Senin, 30 Januari 2012

1001 Alasan Buat Nge-Blog


Bagi kawan-kawan yang gak suka nulis, atau memiliki anggapan bahwa menulis adalah kegiatan melelahkan dan membuang-buang waktu, pasti merasa aneh dengan aktivitas blogging. Ada gitu sekumpulan orang yang rela repot-repot nulis, posting, dan maintenance blog mereka. Rela menguras uang  untuk koneksi internet dan tentu saja waktu. And Nobody pays for it.
Kalau kawan tanyakan pada saya, maka saya pasti mengangguk segera pada alasan-alasan merepotkan tersebut. Saya akui, saya selalu menyelipkan jadwal untuk menulis postingan disela-sela aktivitas saya. Tapi siapa yang bisa membayar sebuah kepuasan? Bukan apa-apa, ada saat-saat dalam hidup dimana kita perlu mereview apa yang telah terjadi. Blog yang paling rutin saya baca adalah blog kepunyaan saya. Ada perasaan senang atau ketika saya mengangguk sendiri begitu membaca ulang tulisan-tulisan saya di blog ini. 
Alasan kedua, sering ketika sedang blogwalking, saya membaca postingan berupa makan, beli baju, atau hanya sekedar cerita di akhir minggu. Sederhana saja. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Nah dalam sebuah postingan, kita perlu menulis dengan mengangkat tema tertentu, menuliskannya dari sudut pandang berbeda, dan mengemas hal biasa tersebut menjadi menarik untuk dibaca. Tak jarang, setelah blogwalking, saya sering terilhami untuk mencoba sesuatu, melakukan sesuatu, atau menjadi bersemangat kembali. Begitulah blog, menginspirasi, atau kadang cukup sebagai sarana merefresh otak. 
Sebenarnya saya mulai nge-blog (kalau gak salah) tahun 2005. Dulu saya pernah punya blog di wordpress, multiply, dan dua di blogspot. Tapi dulu masih acak adut, tulisan-tulisan curhat gak jelas, terlalu vulgar, design seenak perut, dan bahasa serampangan. Apalagi waktu itu saya berselancar di dunia maya hanya mengandalkan jasa dari warung internet.  Belakangan, saya akhirnya membeli modem agar aktifitas blogging bisa lancar. Saya fokus pada satu blog dan menon-aktifkan sisanya, menghapus postingan gak penting, lalu meniatkan diri untuk konsisten menulis. Tips saya, punya satu blog cukup, yang penting diurus dengan baik, terutama kontinuitas dalam membuat postingan.
Alasan terakhir dan yang paling lazim, karena saya senang menulis. Saya pernah membaca saran seorang penulis, bagi para pemula sebelum memulai project novel atau tulisan lain sekaliber buku, cobalah untuk punya blog dan niatkan menulis secara konsisten. Gak hanya sekedar hobi, kalau mau berkarya lewat tulisan, konsistensi itu yang paling penting. Blog ini lahir pada tahun 2007, dan berumur sudah hampir 5 tahun. Meskipun baru saya urus baik 2,5 tahun belakangan.  Dengan kata lain, blog ini merupakan salah satu trigger saya untuk menulis. 
Well, gak sampai seribu alasan yang saya kemukakan. Kalau kawan mau menambah alasan lain, silahkan. Saya rasa, alasan apapun nantinya hanya akan menggiring pada kata kenikmatan dan kepuasan. Dan ya..,menikmati kenikmatan itu memang gak bisa disamaratakan. 
Last but not least, happy blogging ^.^



Rabu, 25 Januari 2012

Bromo: Another-day of Sunrise You Must See (Before You Die).


