Kamis, 25 Agustus 2016

Hidup Secukupnya untuk Hidup yang Lebih Baik


Tujuh Belas Agustus lalu saya memerdekakan diri dari perihal mengontrak rumah. Dan kemudian terjajah lima belas tahun oleh bunga bank. Hahahaha  *ketawa miris. 

Awal tahun 2015  lalu saya juga pindahan. Dari Jakarta ke Samarinda. Meski dulu hanya tinggal dalam sepetak kamar kecil. Pindahan tetap membawa kebingungan mengenai bagaimana cara membawa serta barang-barang ikut pindah pulau.  Motor saya jual. Dan ada begitu banyak barang pritilan, yang dijual gak lalu, dibuang mubazir, dibawa ke Kalimantan gak sebanding dengan ongkosnya.  Akhirnya saya berikan kepada teman dan pemulung. 

Pindahan kali ini masih dalam satu kota, namun yang namanya pindahan, selain membawa gairah dan kecemasan karena akan berhadapan dengan lingkungan baru, tentu saja membawa kerepotan.
Setelah berumah tangga, yang usianya belum genap 2 tahun, yang saya (rasanya) jarang-jarang belanja barang, ternyata perlu berkali-kali bolak balik bawa barang. 

 Dari berkardus-kardus barang yang diangkut, kuota barang paling banyak masih di pakaian dan buku. Kalau buku wajar, karena saya dagang buku. Tapi kalau baju, rasa-rasanya sudah jarang banget belanja baju atau produk fashion. Tiap mau pergi-pergi, saya kebingungan milih baju yang mana.  Baju yang dipakai kok itu-itu aja? Saya adalah orang yang memikirkan mau pakai baju apa baru saya ambil di lemari, bukan orang yang melihat ke lemari kemudian mikir mau pakai baju apa.  Karena saya hanya mampu mengingat beberapa lembar pakaian saja. Maka dari 50 lembar pakaian yang ada di lemari, yang saya pakai dalam satu bulan paling hanya 20 lembar, yang dicuci-setrika pakai-cuci-setrika-pakai.

PIndahan cuma bertiga: saya, suami, dan anak yang berusia 7 bulan, mau gak mau porsi terbesar beres-beres dan bongkar-bongkar ada pada Si Emak.  Bongkar sana sini, ketemu lagi dengan barang-barang dijual gak laku, dibuang mubazir, digunakan udah gak pernah lagi. Sambil menahan nyeri sakit pinggang dan memandangi barang-barang yang berantakan luar biasa, saya jadi memikirkan untuk hidup lebih simpel. Toh dari 100% barang yang sama miliki, paling 40% yang digunakan sehari-hari, 30% digunakan pada saat tertentu, dan sisanya 30% hanya Tuhan yang tahu kapan saya gunakan lagi. 

Kalau kata sebuah quote “ you don’t need more space,  you just need to reduce the things”.  Kalau benar-benar memprioritaskan barang dari nilau guna dan urgensi keperluan,  pasti saya dan teman-teman semua  gak akan punya barang banyak hanya untuk sekedar bertahan hidup. Apalagi rumah baru saya hanya selebaran dapur rumah orangtua dulu. 

Agenda minggu ini, saya akan mensortir lagi barang-barang yang bisa dilelang, dan mana barang yang bisa disedekahkan. Semakin sedikit barang yang kita miliki, rasanya memang semakin lega.  Ibarat perut yang sebah, kalau udah dikeluarin,  rasanya benar-benar lega.  Badan dan hidup terasa lebih enteng :)

Yuk mari hidup simple/sederhana/secukupnya. 

·       -   Kurangi barang yang sudah tidak digunakan. Bisa dijual lagi atau diberikan kepada orang lain
·   -  Beli barang yang  kira-kira memang dibutuhkan. Godaan belanja ini sih yang bikin barang terus menumpuk. Padahal kalau mau selektif berbelanja, kita bisa nabung lebih banyak loh.

Samarinda, Agustus 2016.

Jumat, 10 Juni 2016

Evolusi 30

Sebenarnya sukses itu hanya sebatas membuat pilihan kamu mau jadi pemalas atau mau jadi orang yang pantang menyerah. Sesederhana itu.

Beda hal dengan bahagia. Bahagia itu adalah proses, bergantung pada cara pandang masing-masing dan jauh lebih kompleks dari yang bisa manusia pikirkan.

Dan sebagai manusia, dalam renungan Ramadhan kali ini, saya ingin sukses namun tetap bahagia.

