Sabtu, 27 Agustus 2016

Where Will You Stay ? # 25


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Swiss Bell-Inn Balikpapan

Saya sudah lama sekali tak menulis pengalaman menginap di hotel. Ya bukan gak mau menulis sih, cuma emang sudah lama juga gak menginap di hotel :p. 

Well, ini pengalaman terakhir menginap di hotel. Sudah agak malas memotret sudut-sudut hotel. Tapi ya sayang juga, seri pengalaman menginap di penginapan ini sudah lumayan banyak. Setidaknya sebagai dokumentasi pribadi. 



Foto ala kadarnya di sudut kamar

Ceritanya balik dari mudik lebaran, mampir Balikpapan dulu untuk jalan-jalan sebelum pulang ke Samarinda.  Syarat hotel yang saya pilih standard saja. Dekat pusat kota, welknown, sesuai budget.  Utak-atik berbagai situs pemesanan online untuk tanggal yang sama, ketemu Swiss Bell-inn dari Misteraladin.com.  Harganya dibawa 300K, padahal untuk kamar yang sama disitus lain diatas 350K. Hotelnya di tengah kota banget. Good place, Well known hotel, review orang-orang juga memuaskan. 

Overall sih oke. Staff ramah dan sangat heplful.  Kamar meskipun kecil tapi lengkap. Ada lemari kecil tanpa pintu di pojok kamar, ada kabin untuk menaruh koper, sandal hotel, kamar mandi luas, toilettries lengkap untuk standard hotel budget, ada kulkas kecil dengan mini bar, dan  ada sofa empuk banget, (hotel budget lebih sering menyediakan kursi minimal yang keras). 

Amni enjoy her first experience

Kamis, 25 Agustus 2016

Ketika Anak Mogok Nyusu


Anak saya bisa dibilang gak rewel dan gak cengeng. Tapi  tipikal yang kaku. Sekarang udah umur 7 bulan. Gak mau ngedot,  gak mau minum sufor, gak mau minum ASIP bahkan saat disendokin. Cuma mau minum susu fresh from the oven.  Sewaktu usia 4-5 bulan sempat bingung putting karena dipaksa ngedot karena ditinggal ibunya kerja. 

Nah ceritanya 2 hari ini, anak saya Amni saya cuekin. Dibiarin melantai (main di lantai), sementara emaknya sibuk pindahan rumah dan beres-beres barang.  Awalnya saya gak nyadar, saya pikir barangkali Amni nya lagi seneng-senengnya main.  Sampai benar-benar kelelahan, nenen sebentar, lalu tertidur. Hari kedua, saya masih biarkan melantai. Agak sore, saya mulai curiga. Amni gak mau nenen, dan gak tidur siang. Nenen sih sedikit, dan anaknya makin rewel.  

Saya sampai curiga jangan-jangan diganggu ‘jin’ dirumah baru. Sampai dikasih air dan dibacain yasiin. Malamnya saking ngantuknya, baru dia nyusu dikit dan tidur dan masih gak mau susu kanan. Besoknya, jumat pagi sampai siang saya masih sibuk beres-beres, makannya masih lahap. Tapi tetap gak mau tidur dan gak mau nenen. Kalaupun nenen, Cuma sedikit dan Amni gak mau sambil memandang wajah saya.  Mau lapor suami lagi, nanti malah tambah panik. Akhirnya, saya coba searching di internet. Pasti ada istilah medis dan penyebab yang lebih rasional, diluar diganggu jin.

Benar, ada istilah nursing strike atau mogok nyusu. Berbeda dengan bingung puting, nursing strike ini terjadi begitu saja, pada bayi yang normal nenen pada ibunya dan tiba-tiba gak mau nenen. Ada banyak penyebab mogok nyusu, ya salah satu nya bayi mengalami perubahan lingkungan atau rutinitas, termasuk pindahan rumah. Dan gimana cara mengatasinya? Gak ada algoritma pasti, Ada banyak suggest. Trial and error.  Ibu harus mencoba satu persatu sesuai insting. Ada yang menyarankan skin to skin, menunggu bayi mengantuk, menggendong-gendong bayi, dsb.

Saya menyimpulkan intinya connected lagi ke bayi,  berkomunikasi dengan si bayi bawa everything is okay.  Akhirnya saya berhenti beres-beres. Fokus ke anak. Saya coba skin to skin. Masih belum mau nenen. Lalu selama lebih dari sejam saya gendong kemanapun saya melangkah. Sudah dua hari ini memang saya biarkan Amni melantai terus, cuma disusui sambil hingga tertidur.