Jumat sore sekitar pukul 4, handphone  saya berdering. Telpon dari seorang teman. ”Ka, malam ini kita ke Bromo nyok”. Hanya butuh 5 detik bagi saya untuk menjawab : “Oke”. Dan jadilah kepergian mendadak ini membuat kami terbirit-birit. Pulang kantor, packing, sholat magrib. Lalu pukul 18.30 saya siap berangkat.  
Saya memilih rute dari Probolinggo lewat Surabaya. Waktu tempuh Surabaya-Probolinggo dan Malang-Probolinggo hampir sama, kurang lebih 2 jam. Sedangkan kereta ke Malang itu paling sore pukul 17.30. Jadi saya memutuskan lewat Surabaya.
Jalan-jalan secara mendadak memang membuat persiapan tidak matang. Tapi sesuatu yang insidental itu kadang malah lebih menantang. Dengan antrian tiket yang mengular pada Jumat sore, harap-harap cemas saya terbayar saat tiket Argo Anggrek sudah di tangan. Satu-satunya yang saya tahu, pokoknya sampai ke Surabaya dulu, lalu naik bis ke Probolinggo.
Pukul 3 esok harinya, saya masih teronggok di Probolinggo, menunggu Elf yang belum juga berangkat. Elf ini akan membawa saya ke Desa Cemara Lawang, desa terdekat dari Bromo. Kalau kawan pergi beramai, lebih enak langsung menyewa, sekitar 200 ribu.  Pukul setengah 6 sore, Elf baru berangkat. Ada belasan orang penumpang di kendaraan jenis L300 tersebut, sampai-sampai beberapa penumpang, yang keliatannya penduduk lokal, duduk di atap. Perilaku yang tentu saja tidak patut ditiru. Onkos Elf 30 rb/orang.
Cerita punya cerita, saya berkenalan di Elf dengan 2 orang backpacker dari Bandung, dan satu rombongan dari Malang. Sehabis magrib, tibalah saya di Desa Cemara Lawang. Saya disambut beberapa penduduk lokal yang menawarkan penginapan. Karena tak punya referensi, saya pun ‘ngintil’ dengan dua rombongan ini. Akhirnya kita sepakat menyewa satu rumah seharga 230 rb/malam. Oh ya kalau mau aman dan hemat, jangan lupa membawa bekal. Di Probolinggo saya membeli pop mie, air mineral, dan beberapa camilan.. Tidak ada apa-apa di desa ini selain beberapa warung remang dengan menu utama mie instant, penjual bakso keliling, dan sebuah resto yang di dominasi turis asing.
Banyak artikel yang mereview Bromo sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat sunrise. Then I prove it J. Subuh-subuh buta, saya tersaruk saruk mendaki penanjakan bersama ratusan turis lain, untuk menikmati sunrise. Hmm…saat sunrise tiba, saya seperti melihat gambar di kalender. Ada Semeru di kejauhan, lalu Bromo dengan kawahnya, dan Gunung Batok berdiri di samping, sedangkan padang pasir masih tertutupi kabut tebal menyerupai awan. Saya Cuma bisa bilang subhanallah.
Berurutan( depan ke belakang) : Gg. Batok- Gg. Bromo- Gg. Semeru

Selesai sunrise, saya langsung menuju Bromo. Komentar saya, Bromo itu seperti negeri di awan.  Apalagi ketika sudah sampai di puncaknya. Terlihat jelas hamparan padang pasir, sebuah kuil yang terletak di tengahnya, penduduk lokal yang berkuda, selimut kabut yang menipis. Amazing view!.
Perjalanan pulang jauh lebih lancar. ELF mulai beroperasi pukul 8 pagi. Saya angkat kaki dari Desa Cemoro Lawang sekitar pukul 9. Tiba Probolinggo, saya meneruskan naik bis ekonomi kembali ke Surabaya. Ongkos bis kelas ekonomi 15rb/orang sedangkan AC sebesar 25 rb/orang
Dua jam berlalu, saya tiba di Terminal  Bungurasih, Surabaya. Berdasarkan pengalaman saat pergi, saya naik bus dalam kota dari Stasiun Pasar Turi ke Terminal  memakan waktu hampir satu jam. Ngetemnya itu loh, ampun deh. Maka kali ini saya memutuskan naik taksi ke Stasiun, dan tada…hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Minggu sore (lagi-lagi) antrian tiket kereta mengular. Saat tiba giliran saya, tiket kereta bisnis sudah ludes. Pulangnya saya kembali menggunakan Argo Anggrek dan kali ini keretanya cukup bagus dibanding saat pertama pergi. Menjelang keberangkatan pukul delapan malam, saya sempat ketemuan dengan teman di Surabaya, dan mencicipi nasi bebek di sekitar stasiun. Sepertinya sih khas daerah jawa timur. Dulu kuliah di Jogja, saya belum pernah ketemu yang beginian.
Mungkin memang ada takdir saya dengan tukang ojek. Mulai dari berangkat, tahu sendiri jumat sore itu berarti jalanan Jakarta macet mampus. Dari Pondok Labu, kami sepakat naik ojek sampai Gambir. Lalu di Bromo saya juga memanfaatkan jasa ojek desa menuju Penanjakan untuk  melihat Sunrise, dan dari Penanjakan sampai ke padang pasir di Gunung Bromo. Kebanyakan pengunjung menyewa jeep, tapi berhubung saya hanya berdua, tentu saja lebih hemat menggunakan jasa abang ojek. Sampai di Jakarta senin pagi,  dan sama seperti sore jumat, senin pagi berarti juga macet mampus. Dan lagi-lagi tukang ojek adalah penyelamat kami. Empat puluh menit kemudian sampailah saya kembali dengan selamat di kosan. Dan siap kembali bekerja.

Negeri Di Awan

Jumat, 13 Januari 2012

Thats LIfe should be

Kenali banyak orang, dan ambil satu kebaikan dari masing-masingnya. 
Jika mereka harus pergi satu per satu, maka ingatlah kebaikan itu. 
Ada saat datang, ada pula saat pergi. Thats life should be....