Bagaimanapun manusia itu harus terus berevolusi. Menjadi baik dan terus lebih baik.
Bercita-cita dan memiliki harapan.

Evolusi usia 30 (tahun) yang saya inginkan menjelajah ke benua lain lagi: Eropa atau Australia.
Lalu bisa settle atau pindah sekalian dari Samarinda. Saya ingin kembali ke Pulau Jawa.  Menetap di Surabaya, Bandung, Jakarta, atau Balikpapan.
Bagaimanapun evolusi harus terjadi, agar bisa beradaptasi dan terus berkompetisi bersama milyaran manusia lainnya.


Masih generasi Yahoo= Foto 6 tahun yg lalu



5 ramadhan 1437 H- tepat 30 tahun usia saya dalam hitungan tahun hijriyah.

Sabtu, 30 April 2016

Bukalapak VS Tokopedia



Cerita kegagalan saya mecoba bikin usaha setahun yang lalu bisa kawan baca di artikelini.  Nah jadi sekarang, selain meng update ke media social, saya lebih banyak berjualan di dua marketplace : Tokopedia dan Bukalapak.


Terus terang berjualan menjadi lebih mudah sekaligus lebih sulit karena ada marketplace.  Lebih mudah, pertama karena traffic nya tinggi, jadi gak perlu lagi bikin akun di socmed tertentu, dan mencari follower yang banyak. Kedua, karena saya tidak berinteraksi langsung kepada pembeli, meskipun ada fitur pesan /kotak masuk, tapi untuk transaksi jual beli sendiri pedagang tinggal terima pesanan, kirim, dan uang cair. 

Kenapa  saya malas berinteraksi langsung dengan (calon) pembeli? Yang pernah jualan online pasti pernah ngerasain yang namanya di PHP pembeli. Mulai dari minta diskon, ongkir yang kemahalan, minta dikirim dengan kurir tertentu, sampai minta nomor rekening bank tertentu untuk menghindari biaya transfer antar bank. Setelah capek capek chatting, menghabiskan pulsa kalau pakai sms,  menghitung ongkir dari tiap kurir, eh ujung-ujungnya cuma dapat balasan : “oh klo gitu nanya-nanya dulu aja ya sist”. Weleh…weleh…

Bahkan di marketplace pun, “perihal nanya-nanya dulu ya sist” ini sering terjadi lewat fitur pesan pribadi. Dan berdasarkan pengalaman, hanya  1 pembeli yang melakukan transaksi dari 10 pembeli yang bertanya. 

Di sisi lain, berdagang menjadi lebih sulit. Persaingan sudah berdarah-darah. Harga sudah dijual murah, ternyata ada saja pedagang yang menjual barang lebih murah. Weleh..weleh….

 Belum lagi jumlah reseller dan dropshipper yang bukan main banyaknya. Produk yang dijual harus hebat betul agar bisa muncul di halaman pertama pencarian.   

Belakangan, seorang teman bertanya bagaimana caranya membuka toko di kedua marketplace tersebut.  Pertama-tama, tentu saja menginstall aplikasi tersebut di handphone.  Setahun yang lalu, saya memulai upload foto dan produk lewat PC, ternyata lebih ribet. 

Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman saya berdagang di Bukalapak dan Tokopedia. Dari segi aplikasi,  saya lebih suka Bukalapak : simple, ringan, gak gampang interrupt, dan loadingnya lebih cepat. Di Tokopedia, barangkali saya yang gak pernah meng-update aplikasinya, sehingga loading lama dan sering interrupt. 

View product di Tokopedia, dan jangan lupa klik Promosi, agar produk kawan bisa ditemukan dan tak harus menunggu hingga lebaran monyet


Soal traffic, saya curiga kedua marketplace ini selain mengandalkan pembeli, juga mengandalkan traffic penjual. Di Tokopedia, ada fiture promosi, dimana pemilik toko bisa mempromosikan satu produk selama satu jam.  Produk yang dipromosikan akan muncul lebih sering dipencarian dan tampil di halaman muka. Fitur promosi ini gratis. Jadi mau tidak mau, pemilik toko harus rajin-rajin berkunjung ke tokopedia tiap beberapa jam sekali untuk terus mempromosikan produknya. 

