Kamis, 26 Agustus 2010

Komunikasi

Banyaknya situs jejaring sosial di internet dalam kacamata saya sangat berpihak pada orang yang kreatif berkata-kata dan rajin menulis. Nyatanya menulis pikiran memiliki alur yang berbeda dengan bicara langsung. Orang bisa jadi bagus dalam tulisan, belum tentu seheboh itu dalam berbicara.

Saya senang menulis, sehingga tak masalah jika ikut situs jejaring sosial dengan menggunakan keyboard sebagai alat utama interaksi. Sayangnya, saya sendiri kerap menyebut diri saya cacat verbal. Sebuah ungkapan yang berlebihan memang.
Secara sosial, saya lebih senang memiliki beberapa teman dekat dibanding punya teman dimana-mana tapi hanya sebatas teman bersenang-senang. Kalau lagi kumat, saya bisa sangat malas bersosialisasi. Saya sangat merasa tidak nyaman jika dalam sehari saya hampir tak punya waktu untuk diri saya sendiri karena sibuk main dan terus bersama teman-teman. Saya punya sanctuary sendiri.
Dalam teori komunikasi,  secara garis besar ada 2 bentuk, yaitu komunikasi interpersonal dan komunikasi publik. Yang terakhir saya sebut adalah masalah utama saya. Dengan teman-teman saya memiliki hubungan yang tergolong bagus. Akan tetapi, di hadapan orang yang belum atau baru saya kenal dalam jumlah banyak akan membuat saya gugup setengah mati. Entah kenapa? Saya juga heran. Saya tak takut, tapi sangat tidak biasa. Pernah saya amat malu gara-gara suara saya terdengar gemetar saat presentasi. Sangat bermasalahnya saya dalam public communication, sampai saya takut menghadapi masa depan. Banyak orang pintar di dunia ini. Namun pintar bicara sepertinya jauh lebih penting. Saya ngeri membayangkan gagal dalam kehidupan hanya karena saya bukan orang yang pintar berkomunikasi di hadapan orang banyak.
            Saya memang lebih senang menulis, karena saya bisa membolak balikkan kata dan mengedit dahulu. Saat bicara, berjejalan kata-kata dalam otak saya untuk dikeluarkan. Namun yang keluar kadang hanya  bunyi “ee…oo….” dan kadang diiringi dengan intonasi tak jelas. Terus terang, saya sering terkagum-kagum dengan orang yang pintar bicara. Sungguh keren.
Gimana ya kira-kira cara mengatasi demam panggungg ini? Mungkin ada yang punya saran?halah-halah...….minta saran aja, pengantarnya panjang banget ^_^

Agustus2010.ericstrins.

4 komentar:

Adi Budi Yulianto mengatakan...

Demam pangung?

Gregori saat berbicara di depan orang ramai?

Gemetar dan seperti orang yg ble'e ketika harus berbicara?

itu gw banget!! banget..!!
Lebih parahnya, gw jadi artis (red:aziz gagap)

tapi kini? wedew! lancar bu gw ngemengnya.. udah kayak professional gitu..hohoho

triknya:

gw sering bicara di depan cermin.Mirip orang gila emang. tp waktu pas gw ditunjuk untuk berbicara, gak tahu knp gw berasa bicara di depan cermin..:)

Eric Strins mengatakan...

hmm...boleh jg sarannya..
intinya LATIHAN, right?

thanks Adi ^^

Adi Budi Yulianto mengatakan...

yes! thats right!

klo gak sekarang kapan lagi, karena gw pernah baca buku. Kegagalan seseorang cuma dikarenakan dia tidak pandai berkomunikasi..:)

so, lets speak up! (hehehe)

reglest mengatakan...

Rika banget..banget

Sebanarnya Ka, kamu itu sangat pintar bicara karena setiap kata yang keluar dari bibirmu itu adalah mutiara. Tidak perlu memaksakan dirimu, karena yang terpenting adalah makna yang terkandung dalm setiap ucapanmu

aku rasa itu cukup.

Masih ingat, di drama aksel, kamu jarang bicara tapi setiap kemunculanmu justru adalah tawa. Seperti itulah kamu dalam suara.

Memang bicara perlu dipaksakan. Caranya? Coba tegur orang di sampingmu di bus, ajak ngobrol, lama2 kita jadi terbiasa bicara. Walau belum di depan orang banyak

Hmmm.ini aja sih Ka.
See ya
RegLest