Rabu, 08 Maret 2017

Diskonek, Fokus, Produktif, dan Podomoro Teknik



Jujur, pasti banyak dari kita yang ketagihan dengan internet. Entah untuk berselancar, baca berita, belanja online, dan akses sosmed.
Beberapa tahun belakangan, saya merasa waktu produktif saaya semakin tergerus karena keasyikan terhubung dengan internet. Terlebih, saya termasuk orang yang susah untuk menahan diri. Apalagi kalau berkaitan dengan rasa ingin tahu. Padahal terhubung dengan dunia maya sangat memuaskan rasa ingin tahu. Dan seperti lorong waktu, menelusuri dunia maya tak akan ada habisnya.
Entah berapa banyak waktu saya habiskan dalam sehari untuk berinternet. Kebanyakan, apa yang saya lakukan di internet adalah sesuatu yang ‘sia-sia’. Artinya, kalau saya tidak melakukan hal tersebut, sebenarnya hidup saya tetap akan baik-baik saja. Saya gak akan kelaparan, saya gak akan sakit, saya gak akan kehilangan uang, saya pun tetap akan tertidur nyenyak.
Selain waktu yang terbuang banyak, akibat lain yang saya rasakan adalah saya jadi sangat sulit berkonsentrasi penuh pada suatu hal dalam kurun waktu tertentu. I keep to check myphone over and over. Makanya saya merasa saya harus melakukan sesuatu. Target hidup saya gak akan tercapai kalau saya terus begini.
Awalnya saya hanya ingin mencari buku motivasi diri. Saya ke toko buku, dan menemukan satu buku berjudul Fokus karangan Leo Babauta. Sebenarnya buku ini tidak terlalu hebat. Sebuah buku motivasi standard yang tergolong tipis. Tetapi isi buku ini memberi gagasan pada diri saya. Ternyata masalah sulit berkonsentrasi ini banyak dialami manusia kini. Generasi yang sangat gampang terdistraksi (Age of Distraction). Buku ini menyarankan perlunya tidak terhubung internet selama beberapa jam setiap hari. Email yang terus masuk, notifikasi sosmed, stalking, membaca berita, chatting, forum tertentu merupakan sekian pengganggu dalam berkonsentrasi. Akibat banyaknya distraksi-distraksi ini, secara alamiah membuat fokus berkurang, dan waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi lebih lama.
Maka saya putuskan untuk mengurangi dua hal yang paling banyak menyita waktu saya. Sosmed dan belanja online. Saya uninstall facebook, tokopedia, path, dan instagram. Akun saya masih ada, tapi karena saya gak punya aplikasi lagi, otomatis frekuensi berkunjung ke layanan tersebut berkurang drastis. Saya malas kalau harus buka-buka browser. Kalau sedang ingin berselancar sambil menghibur diri, sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu di twitter dan youtube. Menurut saya, twitter lebih informatif dan waktu yang dibutuhkan untuk ‘melihat-lihat’ relative lebih singkat. Sedangkan untuk mengakses youtube, saya perlu memikirkan kuota internet yang terbatas.  
Alhasil, durasi saya memegang handphone saat ini jauh lebih singkat. Notifikasi di handphone juga jauh berkurang. Paling saya hanya menghabiskan waktu untuk browsing informasi tertentu. Sisanya, saya mencoba lebih banyak membaca buku.  


BUku Focus, Leo Babauta, Podomoro teknik
Focus- Leo Babauta

Durasi menghabiskan waktu di dunia maya menurun tajam, namun tidak lantas saya menjadi produktif seketika. Ternyata mengembalikan konsentrasi dan fokus pada pekerjaan yang memerlukan kerja otak dengan durasi lama masih sulit saya lakukan. Tidak ada yang instan memang, apalagi kalau menyangkut kebiasaan.

Kamis, 02 Februari 2017

Ibu Rumah Tangga Harus Pelit Marah



Kenapa begitu mendengar kata ibu-ibu, stereotype yang terbayang adalah : galak, bawel, dan gampang marah ? . 