Sedangkan di Bukalapak, pelapak dapat mem-push produknya, yang fungsinya juga agar produk muncul di halaman muka atau lebih mudah diketemukan pembeli. Pelapak harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli paket push. Atau tiap kali transaksi berhasil, pelapak otomatis akan memperolah satu push gratis yang bisa digunakan kapanpun.
Belakangan, saya juga mengamati di Bukalapak memberi tanda khusus (warna tertentu) bagi pelapak yang sudah tidak login lebih dari 2 minggu. Hal ini tentu membuat ragu  pembeli yang melihat warning tersebut. ‘Jangan-jangan pelapak ini sudah tidak jualan lagi’, begitu mungkin pikiran calon pembeli. Sehingga mau tidak mau, sebagai pelapak tetap harus rajin-rajin login, dan bersama-sama meramaikan traffic marketplace ini.  

Dari segi fitur di aplikasi, tokopedia lebih ‘ribet’, namun juga lebih menguntungkan. Misalnya, setiap pemilik toko bisa memiliki beberapa etalase. Jadi kalau saya mau jual buku dan jual kopi, saya bisa bikin dua etalase. Di Bukalapak, tidak ada system etalase. Jualan produk berbeda, tetap tambil bersama-sama di pajangan produk selama pelapak hanya memiliki satu akun.  

Di Tokopedia, fitur berbagi produk (share) mengizinkan pemilik toko  mentautkan gambar produk dari tokopedia ke  akun instagram atau facebook. Hal ini sangat memudahkan kalau Kawan juga memiliki akun socmed untuk berjualan, dan sangat membantu kalau Kawan berjualan melalui system reseller atau dropshipper. Di Bukalapak, setahu saya, fiture berbagi produk (share) ini hanya mengizinkan pelapak berbagi link produk di bukalapak ke akun media social yang ditautkan. 

Sedangkan dari sisi stok barang, jika saya berjualan di Bukalapak, dan menuliskan bahwa stok barang hanya 1, setelah barang terjual maka otomatis barang tersebut tidak akan tampil lagi di pajangan produk pelapak. Sedangkan di Tokopedia, ketika barang sudah terjual, meskipun saya hanya menuliskan bahwa stok barang cuma 1, barang akan tetap berada di etalase. Inilah sebabnya di Tokopedia saya seringkali menerima pesan dari calon pembeli menanyakan apakah stok barang ready, yang ujung-ujungnya menjadi kasus  ‘nanya-nanya dulu aja ya sist’. Weleh-weleh…
Mobile aplikasi Bukalapak



Well, begitulah pengalaman dan pengamatan saya selama menjadi pelapak dan pemilik toko (online). Semoga tulisan ini membantu teman-teman semua yang ingin memulai usaha (online). Dan semoga kita semua dijauhkan dari kasus ‘nanya-nanya dulu aja ya sist’.  Weleh…weleh…..

Sabtu, 23 April 2016

Pening di Penang dan Singapore

Perjalanan-perjalanan yang saya ceritakan dalam blog ini kebanyakan terlihat gampang, menyenangkan, impulsive, penuh kejadian tak terduga, tapi ujung-ujungnya happy ending. Yes! Im th lucky one, indeed.

Namun Untung dalam cerita Donald Bebek pun pernah mengalami ketidakberuntungan.  Apalagi saya yang bukan bernama untung.

Short trip gateaway saya ke Penang bisa dikatakan sebagai satu bab perjalanan saya yang penuh dengan ketidakberuntungan.

Niat saya ke Penang bermula setelah membaca artikel yang menggambarkan betapa nikmatnya duduk-duduk sambil ngopi di Penang.  Tidak hanya pria, perempuan pun bisa tergoda. Lalu saya tergoda.  Kenapa tak saya coba sendiri ngopi-ngopi cantik di Penang. Tentu lebih nikmat ketimbang hanya membaca dari sebuah tulisan.  

Awal trip sudah dimulai dengan kejadian gak enak. Dua teman membatalkan keberangkatan karena urusan kerjaan. Anggota rombongan tinggal saya dan seorang kawan.  Jadwal penerbangan pun berubah, seharusnya pagi, namun di-reschedule oleh maskapai menjadi sekitar jam 7 malam.

Saya tiba di Penang sudah hampir pukul 10 malam. Keteledoran pertama, salah masuk hostel. Rupanya di Love Lane -sebuah jalan dimana terdapat banyak hostel di Penang- ada dua hostel bernama mirip. Dengan langkah gontai saya dan kawan berjalan menuju hostel yang seharusnya.  Saya kemudian bertemu dengan  dua backpacker cewek dari Indonesia yang juga salah hostel. Namun mereka terbalik. Datang ke hostel yang sudah saya book. Padahal menginap di hostel pertama yang saya datangi.

