Senin, 24 Oktober 2011

Susahnya Berobat di Negeri Ini



            Rasanya waktu itu dunia saya hanya berupa hitam. Tanpa alasan jelas, laki-laki yang sudah saya pacari selama 3 tahun tiba-tiba memutuskan hubungan. Seminggu kemudian kakak saya yang kedua meninggal dunia. Lalu tiga minggu kemudian, saya adalah orang pertama yang diberitahukan dokter bahwa ibu mengidap kanker. Biasanya saya orang yang selalu optimis meskipun sedang terpuruk. Tapi saat itu, saya rasanya tidak ingin bangkit lagi. Saya hilang arah.
            But life must go on. Ibu yang sudah ditinggal papa, lalu kakak, dan sekarang divonis kanker saja masih bisa tertawa dan punya semangat hidup. Lalu kenapa saya yang masih muda begini gak punya semangat buat bangkit. Dengan segala jatuh bangunnya, saya cuma berpiikir, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang mari fokus ke pengobatan ibu.
            Penanganan kanker itu cuma ada 3 yakni operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Di Indonesia saya menemui dua dokter yang berbeda. Dan mereka sudah angkat tangan untuk operasi dan radioterapi. Satu-satunya jalan adalah kemoterapi.
Awalnya ibu menolak di kemoterapi, saya pun sebenarnya kurang setuju selama masih ada jalan lain. Kemoterapi itu sakit banget. Tiga bulan berburu dengan segala pengobatan alternatif, akhirnya kami menyerah dan kembali ke pengobatan konvensional.
Dulu saya menganggap orang yang berobat sampai harus keluar negeri itu hanya sok-sok saja mengejar gengsi. Memangnya di Indonesia tidak ada tenaga kesehatan yang professional. Tapi sekarang saya menarik kembali kesimpulan saya yang dulu.
Tak usah saya ceritakan bagaimana mengecewakannya pelayanan kesehatan di Indonesia. Saya sebagai tenaga kesehatan di sebuah sarana kesehatan tidak akan membela diri. Kenyataannya memang sangat menyedihkan.
Selain rasa kecewa, saya punya beberapa alasan logis lain yang lebih patut. Setelah berembuk dengan kakak, kami sepakat membawa ibu ke Beacon International Specialist Center. Specialist center khusus kanker ini, merupakan satu-satunya di Asia Pasifik.Terletak di Petaling Jaya, sebuah kota satelit berjarak sekitar 20 menit dari Kuala Lumpur (KL). Yang memimpin klinik ini merupakan ketua asosiasi onkologi di Malaysia. Tidak sebesar RS tempat saya bekerja memang, tapi sangat homy. Semua pasien yang berobat di RS ini adalah penderita kanker yang mana pengobatannya tidak sekali dua kali. Mulai dari satpam, humas, pharmacist, manager operasional, dokter, perawat, cleaning service, sampai pelayan kantin semua menyapa dan mengenal kami. Berhubung tesis saya tentang marketing, saya banyak belajar bagaimana cara membina hubungan dengan pelanggan. Okay, practically they good in this way.

Beacon International Specialist Center

Selasa, 18 Oktober 2011

What are those people looking for?

lombok international airport
 
Well, those people really appreciate the plane.



If Wright Brothers visited this airport, they must be proud of what they invented a long long years ago.

badnara internasional lombok sore hari
Sambil membawa serta keluarga, menikmati bandar udara dan tentu saja pesawatnya

bandara internasional lombok
Aktifitas sore yang membuat hiruk pikuk bandar udara ini


Lombok International Airport, Oktober 2011.

Senin, 17 Oktober 2011

(Kembali) Merangkai Mimpi


Pulang dari Lombok, kembali fokus dengan dunia nyata. Melunasi hutang-hutang saya, menjalankan segala ikhtiar yang mampu saya jalankan, untuk mewujudkan segala realitas yang saya harapkan.
  • November dan Desember, semoga saya mampu berusaha lebih keras lagi. Les TOEFL, banyak belajar soal agama, dan menabung.
  • Januari atau Februari, insha Allah, saya ingin kembali berkelana. Vietnam dan Kamboja.
  • Lalu di Bulan Mei, saya ingin mewujudkan mimpi, mengunjungi India dan Tibet. Hadiah ulang tahunku yang ke-25. Tibet dan Suami. Lebih tepatnya seseorang yang saya cari seumur hidup.
  • Dan semoga di akhir tahun, aku bisa mewujudkan mimpi untuk sekolah lagi, bersama suami.

Insya Allah. Semoga Tuhan mendengar, semoga Tuhan memberikan jalan.
Amin ya rabbal alamin.




Kamis, 06 Oktober 2011

Escaping Bali


          Kadang patah hati bisa membuat seseorang melakukan hal-hal tak terduga. Alasan lain, karena saya ingin menghadiahi diri sendiri untuk ultah ke-24. Dan satu hal, saya kangen pantai!.
            Jadilah hari itu saya ke Denpasar, sendirian, dan untuk pertama kalinya. Yay!...
Berbekal info-info traveling dari internet, tekad, beberapa kenalan di Denpasar, dan tentu saja duit.
            Satu-satunya akomodasi (legal) dari bandara adalah taksi.  Ada juga calo yang menawarkan ojek. Cuma kalau gak mau kena tipu-tipu, mending langsung beli kupon di konter taksinya. Bandara-Kuta: 50 ribu, gak pake kembalian. Dan Pukul 10 pagi WITA saya sudah teronggok berdiri di Pantai Kuta.
View dari Teras Kamar Penginapan

Dinner di Jimbaran

Selasa, 04 Oktober 2011

Catatan Awal Oktober

Jika bersama dia, aku menjadi lebih baik, dan jika bersama aku, dia menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika bersama dia, takdir hidupku. 

Jika bersama dialah, aku akan mewujudkan mimpi-mimpiku.

JIka bersama dia, di kemudian hari segala tawa dan lara harus kubagi.


...Maka mudahkan pertemuan kami, Tuhan.


*Doa pada sebuah catatan kecil