Minggu, 11 Juli 2010

Puthut EA: Laki-laki atau Perempuan?

Saya mulai jatuh hati pada tulisan Puthut EA ketika beberapa tahun lalu maen ke sebuah toko buku. Berhubung kantong lagi tebal, saya berniat membeli sebuah buku. Saat itu belum kepikiran mau beli buku apa. Setelah keliling dari rak buku ke rak buku lainnya, saya jatuhkan pilihan pada sebuah kumpulan cerpen berjudul Kupu-kupu Bersaya Gelap karya Puthut EA.  Selain karena gambar sampul buku yang menarik, buku ini juga berbonus VCD film bisu pendek (yang setelah saya tonton berkali-kali tetap saya gak ngerti inti ceritanya apa ??%^&**8??/).
            Tetapi untuk isi bukunya sendiri lumayan oke. Saya sering kagum dengan penulis yang mampu mendeskripsikan perasaan tokoh-tokoh dalam ceritanya dengan sangat detail. Alasan lain karena saya suka baca buku non terjemahan (asli Indonesia) dan mengangkat konflik realitas kehidupan sehari-hari. Dan tulisan Puthut memenuhi kriteria-kriteria tersebut.
Kupu-Kupu Bersayap Gelap menjadi cerpen favorit saya dalam buku ini. berkali-kali saya baca cerpen ini, tetap hati saya merasa terenyuh. Mampu membangkitkan emosi pembaca adalah indikasi kalau cerita atau tulisan (menurut ukuran saya) bagus.
Beberapa quotes sempat saya kutip dari  Kupu-kupu Bersayap Gelap

-         Hidup ini bukanlah sesuati yang bisa kita pilih. Ini bukan masalah senang dan tidak senang. Tapi putuskanlah. Sebab hidup adalah sebuah keputusan.

-         Jika hidup itu sendiri adalah sebuah keputusan: diterima atau tidak, dilanjutkan atau diakhiri. Cinta tidak lebih dari itu semua. Mencintai pada akhirnya  adalah sebuah keputusan. Dan karena sebuah keputusan, maka berbagai pertimbangan sah menjadi landasannya. Pada akhirnya toh cinta sebagaimana banyak hal yang lain: tidak turum dari langit yang gaib. Ia, cinta, hanya bisa diputuskan dan dikerjakan.


Mungkin salah satu ’spesialisasi’ Puthut adalah membuat cerpen. 3 buku lainnya yang pernah saya baca juga merupakan kumpulan cerpen yaitu Dua Tangisan Pada Satu Malam, Sarapan Pagi Penuh Dusta, dan Isyarat Cinta yang Keras Kepala (klo yang ini statusnya sih kumpulan prosa, tapi menurut saya isinya gk jauh beda dengan kumpulan cerpen ;p)
Tema yang diangkat tak jauh-jauh dari cinta. Cinta dua orang yang berselingkuh, cinta pada mantan kekasih, cinta dan rasa kehilangan, cinta yang tak kesampaian,  berpisah tapi masih cinta, dsb. Yang mengherankan hampir di setiap ceritanya, orang pertama (akuan) adalah perempuan. Kalau dari namanya, Puthut EA, lebih condong ke arah nama laki-laki. Tapi saking hebatnya Puthut menggambarkan perasaan si Aku (perempuan), saya tak pernah merasa Puthut adalah laki-laki. Karakter, perasaan, dan pemikiran si Aku tidak mengindikasikan sama sekali adanya unsur maskulin.
      Pernah saya berdebat dengan teman saya. Ia beralasan dalam biografi Puthut EA tertera kegemarannya menonton bola, sehingga Puthut EA bisa jadi adalah laki-laki. Usut punya usut, yah ternyata Puthut memang laki-laki. Tetapi kalau membaca lagi tulisan-tulisannya, saya akan kembali beranggapan kalau Puthut adalah perempuan.
      Pada bukunya Sarapan Pagi Penuh Dusta, saya paling demen dengan cerpen Sarapan Pagi Penuh Dusta. Singkat, padat, dan bermakna. Si tokoh berpura-pura memiliki pacar dan berbohong dengan ibunya. Yah..terkadang, aturan dalam keluarga sering membuat kita serba salah untuk melangkah dan membuat keputusan. 

- Aku selalu membandingkanmu dengan kekasihku. Aku tahu itu salah, kekasihku orang yang sangat baik tapi kebaikan tidak berbanding lurus denga rasa suka. Kebaikan mungkin berbanding lurus dengan kapling surga. Tapi rasa suka adalah adalah sebuah keganjilan yang tidak butuh pengantar apapun (Sarapan Pagi Penuh Dusta.)




Sesuai dengan judulnya. pada buku Dua Tangisan pada Satu Malam, saya memfavoritkan cerpen Dua Tangisan pada Satu Malam. Meskipun beberapa cerpen lain pada buku ini  juga mengusung cerita yang mirip dengan Dua Tangisan pada Satu malam. Bercerita tentang sepasang kekasih yang berpisah pada suatu malam meskipun keduanya tidak menginginkan.
Mencintai kadang bisa jadi sesuatu yang kompleks. Meskipun ribuan lagu, novel, dongeng, kisah nyata, dan film mengungkapkan tentang cinta. Pada kenyataannya mencintai dan mengakui rasa cinta yang kita miliki tidak semudah yang dibayangkan. Banyak pertimbangan, ada perasaan orang lain, keadaan, kondisi, dan situasi sosial yang bisa menyulitkan.

 -         Aku ingin segera mengatakan-seperti yang dulu-dulu: aku mencintaimu. Tapi tidak mungkin, segalanya butuh perhitungan, juga untuk kata-kata yang harusnya kuucapkan dengan kejujuran.

Terakhir, pada buku Isyarat Cinta yang keras Kepala, saya lupa cerita-cerita di dalamnya, karena saya baca beberapa tahun lalu (cape’ deh... ;D). Tapi ada qoute yang saya suka dan sempat saya catat.

- Berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat dan bukan jstru menghidarinya. Kenangan tidak bisa dihilangkan. Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam dengan risiko membusuk di dalasm. Aku memilih menghadapinya.

2 komentar:

Mots mengatakan...

saya juga suka tulisan mas Puthut, sayangnya tidak mudah menemukan karya beliau saat ini. Anda tau dimana untuk menemukan karangan2 beliau?

Mots mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.