Minggu, 31 Oktober 2010

Apakah Saya Seorang Traveller Sejati???

Subuh ini akhirnya saya kembali menghirup udara Jogja, udara yang paling banyak meresap 6 tahun belakangan ke dalam paru-paru saya, hingganya selalu ada memori yang muncul untuk dikenang.
Saya bolak balik ke Jakarta, Bogor, Bandung, dan Jogja. Dalam kondisi pengangguran begini, saya pontang panting cari pekerjaan. Pergi ke sana kemari. Dan ketika di perjalanan saya yang sendiri dari kota ke kota, saya berpikir seandainya saya diterima di salah satu pekerjaan tersebut maka petualangan saya akan berakhir.

Dalam akal sehat, tentu pikiran tersebut adalah pikiran konyol. Saya memang tidak suka terikat dan seorang pemberontak sejati. Tapi bukankah hidup juga harus realistis. Ada ketakutan dalam benak saya, kalau saya diterima sebagai CPNS, hidup saya akan terikat seumur hidup. Padahal tahun depan saya berencana ikut beasiswa non degree ke Belgia selama 4 bulan dan sehabis itu, jika memang ada kesempatan, saya ingin keliling Eropa. Backpakeran…..
Ketika saya coba merenung lebih dalam, ah alangkah egoisnya rencana saya tersebut. Bayangkan saya tidak menginginkan pekerjaan yang menjanjikan hanya untuk kegiatan beberapa bulan. Dan bayangan buruk sekembalinya saya dari Belgia. Pengangguran dan tidak punya apa-apa. Saya tidak mengkhawatirkan diri saya, tapi saya memikirkan keluarga dan pencitraan yang mereka alami karena saya, anaknya yang diharapkan menjadi kebanggaan tapi malah memilih jalan hidup yang mungkin tidak bisa dipahami semua orang.
Saya bukan tipe yang berambisi kaya dan punya uang milyaran rupiah atau target penghasilan dengan digit tertentu. Saat ini ekspektasi saya pada uang, yah agar bisa makan dan bayar sewa tempat tinggal. Kadang-kadang juga terbesit untuk beli baju, kosmetik, atau aksesoris bagus. Tapi keinginan tersebut bukan sesuatu yang meluap. Bahkan beberapa kali sempat terpenuhi, dan saya akhirnya merasa berdosa menghambur-hamburkan uang sementara banyak orang yang makan saja masih sulit.
Kembali ke perjalanan saya, terus terang meski sakit-sakitan dan capek, saya sangat menikmati perjalanan tersebut. Melihat kota lain, keadaan masyarakat, perkenalan singkat, perbincangan kilat dengan entah siapa nama orang tersebut. Membuat pengalaman saya makin kaya, memperluas pandangan hidup, tidak seperti katak dalam tempurung.
Oh…oh…dalam doa saya yang cenderung abstrak, saya masih berharap saya bisa membahagiakan keluarga, dalam kacamata mereka, dan Tuhan masih memberi saya berbagai kesempatan untuk melakukan berbagai perjalanan, sebuah proses yang akan jauh memperkaya diri saya, sebagai manusia.
Amin…ya rabbal alamin. Tuhan akan memberi jalannya dengan cara yang tak terduga. Terus berdoa dan berusaha….

2 komentar:

don mengatakan...

knpo emangnyo dg pegawai ka? bknny enak bisa jd pegawai? tp
dak jd pegawai jg enak ka, bisa bikin bisnis sendiri hihi. klo aku tipe yg ke2, bisa jalan2 kluar kota, dibayarin pula, hehe asik-asik. tp aku pikir, poinnya bukan baik-tidakny antra jd pegwai ato pengusaha, tp antara kita & orang2 terdekat kita, siapkah jika ternyata kita menjadi salah satunya, pagawai ato pengusaha? ini mnrt aku yo... btw Ka, dah dp kerja ya, slamaatlah. bersyulurlah ka, lalu mari kita syukuran hahaha

Gilang Fardes Pratama mengatakan...

"Eh nice blog nih btw :) Aku punya blog nih di BabiBlog™ dimampirin dong sekalian minta pendapatny, klo bagus di follow bole la :)"