Rabu, 28 Desember 2011

Tentang Pengalaman Pertama



pantai pasir putih di Karimun Jawa
White Shores Everywhere
Perjalanan ke Karimun Jawa ini saya lakukan akhir Maret 2009 lalu bersama seorang teman. Ini adalah trip pertama saya dengan tempat tujuan dimana saya tidak mengenal siapapun di sana. Begitu pun dengan teman saya. Kami hanya bermodal uang yang sangat pas-pasan, rute yang kami ketahui dari hasil mengorek informasi sana-sini dan tentu saja keberanian sebesar gajah.
            Kapal dari Jepara yang menuju Karimun Jawa ada 3 kali seminggu. Dan kami memutuskan berangkat dari Jepara hari Sabtu dan akan kembali hari Senin. Maka berangkatlah kami dari Jogja jumat sore. Saya merelakan bolos kuliah setengah hari jumat dan hari sabtu seharian demi trip ini. Sampai di terminal Terboyo, Semarang sekita pukul 5 sore. Kami lanjutkan perjalanan naik bus ke Jepara dan tiba hampir pukul 9 malam.
            Beruntung saya punya teman kuliah yang asli Jepara dan saat itu sedang berlibur. Kami lalu membuat janji bertemu di Alun-alun. Ternyata teman saya ini tak sendiri. Ia bersama bersama seorang temannya yang ternyata orang asli Karimun Jawa. Huff....dapat guide gratis neh. Saya senang-senang saja walaupun teman saya sedikit tidak suka. Katanya karena perjalanan kami jadi tidak mengasyikkan dan menegangkan.
            Malam itu teman saya mengusulkan (lagi-lagi) untuk menghemat kami menginap di mesjid ato rumah sakit. Tapi saya berkeras untuk tetap hati-hati mengingat kami berdua perempuan, apalagi masih perawan (:P). Alhasil kami memutuskan menginap di losmen dekat pelabuhan dengan tarif 40 rb per malam. Terus terang baru kali itu saya nginap di tempat yang begitu joroknya. Jendela kamar yang tidak bisa dirapatkan, kasur penuh debu, apalagi kamar mandinya tak usah ditanya. Lalu jika ingin kipas angin, kami harus menyewa lagi per malam 5 rb rupiah. Sayangnya malam itu kami tidak menyewa karena alasan penghematan uang. Karena perjalanan yang melelahkan, meski panas dan banyak nyamuk, tetap saja kami bisa tertidur pulas.
Pulau Karimun Jawa
Pulau Karimun Jawa
            Dari Jepara perlu waktu 6 jam naik kapal untuk sampai ke Karimun Jawa. Dengan bantuan si Guide kami akhirnya memutuskan tinggal di rumah penduduk. Sebuah keberuntungan karena jelas menghemat uang. Apalagi karena suatu hal, kapal baru kembali ke Jepara hari Selasa. Penginapan termurah di sana sekita 60 rb padahal uang di kantong hanya 200 rb lebih dikit. Dan jangankan berpikir buat menggunakan kartu kredit atau ngambil duit di ATM. Di sana cuma ada Bank BRI Unit yang tutup karena sedang weekend. Tentunya kami tak ingin ada headline news di koran kriminal ”Dua orang perempuan muda yang tak diketahui identitasnya ditemukan tewas kelaparan di Daerah Wisata Karimun Jawa”. Atau yang lebih mantap  ”Misteri Tewasnya 2 Pengunjung Karimun Jawa”.

Minggu, 11 Desember 2011

ON OFF ID (Pesta Blogger 2011)



pesta blogger 2011 di epicentrum walk
Sudah lama saya ngincer untuk ikutan pesta blogger. Walaupun saya bukan blogger professional. Punya blog cuma untuk kesenangan pribadi. Saya hanya penasaran, seperti apa sebuah pesta blogger. Sekadar membuka cakrawala, mengenal orang-orang dari dunia yang berbeda, tak melulu dunia kesehatan, yang saya akui lebih banyak membosankannya.
pesta blogger 2011 di epicentrum walk
Suasana yang tidak seperti pesta dalam makna lazim
            Penggambaran pesta blogger itu seperti ini: ada panggung utama sebagai centre, lalu ada stand-stand sponsor dan komunitas-komunitas, dan menjelang siang ada bagian yang paling menarik yakni breakout session. Ada 7 ruangan yang tersedia dan dibagi dalam 3 sesi, dengan kuota waktu masing-masing sesi satu jam. Nah tinggal pilih deh mau sesi mana yang menarik buat diikuti. Pengisi acaranya antara lain Indonesia Mengajar, Aku Cinta Indonesa (ACI), Gagas Media, Fiksimini, Stand Up Comedy, ASEAN Blogger, Voice of America (VOA), Sampai Satya Witoelar dan Jerry Aurum.