Barangkali, kelelahanlah yang gampang menyulut amarah tersebut. Sebagai perempuan yang kini dalam fase  hidup : menjadi ibu dengan balita aktif luar biasa, saya gak ada penyangkalan sama sekali.  Kelelahan itu hakiki.
Saat ini,  saya punya pekerjaan dan saya gak pakai asisten rumah tangga  Suami paling bisa bantu bersih-bersih di hari sabtu-minggu. Jadi variable suami saya hilangkan saja, karena tidak berpengaruh secara signifikan.
Terus kalau kelelahan,kenapa gak pake ART?. Saya punya beberapa alas an:  1. Susah nyari ART yang bagus. Mencari ART aja susah, apalagi mencari ART yang kredibel. Sudah sering saya dengar cerita majikan maka hati, dan saya belum sanggup mengalami sendiri. . 2. Rasanya privasi akan berkurang kalau ada orang lain yang tinggal di rumah sendiri. 3. Saya gak kerja full time.
Atas dasar pertimbangan untung rugi tersebut, sekarang saya memilih gak punya ART. Entah lain waktu.
Lalu bagaimana cara mengakali kehidupan saya agar berjalan baik-baik saja? Kalau kerja, anak saya titipkan ke tetangga dekat rumah. Kalau saya gak sempat masak, ya tinggal beli makan. Urusan bersih-bersih rumah tak terlalu menajdi masalah. Syukur, rumah saya kecil, nyapu semua ruangan paling membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit. Saya mencuci baju sendiri dengan bantuan mesin cuci. Sedangkan setrikaan sebagian besar saya laundry kiloan.  

Tapi punya ART atau gak punya ART, bedanya gak terlalu signifikan. Karena porsi terbesar yang menghabiskan banyak energi dan waktu ya mengurus, membesarkan, dan mendidik anak. 

Kembali ke soal kemarahan. Marah itu membutuhkan energi. Padahal Uang dan energi yang saya miliki terbatas, sementara kebutuhan akan uang dan energi tak terbatas. Sehingga saya harus eman-eman.
Jadi belakangan saya merasa saya sedikit lebih sabar. Bukan karena belajar yoga. Bukan karena belajar tassawuf. Bukan karena rajin ikut pengajian. Bukan.
 Tapi karena saya pelit. Saya gak rela menghabiskan sebagian energi saya untuk marah-marah. Sebab ada buanyak hal lain yang perlu saya lakukan. 

 Apakah gampang? Gak juga sih. Karena semakin lelah seseorang, semakin gampang ia tersulut emosi, dan semakin habislah energi nya. 

Biasanya saya lihat trigger atau pencetusnya apa. Kalau ternyata hal-hal non-substantif dan atau  hal-hal yang saya marah pun tetap tidak bisa saya ubah. Lalu buat apa marah? 

Marah karena paslon dukunganna diejek. Apakah hal tersebut penting?

Jadi haters di sosmed. Apakah hal tersebut penting?

Anak hambur-hambur barang di rumah. Dua hari dua malam ngomel sama anak usia satu tahun paling Cuma dijawab dengan duu..duu..wa…wa…

Sebel sama tukang parker di Indomaret yang tiba-tiba muncul. 

Ngomel sama laki yang suka taruh baju sembarangan

Marah karena dikasih kembalian receh semua.

Marah sama toko antagonis di sinetron yang gak insaf-insaf

Marah  sama teman yang suka broadcast pesan 

Marah sama koneksi internet yang lambat. 

Dan serangkaian deretan trigger kemarahan yang gak berimplikasi banyak dalam hidup, tapi energi buat marahnya cukup menyita dan seharusnya bisa dialihdayakan ke hal-hal lain. 

pengelolaan kemarahan, manage anger, keep calm
Ibu-ibu harus pelit marah

Rabu, 25 Januari 2017

Resolusi 2017 dan Saya yang Gak Ngotot Lagi.

Well, tahun 2017 datang juga. A year when I turn to 30’s. 

Seperti biasa, selalu ada resolusi, harapan, semangat, dan tenaga baru tiap menghadapi tahun baru.  Asal Kawan tahu, saya tak pernah absen menuliskan resolusi dalam sebuah file khusus di laptop sejak tahun 2008. Pada tahun-tahun sebelum 2008, saya juga menuliskan resolusi. Namun tak konsisten tiap tahun, tak konsisten disimpan pada sebuah file, kadangkala hanya pada secarik kertas yang kemudian saya selipkan entah dimana, pun tak selalu saya evaluasi tiap tahun.

