Sabtu, 30 Juli 2011

Belajar Menanak Rasa

Seperti keju dicampur telur asin, sedikit selai nanas, beserta sesendok alkohol.
Demikian menggambarkan perasaan saya hari ini. Ada panas yg sesaat membakar tenggorokan, asin yg membuat mata terpejam, dan manis yang tidak pada tempatnya.

Semoga besok rasa dapat tanak dengan perpaduan yg lebih baik.
Published with Blogger-droid v1.7.2

Minggu, 17 Juli 2011

Live My Dreams (part 1)



Setiap orang pasti punya mimpi dalam hidupnya, entah mimpi yang terlalu mimpi, mimpi setengah nyata, atau mimpi yang benar-benar nyata untuk diwujudkan. Mimpi pun layaknya manusia, ia punya kadar hidupnya. Tergantung bagaimana kita memelihara, memupuk, dan menumbuhkan agar mimpi menjadi besar dan kian nyata.
Ada mimpi yang hanya sepersekian detik hidup, ada mimpi yang berumur hampir seumur pemiliknya tapi tak pernah tumbuh besar, dan tentu saja ada mimpi yang terus tumbuh, hidup, dan bermetamorfosis menjadi kenyataan. Ada cara-cara tertentu, tiap orang pasti punya caranya masing-masing, bagaimana mewujudkan keabstrakan mimpi, menjaganya, membuat ia tetap berada pada ingatan dan menjadikannya mewujud dalam realitas.
Bagi saya bermimpi itu perlu. Mimpi menjaga saya agar tetap survive, punya cadangan tenaga lebih, selalu menanti-nanti hari esok, or at least membuat saya beranjak dari tempat tidur di subuh pagi Hari Senin. 
Impian terbesar saya, bukan menjadi kepala ini, manager ini, pejabat ini, dan orang penting itu. Selain menjadi penulis, ambisi terbesar saya dalam hidup adalah melihat senja dari berbagai belahan bumi.
Mengelilingi dunia yang maha luas ini rasanya hampir (tidak) mungkin. Kalau begitu mari mengerucutkan ke-maha luas-an dunia, lalu menentukan belahan bumi mana yang benar-benar dan sangat-sangat ingin saya jelajahi. Ini daftarnya:

Tibet dan atau Nepal. Setiap orang yang belum menikah dan punya keinginan untuk nikah, pasti punya rencana soal bulan madu impian. Bagi saya, Tibet dan Nepal adalah, tujuan bulan madu impian. Bukan kemudian berbulan madu sambil mendaki mount everest. “Saya hanya pengen menyaksikan mount everest dari jarak dekat sambil menikmati secangkir coklat hangat di pagi hari bersama suami di sebuah perkampungan Tibet”.
Saya gak pernah berharap berbulan madu di hotel bintang lima atau berlibur ke resort maha mewah di private island, selain karena hal tersebut juga terlalu ngayal bagi seorang saya :P
Kathmandu, Nepal
 Motivasi tiap orang buat melakukan perjalanan beda-beda, ada yang mengejar kulinernya, wisata belanja, tempat rekreasi, dsb. Buat saya, yang paling menarik dari suatu tempat adalah budayanya. Nepal dan Tibet  punya budaya yang berbeda ditambah lancscape yang luar biasa indah, perpaduan sebuah tempat yang wajib-fardhu ain- untuk dikunjungi. 

Lhasa, Tibet  

Minggu, 03 Juli 2011

A Lunatic Love


Siang ini, saat asyik ngobrol dengan seorang sahabat via cyberspace, salah satu potongan obrolan kami.
Saya: “Eh gak terasa, aku sekarang udah lupa dengan si X, udah gak kepikiran dia lagi”
Sahabat: “ Kan sudah kubilang, kau cuma butuh waktu, Rika…”

Padahal masih segar dalam ingatan beberapa bulan lalu ketika saya masih termehek-mehek habis-habisan. 
Tapi yah manusia memang dikasih akal oleh Tuhan, supaya bisa berpikir dan me-mix antara logika dan perasaan.
Saat itu saya mikir, nanti ada saatnya bagi saya untuk berhenti.
Saya bilang pada diri sendiri, saya hanya butuh pengakuan dia sejujurnya, dan saya akan berhenti

Dan hari itu akhirnya datang…     
Dia mengakuinya…
Waktu itu saya di bis, sendirian, dan saya nangis.
Tapi pada saat itu saya berjanji, saya gak akan nangis lagi karena dia.

Saya belajar keikhlasan, perasaan menerima.

Lalu…semuanya terasa lebih ringan.

Obrolan Uang


Di sela rutinitas, kesibukan dan hiruk pikuk dunia, sering terbesit dalam pikiran saya, apa jadinya dunia ini jika manusia tidak mengenal benda yang berfungsi sebagai uang. Mungkin akan menjadi lebih ribet menggunakan transaksi sistem barter. Tetapi siapa nyana, dunia mungkin bisa jadi lebih sederhana, manusia bisa jadi lebih santai.
Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke negara tetangga. Balik ke Jakarta, masih terselip di dompet beberapa lembar mata uangnya. Sebenarnya kalau dirupiahkan lumayan juga bisa untuk bayar kos. Tapi berhubung belum sempat ke money changer, jadilah lembaran uang itu hanya teronggok seperti lembaran kertas lain di kamar. Di Indonesia lembaran-lembaran kertas itu gak laku. Bahkan untuk beli nasi padang sebungkus pun gak bisa.
Dan lagi-lagi saya jadi mikir, uang itu sangat relatif. Its just point of view, just our perception. Sesuatu yang sebenarnya manusia hargai sendiri, dan manusia persepsikan sendiri dalam ingatannya. Lalu apa jadinya kalau saya diberi alat dari Doraemon, yang bisa menyihir pikiran umat manusia, bahwa uang itu cuma lembaran-lembaran kotor berbau busuk.
Dapatkah kemudian saya mengurai kompleksitas beragam masalah di bumi ini?. Bukannya bermimpi jadi superhero, tapi coba kita lihat lagi negeri ini, segala tipu daya politik, korupsi, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, hampir semuanya berujung pada lembar-lembar berbau busuk tersebut.
Lalu mari turun ke level yang lebih rendah, lingkungan sekitar kita. Berkenalan dengan orang, melihat manusia-manusia di mall, semua berawal dari apa yang terlihat secaara fisik, dari apa yang mampu mereka beli. Tak usah jauh-jauh,  di rumah sakit (tempat saya bekerja) VIP dan kelas 3 itu berarti perbedaan kasta. Mulai dari kecepatan pelayanan sampai ketersediaan obat. Bahkan paracetamol sebiji pun kalau harus mengubek-ubek apotek seisi Jakarta, ya harus dilakukan demi pasien VIP.
Ah saya mungkin cuma (terlalu)  takut atau sekedar usaha defensive, semoga saya dijauhkan dari menjadi manusia (berorientasi pada) uang.  
Sekali lagi, uang itu hanya tool dalam rangkaian sistem kehidupan di bumi ini *merapalkan pada diri sendiri.