rb/24 jam sudah termasuk bahan bakar.
Pukul 5 saya tiba di hotel, meletakkan barang, dan langsung tancap gas. Objek pertama adalah Pantai Tanjung Pendam. Sangat dekat, untuk menjangkaunya hanya butuh waktu 10 menit dari pusat kota. Di pinggir pantai, ada jejeran tempat duduk, taman, deretan warung makan, dan café. Sekilas mirip Ancol, tapi tentu saja dengan kualitas pasir dan air yang lebih baik.
Saatnya mengisi perut, siang hari tadi saya hanya sempat memamah makanan pemberian maskapai penerbangan akibat delay. Tips sangat dasar memilih warung makan ketika tak punya referensi apa-apa adalah: pilih yang paling ramai pengunjungnya. Pada sebuah warung makan, saya memesan sup seafood dan sup ikan tenggiri. Obrolan ringan, riuh rendah warung, lalu hangatnya sup dengan rasa yang sangat original, ditemani semilir angin laut. Hmm…hidup itu nikmat, kawan.
Perut kenyang, saya pun melanjutkan perjalanan. Kesan pertama, kota Tj. Pandan itu tidak besar. Tanpa peta pun,  saya pede berkeliling tanpa takut tersesat.
Sepanjang jalan menuju Pantai Tj. Tinggi

Perkampungan Nelayan Tj. Bingan

Malam hari, ada banyak penjaja makanan di pinggir jalan. Durian adalah makanan nomor 2 teratas yang paling banyak saya temui. Tapi karena kapasitas perut yang tidak memungkinkan, saya hanya membeli sebungkus hoklopan. Hoklopan adalah penganan nomor satu paling banyak dijual malam hari di Tj. Pandan. Hoklopan, kalau di kampung halaman saya disebut apam balik, sedangkan di Indonesia secara umum disebut martabak manis.
Ingin mengintip sedikit keadaan sosial-ekonomi suatu daerah, cobalah kunjungi pasar tradisionalnya. Pagi harinya saya menyempatkan mengunjungi pasar ikan dan pelabuhan Tj. Pandan. Lalu singgah pada sebuah toko yang menjual berbagai asinan ikan. Sekali lagi, orang belitung memang ramah punya. Sempat ngobrol banyak dengan abang-abang yang jaga toko. Dan pulang membawa oleh-oleh hasil laut yang harganya bisa dinegosiasikan ketimbang belanja di toko khusus oleh-oleh.
Hari ke-2 saatnya menyikat pantai. Di Bali atau Lombok, oke banyak tersedia tourism map, tapi tidak di Belitung. Maka prinsip ‘malu bertanya sesat di jalan’ sangat perlu diterapkan. Mungkin masukan bagi bapak Menteri Pariwisata yang terhormat (saya tidak tahu siapa menteri pariwisata saat ini :P) untuk menyediakan tourism map dan segala bentuk petunjuk arah bagi sebagian besar wilayah indonesia yang pariwisatanya masih dalam tahap pengembangan.
Pantai Tj. Tinggi, kalau kawan pernah nonton film Laskar Pelangi, dimana terdapat spot pantai dengan batu-batu besar. Inilah tempatnya. Penduduk sekitar menyebutnya Pantai Laskar Pelangi. Puas foto-foto, saya berputar haluan menuju Pantai Tj. Kelayang. Kalau ingin menyebrang ke P.Lengkuas, P.Burung, P. Babi dan P. Batu Berlayar, maka pantai inilah aksesnya. Di sana banyak terdapat perahu nelayan yang bisa disewa.
Dermaga Pantai Tj. Kelayang

Selanjutnya saya meneruskan perjalanan ke perkambungan nelayan Tj. Binga. Melihat jejeran rumah-rumah yang tepat di belakangnya laut biru membuat saya ngiler. Ingin sekali punya rumah di tepi laut.  
Kembali ke Tj. Pandan, saya menyempatkan menikmati empek-empek dan mampir lagi ke toko cinderamata. Perjalanan kali ini prinsip backpackernya sedikit dilonggarkan. Saya dan kawan khilaf membeli oleh-oleh. Ada kerupuk cumi, kerupuk bakar, asinan asam kelubi, baju, kopi, gantungan kunci, cumi kering, ikan teri, dodol rumput laut, cincin dari akar, dan abon ikan. Yah…mudah-mudahan rezekinya makin dimudahkan, biar bisa tetap jalan-jalan dan belajar banyak dari perjalanan itu sendiri.
Happy holiday ^^

Pantai Tj. Tinggi
*tulisan ini menjadi pemenang hiburan Lomba Travel Writer Menulis Catatan Perjalanan yang diadakan oleh Gola Gong pada Maret 2012

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah keren liputannya..

Anonim mengatakan...

Halo... seru ya trip ke Belitongnya. boleh minta referensi nama hotel dan no telfonnya? trims ya

Eric Strins mengatakan...

boleh.. boleh aku kasih referensi. tapi ini siapa? tolong jangan anonim. thanks.

etar mengatakan...

pengen twh ke belitong,,, detail lengkapnya dong ala backpacker,,, :)