Apakah saya lelah menulis resolusi, -yang ketika dievaluasi terwujud 50% saja rasanya sangat luar biasa?. Nope. Sampai saat ini saya masih setia menulis resolusi. Barangkali memang tergantung tipikal manusianya. Saya selalu mencatat hingga ke list things to do everyday. Sebab saya orang yang gampang tergoda dan sering lupa pada tujuan awal.  Punya catatan mengenai apa yang harus saya lakukan tiap hari sangat membantu saya untuk terus produktif dan fokus.

Berkebalikan dengan suami saya. Ketika saya tanya, “sudah buat resolusi 2017 belum ?”.
Suami “ emangnya PBB, harus  bikin resolusi?”. Saya cuma bisa ketawa.  Beberapa karakter suami memang bertolak belakang dengan diri saya. Saya ngotot, ambisius dan selalu punya target. Sedangkan suami cenderung selow dan membiarkan hidup mengalir apa adanya.
Bicara soal ngotot, ada kejadian di Januari ini  yang membuat saya tiba-tiba sadar bahwa sekarang saya gak se-ngotot dan sekeras kepala seperti dulu.

Jadi ceritanya awal Desember kemarin saya mulai kerja sebagai penanggung jawab di sebuah sarana kesehatan. Namun berhubung ijin kerja saya baru dikeluarkan Dinkes Per Awal Januari lalu, ketika saya terima gaji, yang sudah telat 15 hari yang sengaja memang belum saya ambil karena gak enak.  Eh ketika saya ambil, owner nya Cuma ngomong: gajinya gak full ya. Karena ijinnya belum keluar, Desember lalu masih menggunakan ijin penanggung jawab yang lama, jadi gajinya dibagi dua.”

Saya sudah mencium aroma yang  gak bagus. Tapi herannya saya diam aja, dan gak protes.  Setelah saya ceritakan sama suami, malah suami yang marah. Saya pun konfirmasi ke penanggung jawab yang lama, dan benar saja dia hanya digaji sampai November 2016.  Yap!, saya tahu saya kena jebakan batman.  Saya protes ke owner nya hanya mental sendiri. Capek di saya, sisa gaji tetap gak dibayar.

resolusi 2017dan saya yang gak ngotot lagi


But the good things, ketika saya melihat ke dalam diri, saya gak semarah seperti biasa kalau saya diperlakukan tidak adil. Ya Cuma ngomong sama diri sendiri : insyaAllah nanti diganti rezeki nya sama Allah.   

Senin, 23 Januari 2017

Satu Tahun Paling Berharga

Apa hal yang paling membahagiakan ketika menjadi orangtua? Bisa jadi, salah satunya dengan melihat perkembangan anak.

Amni, anak pertama saya, lahir pada 5 Januari 2016. Melihat kembali tahun 2016 ini, berarti melihat perkembangan Amni di tahun pertama kehidupannya.

Beberapa hari setelah lahir, Amni mengalami mengalami menstruasi. Saya sempat khawatir, namun ternyata hal ini  normal terjadi karena pengaruh hormon kehamilan ibunya. Masalah kedua, Amni mewarisi  bakat alergi kedua orangtuanya. .

Karena terlahir cukup mungil (BB 2,4 kg), oleh dokter anak, Amni diresepkan susu formula untuk bayi Berat Badan Lahir Kurang (BBLR).  Setelah diberikan sufor, Amni diare dan kulitnya memerah. Ternyata Amni alergi susu sapi. Dokter kemudian menyarankan untuk menghentikan pemberian sufor. Dan sisi positifnya, Amni memperoleh full ASI di awal kehidupannya.