Setelah check-in, saya keluar cari makan. Ketemu lagi dengan kedua backpacker tadi. Kami berkenalan singkat, lalu janjian besok mau jalan bareng.  Pulang makan, bukannya tidur, saya malah bergundah gulana bersama kawan saya  hingga baru tertidur hampir subuh. Maka janji jalan bareng dengan kenalan baru tersebut tinggal janji (yang sampai saat ini tak pernah lunas). Saya dan keman saya bangun kesiangan. Dan lalu sarapan sambil menyalahkan masing-masing. Kata teman saya, tercoreng sudah nama baik kami sebagai backpacker. Pelajaran pertama: jangan berjanji dengan orang yang baru dikenal.

 Tak punya rencana mau pergi kemana – lah wong tujuan awal Cuma ingin menikmati kopi, saya dan kawan  lalu menyewa sepeda motor. Berbekal brosur wisata gratis, kami menjelajahi beberapa tempat yang menjadi rekomendasi di brosur tersebut. Barangkali salah kami yang terlalu menggampangkan sesuatu. “Ini cuma Penang kawan, Cuma pulau kecil dan gak bakal tersesat”. Maka sepanjang siang itu saya luntang lantung berkeliling lebuh-sebutan jalan dalam bahasa melayu- dan menjelang sore ke Pantai Batu Ferringhi. Menuju pantai ini butuh waktu hampir 1,5 jam berkendara motor. Padahal saya dan kawan hanya berbekal peta dari brosur wisata dan mengikuti petunjuk arah di jalan. 

 Saat pulang, mungkin keberuntungan saya tertinggal di pantai. Saya sudah sampai di jalan utama dan tinggal mencari jalan Love Lane yang lebih cocok disebut gang karena kecil dan terselip. Memang, tadi malam  saya dan kawan yang tak pandai membaca peta ini, juga tak memperhatikan sekitar.  Semacam mengingat gedung atau warung  makan sebagai penanda. Mana pula ada banyak jalan satu arah. Bertanya ke mas-mas ginuk bermata sipit yang kebetulan stop di samping motor saya di lampu merah yang hanya menjawab dengan gelengan kepala. Untung pada putaran kelima kali di Jalan satu arah yang sama, saya melihat sebuah hotel besar. Dan samar-samar saya ingat tadi malam saya melihat gedung serupa saat menikmati nasi goreng di dekat hostel. Syukurlah, saya tak jadi mampir ke kantor polisi untuk bertanya.

Foto yang diambil dengan kamera pocket
Pantai Batu Ferringhi, Pulau Penang

Selasa, 22 Maret 2016

Apoteker Murtad dan Perpanjangan STRA


Sebenarnya saya ini Apoteker Murtad. Saya sudah tidak menjalankan profesi sebagai apoteker selama tiga tahun belakangan. Dan sekarang saya lebih peduli perkembangan buku-buku terbaru serta tiket pesawat promo  ketimbang penemuan-penemuan obat baru.

Namun yang namanya periuk di dapur bukankah harus mengepul ? Jadi tahun ini ada niat untuk kembali menekuni pekerjaan, bukan profesi karena kadang saya merasa yang tidak professional, sebagai apoteker. Masalahnya Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) milik saya akan habis tahun 2016 ini.

Tanpa STRA, saya tak bisa bekerja sebagai apoteker penanggung jawab. Saya akan kalah dengan lulusan apoteker dari universitas antah-berantah dengan IPK yang entah berapa namun punya STRA.  Meskipun (ibarat kata) IPK saya 4.00 dan saya lulusan Universitas dengan skor akreditasi tertinggi untuk jurusan farmasi se-Indonesia. Saya tetap dianggap apoteker gadungan. Waduh sudah murtad, sekarang gadungan pula. Terkutuk banget saya ini sebagai apoteker.

Maka dengan niat tulus untuk mengabdi lagi sebagai apoteker mencari uang, saya mengurus perpanjangan STRA. Dan sudah sejak pertengahan tahun lalu bahwa STRA bisa didaftarkan (maupun diperpanjang) secara online dan nanti dokumen-dokumen pendukungnya dikirim langsung ke Komite Farmasi Nasional (KFN). Dari beberapa sampel teman sudah mengurus secara online, ada yang lancar, ada yang tersendat berbulan-bulan sampai harus mendatangi langsung KFN di Jakarta.