Oh ternyata anak saya ingin dimanja. Capek digendong kesana kemari, saya tawari nenen, dan dia langsung mau, meski cuma menghisap sebentar-sebentar dan sesekali memandangi wajah emaknya.  Tak berapa lama, Amni tertidur. Bangun tidur, saya tawari nenen lagi, sudah tak menolak lagi tapi masih Cuma menghisap sebentar-sebentar dan tidak lahap. Barangkali masih ngambek, barangkali masih kenyang. But I Know, usaha saya sudah mulai membuahkan hasil.  Sengaja saya lewatkan sesi makan sore.

Saya ajak ngobrol lagi, ajak becandaan, dan bermain-main. Sudah dua hari ini memang saya melewatkan bermain bersama Amni. Tak lama, saya tawari puting pelan-pelan. Dan ajaib, Amni mulai menghisap lagi, pertama pelan-pelan, dan selanjutnya lahap.

Menyusui dan disusui itu  menurut saya sepaket loh. Sama-sama saling membutuhkan.



Anak tidur nyenyak, emak pun ikut tidur nyenyak :)

Alhamdulillah. Malam itu Amni tertidur nyenyak, emaknya pun tertidur nyenyak dengan perasaan lega.




Samarinda, Agustus 2016.

Hidup Secukupnya untuk Hidup yang Lebih Baik


Tujuh Belas Agustus lalu saya memerdekakan diri dari perihal mengontrak rumah. Dan kemudian terjajah lima belas tahun oleh bunga bank. Hahahaha  *ketawa miris. 

Awal tahun 2015  lalu saya juga pindahan. Dari Jakarta ke Samarinda. Meski dulu hanya tinggal dalam sepetak kamar kecil. Pindahan tetap membawa kebingungan mengenai bagaimana cara membawa serta barang-barang ikut pindah pulau.  Motor saya jual. Dan ada begitu banyak barang pritilan, yang dijual gak laku, dibuang mubazir, dibawa ke Kalimantan gak sebanding dengan ongkosnya.  Akhirnya saya berikan kepada teman dan pemulung. 

Pindahan kali ini masih dalam satu kota, namun yang namanya pindahan, selain membawa gairah dan kecemasan karena akan berhadapan dengan lingkungan baru, tentu saja membawa kerepotan.
Setelah berumah tangga, yang usianya belum genap 2 tahun, yang saya (rasanya) jarang-jarang belanja barang, ternyata perlu berkali-kali bolak balik bawa barang. 

 Dari berkardus-kardus barang yang diangkut, kuota barang paling banyak masih di pakaian dan buku. Kalau buku wajar, karena saya dagang buku. Tapi kalau baju, rasa-rasanya sudah jarang banget belanja baju atau produk fashion. Tiap mau pergi-pergi, saya kebingungan milih baju yang mana.  Baju yang dipakai kok itu-itu aja? Saya adalah orang yang memikirkan mau pakai baju apa baru saya ambil di lemari, bukan orang yang melihat ke lemari kemudian mikir mau pakai baju apa.  Karena saya hanya mampu mengingat beberapa lembar pakaian saja. Maka dari 50 lembar pakaian yang ada di lemari, yang saya pakai dalam satu bulan paling hanya 20 lembar, yang dicuci-setrika pakai-cuci-setrika-pakai.

PIndahan cuma bertiga: saya, suami, dan anak yang berusia 7 bulan, mau gak mau porsi terbesar beres-beres dan bongkar-bongkar ada pada Si Emak.  Bongkar sana sini, ketemu lagi dengan barang-barang dijual gak laku, dibuang mubazir, digunakan udah gak pernah lagi. Sambil menahan nyeri sakit pinggang dan memandangi barang-barang yang berantakan luar biasa, saya jadi memikirkan untuk hidup lebih simpel. Toh dari 100% barang yang sama miliki, paling 40% yang digunakan sehari-hari, 30% digunakan pada saat tertentu, dan sisanya 30% hanya Tuhan yang tahu kapan saya gunakan lagi. 