Senja


Ketiga kalinya hari ini, terdengar tangisan keras. Khas  milik seorang bocah.Tadi pagi suara itu pertama kali terdengar. Salman telat bangun, sadar sudah pukul tujuh lewat, ia hanya menangis dan berteriak kesal karena tak ada seorangpun yang ingat dia belum bangun.  Ibu Salman sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk adik perempuannya yang mulai belajar di taman kanak-kanak.
“ Ibu kira kau tak mau sekolah hari ini, Man. Sudahlah, ini kan hari pertama sekolah, guru-guru kau paling masih malas mengajar “
Ini hari yang dirindukan Salman, seharian bermain bersama teman-teman di sekolah, tanpa sedetikpun duduk manis di kelas.  
“ Hentikan tangisan kau, Man. Pagi-pagi sudah menangis tak karuan, malu sama tetangga! “
Salman memutuskan menurunkan volume tangisannya. Ia meringkuk lagi di dipan tua, memejamkan mata, airmatanya mengalir sampai ia tertidur lagi.
            Selesai menikmati makan siang, Salman berlari beberapa ratus meter dari rumahnya. Di tanah lapang yang sebagian telah digunakan untuk jemuran pakaian, beberapa anak sebaya Salman sedang asyik bermain kelereng. Salman tak ketinggalan ikut bergabung. Bosan bermain kelereng, pohon jambu di pinggir lapangan menarik perhatian bocah-bocah kecil tersebut, lomba memanjat pohon jambu pun dilaksanakan. Salman hari ini tak beruntung, setelah berhasil mendapat tiga buah jambu yang belum matang, ketika hendak turun, ia terpeleset, tubuhnya melayang sepanjang dua setengah meter dalam dua detik, dengan posisi pantat menyentuh tanah lebih dulu.
Salman pulang ke rumah dengan pakaian kotor dan tangisan yang lebih keras dari tadi pagi.
“ Kalau siang banyak setan yang berkeliaran, makanya jangan main siang-siang. Kan sudah ibu suruh kau tidur, tapi kau tetap saja bandel. Ganti baju sana!, dan jangan nangis lagi! “
*

Jumat, 09 Desember 2011

Another Backpacking Story: Lombok


backpacker ke gili trawangan
White shores
Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Keinginan cuma satu, jalan-jalan.  Tujuan awal saya sebenarnya ingin ke Pulau Belitung. Ternyata tiket luar biasa mahal. Kala itu bertepatan dengan event Sail Belitung. Sehingga sementara saya mencoret Belitung dalam list.
Opsi lain adalah ke Bali, tetapi harga tiket ke Denpasar tak mau kalah mahal dengan tiket ke Tanjung Pandang.
Lalu berburu tiket lagi, akhirnya saya dan kawan seperjalanan memutuskan ke Makassar. Sudah dua kali booking tiket, tapi saya ragu, Makassar itu menarik tapi saya belum kebelet ingin ke sana. Iseng mencari tiket lagi, akhirnya ada tiket promo 500 ribu sekali jalan rute Jakarta-Lombok.
Lalu sabtu-minggu itu serasa seperti mimpi. Pergilah saya dan seorang kawan lama menuju Lombok. Dari Jakarta, saya  naik penerbangan paling pagi. Tiba di Bandara International Lombok (BIL) yang masih bau cat. Belum ada dua minggu BIL resmi dibuka. Tujuan saya ke Lombok hanya ingin ke Gili Trawangan. Simpel saja.  menikmati pantai dan senja yang tersohor eloknya.

Namanya backpacker, ongkos transportasi dalam kota selalu diperhitungkan masak-masak. Terlebih masalah klasik daerah-daerah di luar Pulau Jawa, transportasi umum merupakan barang langka. Damri di BIL hanya ada satu rute, menuju Kota Mataram dan berakhir di Senggigi. Maka itulah satu-satunya transportasi umum yang bisa saya naiki. Dan barangkali di Sengigi, saya akan menemukan cara menuju pelabuhan penyeberangan ke Gili Trawangan.