Kamis, 24 Februari 2011

Eksistensi Diri

(Jakarta, 24 Februari 2011) - Di tengah-tengah lembar kelelahan saya, rutinitas yang menjemukan, rasa muak, saya mencoba berdamai dengan diri sendiri, bahwa inilah yang sedang saya lakukan, EKSISTENSI DIRI. Bayangkan jika saya tidak eksis dimana-mana. Saya pernah mengalami itu, rasanya tidak enak, lebih tepatnya tidak berharga.

Jum’at, 2April2010.Yogyakarta.
Mari kita membicarakan eksistensi diri. Saya pengangguran, meski kuliah saya belum selesai. Saya tidak eksis di kegiatan apapun, saya tidak menghasilkan karya apapun, secara finansial saya masih sangat tergantung, saya tidak punya komunitas apapun, saya tidak berkegiatan apapun, lebih tepatnya tidak punya kegiatan tetap apapun. Selain mencuci, setrika, makan, dan bersih-bersih kamar.
Akhir-akhir ini saya merasa tidak eksis sebagai manusia. Saya sangat tergantung, dan saya tidak berperan dalam apapun. Seandainya saya meninggal, maka sistem sosial yang ada di bumi ini tidak pincang. Tidak akan terjadi perubahan apapun karena saya tidak eksis dimanapun.
Saya benar-benar pincang sebagai manusia. Saya ingin bekerja, tapi seumur hidup yang sangat saya takuti adalah bekerja. Menjadi manusia yang mengejar uang dan menghabiskan hidupnya demi lembar-lembar kotor berbau tak sedap tersebut.
Tapi ternyata saya sekarang tersadar bahwa bekerja bisa jadi bentuk eksistensi manusia di bumi, tidak hanya untuk mendapatkan uang dan melanjutkan hidup.
Masalahnya saya ingin benar-benar memperoleh pekerjaan yang tidak hanya mampu membuat saya eksis, tapi membuat saya merasa berarti. Tidak hanya sekedarpekerjaan yang membanggakan dan membuat citra diri bagus. Saya tidak ingin semua itu, jika nantinya kebanggaan tersebut hanya akan membuat saya sombong.
Saya ingin pekerjaan yang membuat saya merasa hidup dan sangat bermanfaat untuk orang lain. Saya belajar karena dengan memiliki pengetahuan, maka saya bisa membantu orang lain. Saya ingin menjadi orang yang berguna, yang memanfaatkan hidupnya untuk kemanusiaan. Saya tidak ingin hidup saya sia-sia seperti bekerja di industri dan hanya membuat kaya orang yang sebenarnya sudah kaya raya.
Saya selalu berdoa punya hidup yang bahagia, suami yang baik, anak yang cerdas, usaha yang sukses, buku yang jadi best seller, bekerja di yayasan sosial, punya kegiatan-kegiatan penting dan tidak diperintah oleh apapun.
Berapa banyak orang di dunia ini yang punya keinginan muluk?. Hampir semua orang punya keinginan. Hampir semua  orang punya harapan. Dan nyatanya tidak semua harapan menjadi kenyataan. Yang jadi pertanyaan, apakah saya siap jika semua harapan yang saya miliki tidak seutuhnya terwujud dalam nyata?. Saya tahu pasti bahwa di dunia ini tidak ada hidup yang sempurna. Karena itu dalam proses dewasanya saya,  maka saya harus belajar mengikhlaskan dan bersyukur atas semua dan segala yang saya dapat. Termasuk ketika saat ini saya berada dalam fase tidak eksis begini. Beberapa bulan yang lalu masih hangat dalam ingatan saya, bahwa saya ingin dan yakin bisa memperoleh pekerjaan di Jogja, sesuai keinginan saya sambil mengerjakan tesis. Yah..ternyata tesis saya tidak sesuai target dan sampai saat ini saya  masih pengangguran.
Saya tidak ingin menyalahkan Tuhan. Masalah tesis, saya telah berusaha sebaik mungkin. Sedangkan masalah pekerjaan, saya mungkin yang terlalu pilih-pilih atau berekspektasi lebih terhadap kemampuan saya.
Saya tahu hidup adalah proses. Hidup pun adalah pilihan. Tidak ada benar ataupun salah dalam sebuah pilihan. Semua ada risikonya. Saya tahu. Namun pengetahuan saja tidak cukup untuk menjalani hidup dengan baik. Saya harus belajar banyak tentang kebijaksaan.
Semoga saya dapat melewati fase ini dengan baik dan segalanya menjadi lebih baik, setidaknya dalam perspektif saya, Amin.

*
Sekarang saya eksis, meski saya masih sering merasa terperangkap. Baiklah....mungkin ada baiknya saya mencoba belajar ilmu kebijaksanaan.

2 komentar:

iin mengatakan...

mantap

Asep Ridwan mengatakan...

mba melati coba mampir ke postingan saya http://sudutpararel.blogspot.com/2013/11/perang-eksistensi.html