Kalau kata sebuah quote “ you don’t need more space,  you just need to reduce the things”.  Kalau benar-benar memprioritaskan barang dari nilau guna dan urgensi keperluan,  pasti saya dan teman-teman semua  gak akan punya barang banyak hanya untuk sekedar bertahan hidup. Apalagi rumah baru saya hanya selebaran dapur rumah orangtua dulu.

Semoga kebaikan selalu menyertai tempat tinggal kami

Agenda minggu ini, saya akan mensortir lagi barang-barang yang bisa dilelang, dan mana barang yang bisa disedekahkan. Semakin sedikit barang yang kita miliki, rasanya memang semakin lega.  Ibarat perut yang sebah, kalau udah dikeluarin,  rasanya benar-benar lega.  Badan dan hidup terasa lebih enteng :)

Yuk mari hidup simple/sederhana/secukupnya. 

·       -   Kurangi barang yang sudah tidak digunakan. Bisa dijual lagi atau diberikan kepada orang lain
·   -  Beli barang yang  kira-kira memang dibutuhkan. Godaan belanja ini sih yang bikin barang terus menumpuk. Padahal kalau mau selektif berbelanja, kita bisa nabung lebih banyak loh.

Samarinda, Agustus 2016.

Jumat, 10 Juni 2016

Evolusi 30

Sebenarnya sukses itu hanya sebatas membuat pilihan kamu mau jadi pemalas atau mau jadi orang yang pantang menyerah. Sesederhana itu.

Beda hal dengan bahagia. Bahagia itu adalah proses, bergantung pada cara pandang masing-masing dan jauh lebih kompleks dari yang bisa manusia pikirkan.

Dan sebagai manusia, dalam renungan Ramadhan kali ini, saya ingin sukses namun tetap bahagia.

Bagaimanapun manusia itu harus terus berevolusi. Menjadi baik dan terus lebih baik.
Bercita-cita dan memiliki harapan.

Evolusi usia 30 (tahun) yang saya inginkan menjelajah ke benua lain lagi: Eropa atau Australia.
Lalu bisa settle atau pindah sekalian dari Samarinda. Saya ingin kembali ke Pulau Jawa.  Menetap di Surabaya, Bandung, Jakarta, atau Balikpapan.
Bagaimanapun evolusi harus terjadi, agar bisa beradaptasi dan terus berkompetisi bersama milyaran manusia lainnya.


Masih generasi Yahoo= Foto 6 tahun yg lalu



5 ramadhan 1437 H- tepat 30 tahun usia saya dalam hitungan tahun hijriyah.

Sabtu, 30 April 2016

Bukalapak VS Tokopedia



Cerita kegagalan saya mecoba bikin usaha setahun yang lalu bisa kawan baca di artikelini.  Nah jadi sekarang, selain meng update ke media social, saya lebih banyak berjualan di dua marketplace : Tokopedia dan Bukalapak.


Terus terang berjualan menjadi lebih mudah sekaligus lebih sulit karena ada marketplace.  Lebih mudah, pertama karena traffic nya tinggi, jadi gak perlu lagi bikin akun di socmed tertentu, dan mencari follower yang banyak. Kedua, karena saya tidak berinteraksi langsung kepada pembeli, meskipun ada fitur pesan /kotak masuk, tapi untuk transaksi jual beli sendiri pedagang tinggal terima pesanan, kirim, dan uang cair. 

Kenapa  saya malas berinteraksi langsung dengan (calon) pembeli? Yang pernah jualan online pasti pernah ngerasain yang namanya di PHP pembeli. Mulai dari minta diskon, ongkir yang kemahalan, minta dikirim dengan kurir tertentu, sampai minta nomor rekening bank tertentu untuk menghindari biaya transfer antar bank. Setelah capek capek chatting, menghabiskan pulsa kalau pakai sms,  menghitung ongkir dari tiap kurir, eh ujung-ujungnya cuma dapat balasan : “oh klo gitu nanya-nanya dulu aja ya sist”. Weleh…weleh…

Bahkan di marketplace pun, “perihal nanya-nanya dulu ya sist” ini sering terjadi lewat fitur pesan pribadi. Dan berdasarkan pengalaman, hanya  1 pembeli yang melakukan transaksi dari 10 pembeli yang bertanya. 

Di sisi lain, berdagang menjadi lebih sulit. Persaingan sudah berdarah-darah. Harga sudah dijual murah, ternyata ada saja pedagang yang menjual barang lebih murah. Weleh..weleh….

