Senin, 28 November 2011

The worst case of ‘Merantau’


Setiap menjelang Idul Fitri, pasti beramai-ramai kaum muslim ingin merayakan hari kemenangan tersebut dengan berkumpul bersama keluarga. Begitupun saya. Sayangnya setelah 9 tahun merantau, saya merasa hampir tak punya rumah lagi.
Kedekatan psikologis itu makin lenyap. Saya lebih nyaman berada di kamar kos saya yang kecil ketimbang di rumah.
            Biarpun secara darah saya sama. Tapi entah mengapa saya merasa berbeda. Saya merasa pincang sebelah. Saya merasa takut. Saya merasa tidak mampu membuat kehangatan itu lagi. Saya telah kehilangan kedekatan secara emosional.
            Ketika harus pulang, pasti kebingungan yang amat sangat seketika melanda saya. Disorientasi itu pasti. Jauh di lubuk hati saya, lebih menginginkan liburan ke tempat lain dibanding harus pulang ke rumah.
Saya tidak ingin dibilang anak durhaka, anak yang lupa ibunya, anak yang lupa dari mana ia berasal. Tapi di sisi lain, ego saya terus bertentangan. Saya yakin, ini hidup saya. Apa yang saya lakukan mutlak adalah hak saya.
            Pola pikir saya sudah berubah. Saya tidak memiliki rumah lagi, rumah untuk kembali, rumah untuk beristirahat, dan rumah dalam tanda kutip. This is the worst case of merantau. Kedekatan psikis itu tidak akan bisa menggantikan kedekatan fisik, walaupun kedekatan fisik juga tidak menjamin kedekatan psikis. And Im so bad on affection. No wonder  I lost 2 things, physically and psycologically of being home.

2 komentar:

enny mengatakan...

Mungkin ini saatnya agan membentuk 'rumah baru' untuk bernaung..
Before it happens, remember that we're also your fam, rik.. meskipun kedekatan emosi kita juga kurang, dan mungkin juga gak cuma dialami perantau :D

Eric Strins mengatakan...

ASAP En..
Do you feel so? hahai :D