tahap satu tahun pertama kehidupan bayi

Selasa, 06 Desember 2016

Vitamin Untuk Ibu Hamil

Bagi Kawan yang pernah merasakan hamil, pasti pernah menerima pertanyaan: minum vitamin apa?. Kontrol ke dokter atau ke bidan, selalu saja diresepkan vitamin, meskipun bayi dan ibu sehat-sehat saja.  Sebegitu pentingkah minum vitamin saat hamil? Wajib atau sunnah sih mengkonsumsi vitamin saat hamil?.
Sebenarnya yang wajib itu mengkonsumsi makanan. yang mengandung vitamin. Toh fungsi makanan kan sebenarnya selain memenuhi kebutuhan energi, juga demi memenuhi kebutuhan vitamin. Bagi siapapun, tidak hanya untuk ibu hamil. 
Namun, kondisi ibu hamil, yang dapat dikatakan sebagai kondisi kritis dimana : 1. Ibu hamil kerap mengalami mual, muntah atau ngidam dan hanya ingin makanan yang itu-itu aja. 2. Ibu hamil harus memastikan janin yang dikandung tumbuh dengan optimal, dimana salah satu faktor pentingnya adalah asupan gizi. Dua kondisi utama inilah yang membuat dokter atau bidan kerap memberikan tambahan vitamin sebagai antisipasi kalau-kalau kebutuhan gizi janin tidak tercukupi hanya lewat makanan.
Lalu vitamin apa saja yang sebaiknya dikonsumsi ibu hamil?. Saran saya, jangan menghapal merek. Tapi lihat isi kandungannya. Kalau tahu kandungannya, kita akan mudah memilih merek yang affordable, sesuai budget dan ketersediaan di apotek-apotek sekitar tempat tinggal. 
Saya dulu sewaktu hamil juga rajin tanya sana sini mengenai vitamin apa saja yang dikonsumsi saat hamil. Kebetulan saya rutin control di dokter kandungan yang kalau meresepkan vitamin hamil harganya relatif mahal.  So I had to be smarter. Mencari barang substitusi.  Lumayan sisa uangnya bisa untuk kebutuhan belanja bayi.

Jadi, kalau kawan perhatikan, apapun mereknya, vitamin hamil yang diberikan dokter secara keseluruhan pasit mengandung:

1.       Asam folat.
Ini asupan yang gak boleh ditinggalkan dari trimester awal hingga akhir. Kebutuhan asam folat ibu hamil sekitar 400 mcg per hari. Contoh merek yang murah:  Folavit. Dosisnya 400 mcg/tablet. Harga per strip nya lebih murah dari sebungkus rokok. Gak ada alasan untuk gak mengkonsumsi asam folat, kecuali memang asupan gizi dari makanan sudah tercukupi.  Karena asam folat dan kalsium adalah asupan vitamin wajib bagi ibu hamil.
O ya, setiap membeli obat, jangan lupa perhatikan dosis. Apalagi untuk asam folat,  tersedia beragam dosis, mulai dari 400 mcg, 1 mg, hingga 5 mg. Memang asam folat tidak hanya diperuntukkan untuk ibu hamil.

2.       DHA.
 
Suplemen ini yang paling banyak beredar di pasaran dan memang harganya paling mahal diantara suplemen yang dibutuhkan ibu hamil.
Ada sediaan yang komposisinya gabungan antara DHA, berbagai vitamin, dan asam folat sekaligus. Misalnya: Folamil Genio.  Bisa lebih irit dan minumnya lebih enak.  
Oh ya, DHA kan juga banyak terdapat pada minyak ikan. Jadi kalau kawan enggan membeli suplemen khusus ibu hamil, diganti suplemen berisi minyak ikan juga bisa.

vitamin ibu hamil DHA asam folat kalk kalsium laktat vitamin B6

3.       Kalsium laktat.
Saya sendiri sempat berganti-ganti merek kalsium laktat. Bukan apa-apa. Tapi dari awal hamil hingga saat akan melahirkan, saya terus muntah-muntah. Dan tablet berisi kalsium ini bentuknya paling besar.
Saya sempat ganti dengan tablet kunyah Dumocalcin. Dikonsmsi seperti mengunyah permen. Enak dan gak bikin mual.  Namun sayang di Samarinda agak susah mencari tablet ini. Saya sampai beli keluar kota.
Kalau kondisi sedang drop, mual muntah parah, dan saya cuma makan sedikit, saya minum kalsium dalam bentuk effervescent. Enak dan saya suka. Namun gak berani terlalu sering karena ada pemanis buatan/aspartam. Orang normal saja sebaiknya tidak mengkonsumsi aspartame dalam jumlah tinggi. Dan Aspartame ini kontra indikasi atau gak boleh dikonsumsi pada penderita fenilketonuria dan kadar fenilalanin tinggi.