Apa yang pergi, apa yang beranjak, apa yang hilang, maka ikhlaskanlah.
No other choice. Thats life should be...
-catatan pagi hari- 

Selasa, 03 Januari 2012

Pada kamu



Lalu pada semanis senja ini.
Aku mengingat pada kamu
yang pernah menorehkan pelukan hangat.
Rasa sayang yang teramat.

Pada kamu
yang selalu membasuh airmataku
Pada kamu
yang selalu seksama pada bahasaku, pada celoteh malam yang aku tuturkan
Pada kamu
yang selalu tersenyum, lalu mengusap-usap kepalaku
Pada kamu
yang selalu sabar, dan lalu menggenggam tanganku lebih erat.
Pada kamu
aku pernah merasa dicintai
Pada kamu
aku pernah menjadi perempuan paling bahagia.

Pada kamu, aku pernah merasa amat tentram.
Sebuah perasaan tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini,  selain kamu di sisiku.

Pada kamu, yang selalu aku tanyakan:
apakah kamu menyayangiku?
tak pernah kamu jawab
hanya tatapan, lalu genggaman tangan yang semakin mengerat.
pada saat itu aku yakin,
aku dicintai.
Tak ada perasaan paling nyaman di dunia ini, selain perasaan dicintai.

Pada kamu,
yang telah dibawa pergi senja,
telah aku ikhlaskan.
Pada kamu,
masa laluku.

Minggu, 01 Januari 2012

Menjejakkan Kaki di Negeri Laskar Pelangi*


Pelabuhan Tj. Pandan
Well, akhir tahun, semua orang memikirkan liburan. Tentu saya pun tak ketinggalan, kali ini tujuannya adalah: Belitung.
Belum lagi berangkat, sudah ada pelajaran moral yang dapat saya petik. Jika kawan akan berangkat pada flight pertama di pagi hari jangan pernah nonton mid night malamnya. Biasa untuk menghemat budjet, saya naik taksi ke pool damri di Blok M lalu ke bandara. Entah bego atau lagi kumat, malamnya saya malah nonton Sherlock Holmes dan baru pulang jam setengah 3 pagi. Alhasil bangun telat, dan keluarlah biaya tak terduga, naik taksi sampai ke bandara.
Rencana awal sampai di belitung, kami akan check in dulu di hotel lalu menuju Manggar. Dari seorang penumpang di pesawat, saya mengorek informasi bahwa ada travel yang dari bandara langsung menuju Manggar. Perjalanan dari Tanjung Pandan-Manggar butuh waktu lebih kurang 1,5 jam, dengan kondisi jalan mulus dan sepi. Biaya 30 rb/orang.
Sesampai di Manggar, saya menyewa motor untuk menuju Gantong, sebuah kecamatan di Belitung Timur. Pelajaran moral ke 2: ketika menyewa kendaraan tanyakan detail kendaraan yang penting. Saya hampir setengah jam mencari-cari bagaimana caranya membukan jok motor untuk mencari mantel hujan. Teman saya sampai menelpon beberapa kawan untuk menanyakan perihal ini. Ketika berhasil dibuka, ternyata mantel yang dicari itu tak ada. Hujan deras, angina kencang, di sekitar hanya ada padang rumput dan ilalang, dan sebuah rumah. Akhirnya saya menumpang berteduh di rumah itu dan disambut seorang ibu yang ramah.
Agak reda, saya melanjutkan perjalanan dan terpaksa membeli mantel di sebuah warung dengan harga 2 kali lipat harga normal. Pelajaran moral ke 3: sedia mantel dan payung ketika berlibur di bulan berakhiran “–ber”.
Ini dia bangunan yang saya cari-cari
Pelajaran moral ke 4: adalah ketika menentukan destinasi, kawan sebaiknya mencari tahu sebutan tempat tersebut oleh penduduk lokal.. Sebenarnya tujuan saya di Manggar hanya ke replika SD muhammadiyah Gantong yang jadi tempat syuting Laskar Pelangi. Ada kira-kira sepuluh orang yang saya tanyai, dan semua memberikan clue yang berbeda-beda. Rupanya orang menyebut bangunan tersebut sebagai SD Laskar Pelangi. Sedangkan ketika bertanya saya menyebut “SD Gantong”.  Sehingga petunjuknya mengacu pada SD Gantong 1,2, dan 3, yang mana benar-benar bangunan SD di sana. Salah nama, berarti salah tempat, dan salah arah. Padahal kami tak membawa peta, dan jangankan untuk menggunakan GPS di Handphone. Teman saya yang menggunakan telkomsel, sinyalnya mati segan hidup tak mau. Sedangkan saya menggunakan 3, dan yakinlah saya adalah saksi hidup bahwa TIDAK ADA SINYAL 3 (Three) di P. Belitung.