Dan karena domisili saya yang saat ini berada di Pulau Kalimantan, saya tak punya pilihan lain selain mengikuti proses perpanjangan STRA secara online. Mudah-mudahan doa saya mengantarkan saya menjadi salah satu sampel yang urusan perpanjangan STRAnya lancar. Mengingat, seperti banyak urusan administrasi di negara ini, hampir tak ada koefisien yang mempengaruhi kelancaran selain tergantung nasib. Dan doa merupakan salah satu koefisien yang (konon) berpengaruh pada nasib. 

Saya mulai dengan mencatat berkas-berkas yang diperlukan dan dikirim ke KFN  untuk proses perpanjangan STRA:

  •   FC Ijasah Apoteker
  •  FC Surat Sumpah Apoteker
  •  FC Sertifikat Kompetensi
  •   FC KTP
  •  Asli STRA  lama
  •  Surat keterangan sehat (di web stra.co.id tertera keterangan sehat fisik dan mental, somehow setelah konfirmasi ke beberapa teman, yang dibutuhkan hanya surat keterangan sehat fisik standard. Karena kalau pakai keterangan sehat mental, harus tes ke psikiater)
  • Pas foto berwarna ukuran 2X3 @ 2 lbr, 4X6 @2 lbr
  •  Asli Bukti Pembayaran (biaya perpanjangan 250.000)
  •  Surat permohonan STRA (diprint dari web)
  •   Surat pernyataan mematuhi etika profesi, ditanda tangani bermaterai (diprint di web). 

Secara alur saya pikir cukup gampang,  saya hanya mendaftar online di website, kemudian meminta nomor billing via email ke sekretariat.kfn@gmail.com, membayar, dan lalu mengirimkan berkas. Maka dengan songong, saya registrasi online menggunakan email yahoo saya. Setelahnya, saya isi formulir perpanjangan STRA.  Kalau kawan ingin melakukan pengisian online ini, sebaiknya siapkan dokumen-dokumen yang akan dikirim agar gak bolak balik mencari data yang diminta. Atau minimal catat nomor di dokumen-dokumen tersebut yakni: No. KTP, Masa berlaku KTP, No. STRA, No. Ijasah Apoteker, No. Surat Sumpah Apoteker, Tanggal sumpah apoteker, dan no. Sertifikat kompetensi, No. SIPA, dan No.SIA

Nah yang bikin saya terkecoh, di akhir pengisian formulir, kawan akan diminta mengisi data-data bukti pembayaran. Bagian tersebut harus diisi agar Kawan bisa menyimpan data formulir dari awal. Karena saya belum mengirim email ke sekretariat KFN dan belum melakukan pembayaran, maka saya pikir ah barangkali alurnya adalah: minta billing dulu baru daftar online. Jadi saya kirimlah email ke sekretariat KFN. Sebagai emak-emak yang sibuk ngurus anak, saya baru sempat kirim email pada malam hari. Eh besoknya saya dapat balasan kalau saya harus mengirim email pada hari dan jam kerja dengan format :

Nama:
Lulusan/ Tahun:
No.STRA:
Masa Berlakua
No. Pendaftaran online: 

Percayalah kawan, keterangan jam pengiriman email dan format ini GAK ADA di website KFN. Bagaimana kalau terl anjur mengirim email di luar jam kerja, ya harus kirim ulang saat jam operasional.

Another tricky thing is format email permohonan nomor billing harus menyertakan nomor pendaftaran online sementara di form pendaftaran online harus mengisi nomor pembayaran dari no.billing yang diperoleh. Ini ibarat ayam betina harus meghasilkan telur yang dibuahi dari ayam jantan yang berasal dari telur tersebut. 

Maka karena persoalan ini tak dapat saya pecahkan, saya telepon layanan KFN di 08119255612. Rupanya saya harus mengisi form pendaftaran/perpanjangan online dulu, sementara form pembayaran harus saya isi dengan angka 00000…., supaya bisa disimpan sistem dan keluarlah nomor pendaftaran online. 

So…langkah-langkah perpanjangan STRA secara simple:  Siapkan dokumen yang diperlukan  --> registrasi dan pengisian formulir online, kolom pembayaran diisi dengan angka 0000…, --> simpan formulir pendaftaran --> print surat permohonan, pernyataan mematuhi kode etik, dan alamat pengiriman dari website --> kirim email permohonan nomor billing sesuai format ke sekretariat.kfn@gmail.com pada hari dan jam kerja --> balasan nomor billing pembayaran dari KFN (hanya berlaku 3 hari termasuk hari libur) –> print dan bayar di bank BNI, BRI, Mandiri atau Kantor Pos ---> bukti pembayaran beserta dokumenn lainnya kirim ke KFN --> banyak berdoa agar dokumen segera sampai dan diproses.