Selasa, 26 April 2011

Cacth A Falling Star (Part 1)


Bintang jatuh, pengharapan, ritual malam. Ini pengalaman tahun lalu, yang sedang saya kangeni. Tanggal 18-24 April 2010 menurut yang banyak diberitakan media massa, di angkasa ada hujan meteor yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Sebagai pemuja bintang, tak ketinggalan saya menyaksikan hujan meteor itu di Pantai Parangtritis. Sebuah pengalaman mengesankan, karena sebelumnya saya cuma pernah main ke pantai paling sampai pukul 9 malam.
Cacth A Falling Star
Bersama 6 orang teman, saya berangkat ke pantai menjelang tengah malam. Tengah malam di pantai ternyata tidak semengerikan yang saya kira. Saya malah heran, tengah malam kok di pantai rame. Di tiap sudut, banyak orang yang gitaran, pacaran atau sekedar ngobrol dan bercengkrama. .

Rabu, 06 April 2011

Cina VS Pribumi


Tulisan saya ini memang mengandung unsur SARA, tapi saya tidak bermaksud untuk memicu pertikaian atau mendiskreditkan pihak manapun. Hanya sebagai wacana saja. Persoalan ini bisa jadi sifatnya hanya kasuistis dan saya mengulas hanya dari sudut pandang saya.
Cinta pertama saya dulu adalah seorang anak dari etnis cina. Karena itu saya jadi lebih sering mengamati. Di kampung halaman saya, seperempat penduduknya adalah etnis cina. Dan mereka memang lebih memilih datang ke sekolah yang 90% siswanya juga berasal dari etnis cina. Tidak mengherankan, karena saya melihat etnis cina yang masuk sekolah saya (saat itu saya bersekolah di sekolah negeri), mereka mendapat perlakuan berbeda, baik dari guru maupun teman-teman sebaya. Sempat terpikir oleh saya, alangkah tidak enaknya menjadi kaum minoritas.
apa saja perbedaan pribumi dan cina
Selesai kuliah, ternyata persoalan lama ini lagi-lagi menghantui kepala saya. Waktu itu saya mengikuti walk in interview sebuah perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Sebuat saja perusahaan K Group. Yah..sudah jadi rahasia umum bahwa K group lebih mengunggulkan etnis tertentu, okelah langsung saya sebut etnis cina. Jikapun pribumi berhasil masuk, menurut isu jenjang kariernya tidak akan semulus teman yang memiliki darah cina. Dan jangan coba-coba mengenakan jilbab.
Tak hanya pada K Group, beberapa perusahaan farmasi swasta yang pemiliknya berasal dari etnis ini tidap menganjurkan pegawainya memakai jilbab. Saya pernah mengikuti rekriutment sebuah Healtcare yang juga satu group dengan perusahaan farmasi P**ros. Saya diterima tapi dengan syarat melepas jilbab. Tuing..tuing…
Saya tidak menyalahkan atau mencaci maki orang cina. Bisa jadi kejanggalan-kejanggalan ini muncul karena diskriminasi yang mereka terima selama bertahun-tahun tinggal di Indonesia. Seumur hidup tinggal 24 tahun di Indonesia, saya belum pernah ketemu PNS dari etnis ini. Kalau pun ada posisinya adalah Menteri (menteri disebut PNS juga kan?). Barangkali karena diskriminasi PNS inilah yang membuat mereka mencari ceruk (orang marketing bilang niche). Karena diskriminasi pula, mereka memutar otak, mencari celah rezeki lain, berusaha lebih keras dan membangun kerajaan bisnis.  Sehingga muncul seolah-olah memang ada pembagian rezeki. Kalau dalam kaitannya dengan bidang farmasi, yah pribumi dapat PNS, Rumah sakit, atau apotek, sedangkan industri lebih banyak di dominasi etnis cina.