 Belum lagi jumlah reseller dan dropshipper yang bukan main banyaknya. Produk yang dijual harus hebat betul agar bisa muncul di halaman pertama pencarian.   

Belakangan, seorang teman bertanya bagaimana caranya membuka toko di kedua marketplace tersebut.  Pertama-tama, tentu saja menginstall aplikasi tersebut di handphone.  Setahun yang lalu, saya memulai upload foto dan produk lewat PC, ternyata lebih ribet. 

Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman saya berdagang di Bukalapak dan Tokopedia. Dari segi aplikasi,  saya lebih suka Bukalapak : simple, ringan, gak gampang interrupt, dan loadingnya lebih cepat. Di Tokopedia, barangkali saya yang gak pernah meng-update aplikasinya, sehingga loading lama dan sering interrupt. 

View product di Tokopedia, dan jangan lupa klik Promosi, agar produk kawan bisa ditemukan dan tak harus menunggu hingga lebaran monyet


Soal traffic, saya curiga kedua marketplace ini selain mengandalkan pembeli, juga mengandalkan traffic penjual. Di Tokopedia, ada fiture promosi, dimana pemilik toko bisa mempromosikan satu produk selama satu jam.  Produk yang dipromosikan akan muncul lebih sering dipencarian dan tampil di halaman muka. Fitur promosi ini gratis. Jadi mau tidak mau, pemilik toko harus rajin-rajin berkunjung ke tokopedia tiap beberapa jam sekali untuk terus mempromosikan produknya. 

Sedangkan di Bukalapak, pelapak dapat mem-push produknya, yang fungsinya juga agar produk muncul di halaman muka atau lebih mudah diketemukan pembeli. Pelapak harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli paket push. Atau tiap kali transaksi berhasil, pelapak otomatis akan memperolah satu push gratis yang bisa digunakan kapanpun.
Belakangan, saya juga mengamati di Bukalapak memberi tanda khusus (warna tertentu) bagi pelapak yang sudah tidak login lebih dari 2 minggu. Hal ini tentu membuat ragu  pembeli yang melihat warning tersebut. ‘Jangan-jangan pelapak ini sudah tidak jualan lagi’, begitu mungkin pikiran calon pembeli. Sehingga mau tidak mau, sebagai pelapak tetap harus rajin-rajin login, dan bersama-sama meramaikan traffic marketplace ini.  

Dari segi fitur di aplikasi, tokopedia lebih ‘ribet’, namun juga lebih menguntungkan. Misalnya, setiap pemilik toko bisa memiliki beberapa etalase. Jadi kalau saya mau jual buku dan jual kopi, saya bisa bikin dua etalase. Di Bukalapak, tidak ada system etalase. Jualan produk berbeda, tetap tambil bersama-sama di pajangan produk selama pelapak hanya memiliki satu akun.  

Di Tokopedia, fitur berbagi produk (share) mengizinkan pemilik toko  mentautkan gambar produk dari tokopedia ke  akun instagram atau facebook. Hal ini sangat memudahkan kalau Kawan juga memiliki akun socmed untuk berjualan, dan sangat membantu kalau Kawan berjualan melalui system reseller atau dropshipper. Di Bukalapak, setahu saya, fiture berbagi produk (share) ini hanya mengizinkan pelapak berbagi link produk di bukalapak ke akun media social yang ditautkan. 

Sedangkan dari sisi stok barang, jika saya berjualan di Bukalapak, dan menuliskan bahwa stok barang hanya 1, setelah barang terjual maka otomatis barang tersebut tidak akan tampil lagi di pajangan produk pelapak. Sedangkan di Tokopedia, ketika barang sudah terjual, meskipun saya hanya menuliskan bahwa stok barang cuma 1, barang akan tetap berada di etalase. Inilah sebabnya di Tokopedia saya seringkali menerima pesan dari calon pembeli menanyakan apakah stok barang ready, yang ujung-ujungnya menjadi kasus  ‘nanya-nanya dulu aja ya sist’. Weleh-weleh…
Mobile aplikasi Bukalapak



Well, begitulah pengalaman dan pengamatan saya selama menjadi pelapak dan pemilik toko (online). Semoga tulisan ini membantu teman-teman semua yang ingin memulai usaha (online). Dan semoga kita semua dijauhkan dari kasus ‘nanya-nanya dulu aja ya sist’.  Weleh…weleh…..